Catatan Rizal Effendi

Apakah Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud punya interest lain di Bankaltimtara?. Hanya dia yang tahu, tapi fakta menunjukkan dia terkesan semakin mengesampingkan sumber daya manusia lokal sejak menjadi gebernur, dan sepertinya sangat memetingkan hasratnya, meski harus “impor” pemimpin dari luar atau daerah tertentu. Mungkin ini termasuk konsepnya untuk menjaga “marwahnya” Kaltim.
Hanya menunggu waktu direktur utama Bankaltimtara segera diganti. Malah Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud terkesan sudah tak sabar. Bocoran dari RUPS terakhir sebelum lebaran begitu. Hanya Gubernur Kaltara Zainal Arifin Paliwang yang meminta prosesnya setelah lebaran saja.
Kursi Dirut Bankaltimtara saat ini diduduki Muhammad Yamin. Dia orang daerah, lulusan Fakultas Ekonomi Unmul dan lama berkarier di Bankaltimtara. Dia dilantik 11 September 2020 menjadi dirut ke-6 setelah Zainuddin Fanani.
Sebenarnya masih dua tahun lagi masa jabatan Yamin di periode kedua ini (2024-2028), tapi Gubernur Rudy Mas’ud mewakili pemegang saham terbesar atau pemegang saham pengendali (PSP) dalam RUPS Tahun Buku 2025 meminta dilakukan percepatan penggantian.
Alasan penggantian M Yamin masih belum jelas. Ketua Komisi II DPRD Kaltim, Sabaruddin Panrecalle menyatakan pihaknya belum mendapat penjelasan resmi dari pemegang saham. “Kami Komisi II tidak dilibatkan dalam prosesnya. Bahkan kami baru mengetahui dari pemberitaan media,” katanya.
Dalam RUPS lalu, Gubernur yang bisa disebut dengan Rudy Mas’ud juga tidak menjelaskan secara rinci di balik percepatan penggantian dirut tersebut. “Banyak kepala daerah yang mewakili pemegang saham minoritas bertanya-tanya,” tulis NIAGA.ASIA.
Awan, founder SELASAR.CO membuat video berjudul: “Ada Utang di Balik Batu??” Judul itu dia kaitkan dengan penggantian Dirut Bankaltimtara.
Calon pengganti Yamin ada dua. Yaitu Romy Wijayanto dan Amri Mauraga. Sudah lulus tes dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Jadi tinggal dipilih oleh Gubernur sebagai Pemegang Saham Pengendali (PSP)
Amri pernah menjabat sebagai Dirut Bank Sulselbar (Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat), tapi mengundurkan diri dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Februari 2022. Alasannya tidak begitu jelas. Tapi pasti ada sesuatu sampai dia mundur. Amri adalah pegawai Bank Sulselbar yang tak pernah menduduki jabatan direktur, tapi tiba-tiba jadi direktur utama.
Dalam catatan media, Amri dikenal akrab dengan mantan Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah. Bank Sulselbar yang dipimpinnya pernah memberikan bantuan Rp400 juta ke masjid milik sang gubernur di Kawasan Pucak Maros. Ketika Nurdin diadili dalam kasus korupsi infrastruktur, Amri sempat ditarik sebagai saksi.
Sedang Romy datang dari Jakarta. Dia mantan Direktur Keuangan & Strategi Bank DKI. Sebagai bukti keandalannya, dia banyak meraih penghargaan. Di antaranya Best Chief Financial Sustainability Through Inclusive Growth and Risk Management. Dia juga merupakan salah satu dari 20 Direktur Keuangan/Chief Financial Officer (CFO) terbaik dari berbagai industri.
Selain Amri, Romy menurut kabar juga sempat bermasalah. Dia juga keluar dari Bank DKI karena sesuatu. Hebatnya, keluar dari Banksulselbar dan Bank DKI, tapi bisa tembus alias ditampung di Bankaltimtara.
Karena itu, siapapun yang terpilih dari kedua calon ini, kita tidak “happy.” Kualitasnya mungkin oke, tapi ada sesuatu yang hilang. Tradisi kepemimpinan di Bankaltimtara yang selama ini selalu dari SDM lokal atau daerah akhirnya terpatahkan. Padahal itu yang kita banggakan, kualitas orang daerah tidak kalah dengan orang luar.
Sebelum Yamin, ada Zainuddin Fanani. Di belakangnya lagi ada Aminuddin. Mereka semuanya jadi Dirut dengan merintis karier bertahun-tahun di Bankaltimtara. Jadi mereka tahu betul kondisi Kaltim dan Bankaltimtara. Darah mereka asli darah Kaltim. Darah Bankaltimtara.
