Gubernur Kalimantan Utara (Kaltara) Dr. H Irianto Lambrie bersama Bupati Tana Tidung,  Undunsyah dan  Nunukan Hj Asmin Laura menyaksikan PT Pertamina Hulu Energi (PHE) Simenggaris dan PT Medco E&P Simenggaris menandatangani perjanjian jual beli gas (PJBG) dengan perusahaan lokal PT Kayan LNG Nusantara secara virtual, Rabu (21/5/2020). (Foto Infopubdok Kaltara)

TANJUNG SELOR.NIAGA.ASIA-PT Pertamina Hulu Energi (PHE) Simenggaris dan PT Medco E&P Simenggaris menandatangani perjanjian jual beli gas (PJBG) dengan PT Kayan LNG Nusantara secara virtual, Rabu (21/5/2020) dan disaksikan  Gubernur Kalimantan Utara (Kaltara) Dr. H Irianto Lambrie.

Dalam kesepakatan PJBG akan menyuplai kebutuhan gas bagi kilang mini LNG pertama di Indonesia yang dibangun dan dioperasikan PT Kayan LNG Nusantara di Kecamatan Tana Lia, Kabupaten Tana Tidung, Provinsi Kaltara.

“Saya ikut menyaksikan penandatanganan PJBG tersebut bersama Bupati Tana Tidung Bapak Undunsyah dan Bupati Nunukan Ibu Hj Asmin Laura,” kata Irianto.

Penandatanganan PJBG dilakukan oleh Afif Saifudin selaku Direktur Utama PT PHE Simenggaris, Ronald Gunawan selaku Direktur Utama PT Medco E&P Simenggaris, Antony Lesmana selaku Direktur PT Kayan LNG Nusantara, dan disaksikan oleh Deputi Keuangan dan Monetisasi SKK Migas, Arief S Handoko serta Owner Kayan Group, Juanda Lesmana.

Menurut gubernur, penandatanganan PJBG ini sebuah momen penting karena menjadi yang pertama menggunakan skema bisnis LNG downstream di Indonesia, dimana PT Kayan LNG Nusantara yang notabene adalah perusahaan lokal Kaltara akan membeli gas dari produsen gas JOB Pertamina-Medco E&P Simenggaris, kemudian melakukan proses liquefaction terhadap gas menjadi LNG dan disimpan dalam LNG isotank untuk dikapalkan langsung menuju offtakers.

“Dengan total volume penjualan gas sebesar 22 juta kaki kubik per hari (MMSCFD), diestimasikan pengaliran dan penyerapan gas akan dimulai pada akhir Desember 2021.” Ungkapnya.

PJBG ini merupakan tindak lanjut dari penetapan alokasi gas dari Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral tertanggal 23 April 2019 dan penetapan harga gas dari Menteri ESDM tertanggal 16 Oktober 2019.

Dalam konteks pembangunan lokal,  kata gubernur, Pemprov berharap kerjasama ini memberi multiplier effect bagi perekonomian di Kabupaten Tana Tidung dan Kabupaten Nunukan, serta Provinsi Kaltara pada umumnya.

“Kilang mini LNG di Simenggaris juga diharapkan menjadi pool bagi pengembangan lapangan-lapangan gas lainnya di Kaltara yang belum termonetisasi agar dapat dikomersialisasikan,” sambungnya.

Teknologi penyimpanan LNG di Simenggaris dalam LNG Isotank dan kemudian dikapalkan menggunakan barge, diharapkan menjadi pionir bagi skema virtual pipeline distribusi gas di dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan gas/LNG dalam skala kecil di pulau-pulau terpencil di Indonesia.

Pemprov Kaltara sebelumnya telah berusaha mendorong dan memfasilitasi PT Kayan LNG Nusantara bertemu dengan sejumlah pihak yang terkait degan rencana investasinya. Termasuk dalam hal penerbitan izin yang diperlukan, Pemprov Kaltara memberikan pelayanan yang maksimal.

“Kita akan terus mendukung upaya-upaya investasi. Harapan kita juga di 2021 akhir sudah dapat disaksikan peresmian LNG mini di Tana Tidung. Itu tidak saja menyerap tenaga kerja tetapi mendorong peningkatan PAD, ekonomi nasional dan daerah, termasuk juga sisi lifting migas,” kata gubernur.

Yang terpenting lagi, semua pihak baik Pertamina, Medco, SKK Migas PHE, PT Kayan LNG, Kementerian ESDM termasuk pemerintah daerah di Kaltara harus terus mengawal terwujudnya pemanfaatan gas alam ini. Prosesnya sampai ke sini cukup banyak. Dalam dua tahun ini banyak sekali suka dukanya.

“ Saya tahu Pak Juanda Lesmana gigih melakukan investasi ini,” kata gubernur.

Sementara  General Manager JOB Pertamina-Medco E&P Simenggaris, Budi Prabowo mengatakan,  bahwa PJBG ini bisa menjadi pionir monetisasi gas di lapangan-lapangan gas di Indonesia yang berukuran marjinal dan terletak di remote area seperti Simenggaris.

“PJBG sebesar 22 MMSCFD ini merupakan PJBG ketiga di Wilayah Kerja Simenggaris, Kaltara. PJBG pertama adalah dengan PLN Kaltim, dengan volume 500 ribu kaki kubik gas per hari untuk memasok kebutuhan kelistrikan PLN di Kabupaten Tana Tidung,” kata Budi.

PJBG kedua adalah PJBG dengan PT PLN (Persero) dengan volume 8 MMSCFD, bagi kebutuhan kelistrikan di Kaltara dan sekitarnya, sehingga WK Simenggaris akan menjual gas dengan total volume 30 juta kaki kubik kepada pembelinya untuk kebutuhan domestik maupun ekspor.

Kendati bukan PJBG pertamanya, PJBG kali ini dianggap memiliki sejumlah nilai strategis pertama dalam bisnis energi dan sumber daya mineral di Indonesia. “Saya pun mengapresiasi komitmen Pertamina sebagai BUMN dan Medco Energi sebagai perusahaan migas dalam negeri untuk meningkatkan produksi migas,” ujarnya.

Keduanya berusaha keras mengembangkan dan memproduksi gas dari bumi Indonesia bagi kepentingan bangsa dan negara, meskipun pengembangan lapangannya sulit dan terletak di remote area. (adv)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *