Catatan: SB Silaban

Ada 3 perempuan yang agak menarik perhatian saya beberapa hari terakhri ini. Rita. Dona. Suraidah. Usia ketiganya tak terpaut jauh.
Rita? Ya, dugaan Anda tepat. Rita yang Widyasari itu. Mantan Bupati Kukar. Yang sudah 9 tahun dalam bui. Sejak sebagai tersangka hingga jadi terpidana korupsi gratifikasi. Beberapa hari terakhir nama Rita mengemuka lagi. Setelah 3 korporasi batu bara, dijadikan sebagai tersangka. Terkait gratifikasi yang diterima Rita. Jumlahnya? Diduga cukup utk membeli 50 mobil sangat mewah Range Rover Autobiography yg dibeli sebagai mobil dinas Gubernur Kaltim.
Menggelitik, sebagian netizen yang meramaikan perkembangan terbaru kasus Rita itu justru mengaitkannya dengan ini: sepertinya dia dijegal agar tak bisa menjadi calon KT 1 atau Kukar 1. Dugaan yg menurut saya mengada-ada. Sebab kalaupun Rita bebas pada 2017 atau 2018, tak lantas dia bisa berkontestasi politik. Hak politiknya dicabut selama 5 tahun setelah bebas. Saya termasuk yang pernah berharap Rita akan ke puncak politik Kaltim. Jadi gubernur.
Lalu Donna yang putera mantan Gubernur Awang Faroek (alm). Dia sedang disidangkan dalam kasus korupsi gratifikasi. Dia pernah jadi anggota saya di Bidang Kerja Sama Dalam dan Luar Negeri KONI Kaltim.
Sama dengan Rita, Donna juga merintis karir politik. Terakhir sebagai calon wabup PPU di Pilkada 2024. Hasilnya: kalah. Dibandingkan Rita yang anak mantan bupati Kukar, Syaukani HR, perjalanan Donna memang kalah moncer.
Satu hal bikin mereka sama: tersandung kasus hukum. Sayang sekali.
Yang terakhir: Suraidah. Ada sebutan Sarifah di depan namanya. Posisinya mentereng: Anggota DPR RI. Sekaligus: istri Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud. Yang sedang diserang netizen se-Nusantara. Karena membeli mobil dinas sangat mewah. Yang baru saja dikembalikan ke pemasoknya.
Suraidah, sejak pekan lalu, jadi sorotan. Bukan karena kinerjanya sebagai wakil rakyat. Tapi karena penampilannya (baca: pakaian dan asesorisnya). Terkadang seperti princess alias puteri. Kadang-kadang bak sosialita. Lengkap dengan topi. Terkadang seperti noni atau nyonya Belanda. Sampai-sampai di sebuah video, seorang netizen bilang: dia istri Gubernur Kaltim, atau gubernur kolonial Belanda?
Sorotan netizen itu bikin saya lebih mengamati penampilannya. Harus diakui, penampilan Suraidah memang agak berlebihan. Dalam video2 yang beredar, saya melihat penampilan yang belum pernah saya lihat di istri-istri gubernur sebelumnya: Ibu Norbaiti Isran (alm), Ibu Amelia Faroek, Ibu Nelly Suwarna (alm). Tidak juga Ibu Farida Ardans (alm). Meskipun yg disebut terakhir ini, seingat saya, sering memakai barang-barang high branded.
Jika harus membandingkan, apa boleh buat, perbandingan yang agak apple to apple adalah Suraidah dengan: Sherly Tjoanda. Yang gubernur Maluku Utara itu. Sama-sama kepala 4, sama-sama politisi. Sama-sama dari keluarga kaya raya.
Anda sudah tahulah ya. Dalam kesempatan apapun, Sherly tampil oke. Entah dalam pakaian dinas, kasual, maupun gaun pesta. Sherly beruntung, dia putih dan cantik. Cantik walaupun hanya dengan make-up tipis. Tanpa topi fashion, tanpa soft atau contact lens. Plus: ramping bak gadis muda.
Kritik netizen terhadap penampilan Suraidah, sebaiknya tak ditanggapi dengan kritik balik model begini: netizen meng-ghibah. Seperti reaksi sang suami terhadap kritik terhadap mobil mewahnya.
Suraidah sebaiknya memang mengoreksi penampilannya. Dia berhak dan harus tampil rapi serta chic. Tapi tak perlu perlulah pakai topi fashion atau mantel bulu. Terutama saat berjumpa dengan warga. Ada momen lain di mana istri gubernur bisa tampil habis-habisanan. Misalnya: saat menghadiri peragaan busana oleh perancang papan atas. Atau saat high tea dengan istri-istri gubernur lainnya.
Istri Wapres, Selvi Ananda, pun tampil sewajarnya saja. Walaupun dengan high branded fashion.
Suraidah bisa mengukur penampilannya dengan istri gubernur-gubernur lainnya. Tak sulit kan?
Gubernur Rudy Mas’ud sedang diserang netizen se-Indonesia. Sayang sekali jika penampilan Suraidah justru menambah amunisi terhadap serangan itu.
Eh, salah satu tim hore Gubernur bilang begini: jangan lihat penampilannya. Lihatlah kinerjanya.
Pertanyaannya: ada yang tahu bagaimana kinerja Suraidah sebagai Anggota DPR RI? Apa yang sudah dia perbuat? Apa karyanya bagi Kaltim setelah 1,5 tahun sebagai legislatif?
Hati-hati tim hore. Respons anda bisa membuat api (semakin) menyala.
Tag: OpiniSarifah Suraidahsilaban