Selain Dirut, Rudy Mas’ud juga mengganti “dua srikandi” Bankaltimtara, yaitu Direktur Kredit Siti Aisyah dan Direktur Operasional dan Manajemen Risiko Yenni Israwati.
Apa tidak ada calon dari Bankaltimtara? Ternyata ada, baik di pos Dirut maupun Komisaris Utama (Komut). Dia adalah Ivan Kusnandar, Pemimpin Divisi Pengelolaan Aset Tetap dan Ismunandar Azis, mantan Direktur Kredit. Tapi keduanya terlempar. Apakah di tahapan penilaian teknis atau karena unsur like and dislike dari PSP? Kita tidak tahu persis. Tapi nuansa itu terasa memang ada.
Calon Komut baru adalah Achmad Syamsuddin. Dia mantan Dirut BPD Sumatera Selatan dan Bangka Belitung (Sumsel Babel). Dia pernah menjadi Managing Director PT Bank Syariah Mandiri, Senior Vice President/Project Manager PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, dan Financial Technology for Syariah Segment including Consultancy & Education.
Komut Bankaltimtara sebelumnya adalah Zainuddin Fanani, mantan Dirut. Tapi Rudy Mas’ud sepertinya memang tak mau orang dalam lagi. Zainuddin distop alias tidak diperpanjang lagi. Sambil menunggu Komut definitif, komisaris independen Prof Eny Rochaida diangkat menjadi pelaksana tugas (Plt.)
Sebenarnya sempat ada calon Komut dari Balikpapan. Namanya Imansyah, mantan OJK Pusat. Tapi karena proses Komut Bankaltimtara terlalu lama, dia malah “hijrah” menjadi komisaris di Perusahaan Induk Konglomerasi Keuangan.

Per Desember 2024, komposisi modal disetor, kepemilikan saham Bankaltimtara terbesar yakni Pemprov Kaltim yakni Rp5,1 triliun atau setara 66,49% saham, dan kedua terbersar adala Pemkab Kutai Kartanegara Rp596 miliar atau 7,77% dari total modal Bankaltimtara,7,670 triliun.
Pemegang saham Bankaltimtara adalah Pemerintah Provinsi Kabupaten dan Kota Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara dengan persentase sebagai berikut: (1) Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur sebesar 66,49%; (2). Pemerintah Kota & Kabupaten se-Kalimantan Timur sebesar 22,64%. Kemudian (3) Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara 3,32%; dan (4) Pemerintah Kota & Kabupaten se-Kalimantan Utara 7,55%.
Berkat itu pula, maka posisi Bankaltimtara masuk dalam kelompok Bank Kategori KBMI 2. Yaitu kelompok bank dengan modal inti dengan ekuitas antara 6 sampai 14 triliun rupiah.
Yamin juga membawa Bankaltimtara ikut berkiprah di Ibu Kota Nusantara (IKN). Dia merencanakan membangun kantor cabang khusus di IKN. Tidak tanggung-tanggung, karena Presiden Jokowi yang langsung melakukan grounbreaking pada 1 Maret 2024.
Karena dianggap sukses, Yamin dipercaya oleh pemegang saham meneruskan masa jabatannya ke periode kedua 2024-2028. Periode pertama 2020 sampai 2024.
Dengan berbagai keberhasilannya itu, Yamin juga banyak dianugerahi berbagai penghargaan, baik untuk Bankaltimtara maupun dia pribadi sebagai seorang pemimpin bank daerah yang sangat menonjol.
Majalah Infobank pernah menobatkannya sebagai salah satu TOP 100 CEO Terbaik 2023. Terakhir pada tahun 2025, Yamin juga dinobatkan sebagai TOP CEO BUMD 2025 oleh majalah TopBusiness. Pada saat yang sama, Gubernur Rudy Mas’ud bersama Gubernur Kaltimtara Zainal Arifin Paliwang menerima penghargaan TOP Pembina BUMD 2025.
Dalam kaitan “ngebon” pemimpin luar, saya jadi teringat narasi yang disampaikan Sudarno, mantan juru bicara Tim Kemenangan Rudy Mas’ud-Seno Aji, yang sekarang ada di Tim Ahli Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TAGUPP).
Sudarno sempat mengkritisi masuknya dua dosen Unhas ke Dewan Pengawas (Dewas) rumah sakit milik Pemprov Kaltim. Dia bilang selain beraroma capital outflow atau pelarian uang ke luar, juga menyakiti atau menzalimi SDM lokal atau orang daerah. Tapi dalam kasus Dirut Bankaltimtara saya tidak tahu apakah Sudarno masih bisa berteriak vokal seperti kemarin?
Tag: Bankaltimtara