Rumitnya Pembicaraan dengan IMF Karena Sri Lanka Bangkrut

Perdana Menteri Sri Lanka Ranil Wickremesinghe saat wawancara dengan The Associated Press di Kolombo, Sri Lanka, 11 Juni 2022 (AP Photo/Eranga Jayawardena)

KOLOMBO.NIAGA.ASIA — Perundingan Sri Lanka dengan Dana Moneter Internasional mengenai dana talangan lebih kompleks dan sulit dari sebelumnya karena Sri Lanka adalah negara yang bangkrut. Demikian pernyataan Perdana Menteri Ranil Wickremesinghe, Selasa.

Wickremesinghe mengatakan kepada anggota parlemen bahwa diskusi baru-baru ini dengan misi kunjungan IMF membuahkan hasil tetapi tidak semudah di masa lalu.

Negara kepulauan di Asia Selatan itu berada dalam krisis ekonomi terburuk dalam ingatan Wickremesinghe. Penduduknya sangat kekurangan bahan pokok, makanan, bahan bakar, gas untuk memasak dan obat-obatan, dan harus menunggu dalam antrean panjang untuk membeli persediaan yang terbatas.

Pemerintah telah menutup sekolah dan meminta karyawan selain yang memiliki layanan penting untuk bekerja dari rumah.

“Negara kami telah mengadakan pembicaraan dengan IMF pada banyak kesempatan sebelumnya. Tapi kali ini situasinya berbeda dari semua kesempatan sebelumnya. Di masa lalu, kami telah mengadakan diskusi sebagai negara berkembang,” kata Wickremesinghe, dikutip niaga.asia dari The Associated Press, Selasa.

“Tapi sekarang situasinya berbeda. Kami sekarang berpartisipasi dalam negosiasi sebagai negara bangkrut. Oleh karena itu, kita harus menghadapi situasi yang lebih sulit dan rumit,” katanya saat menjelaskan peta jalan pemulihan ekonomi negaranya.

Wickremesinghe mengatakan sebelumnya bahwa perjanjian awal tentang bailout telah diajukan ke dewan direksi IMF untuk disetujui.

“Tapi karena keadaan negara kita bangkrut, kita harus menyerahkan rencana keberlanjutan utang kita kepada mereka secara terpisah. Hanya ketika mereka puas dengan rencana itu, kami dapat mencapai kesepakatan di tingkat staf. Ini bukan proses langsung,” terang Wickremesinghe.

Seorang pengendara motor mendorong sepeda motornya bersama pengendara sepeda di tengah kelangkaan bahan bakar di Kolombo, Sri Lanka, Selasa, 5 Juli 2022 (AP Photo/Eranga Jayawardena)

Dia mengatakan penasihat hukum keuangan Sri Lanka sedang mengerjakan laporan keberlanjutan utang yang akan diserahkan pada bulan Agustus mendatang.

Diskusi sedang berlangsung dengan India, Jepang dan China untuk membentuk konsorsium bantuan setelah kesepakatan tingkat staf dengan IMF tercapai, lanjut Wickremesinghe.

Sri Lanka menangguhkan pembayaran utang luar negeri senilai sekitar USD 7 miliar yang jatuh tempo tahun ini karena tingkat valuta asingnya jatuh ke rekor terendah. Total utang luar negeri negara itu adalah USD 51 miliar, di mana USD 28 miliar di antaranya harus dilunasi pada tahun 2027, dengan pembayaran rata-rata sekitar USD 5 miliar per tahun.

Orang-orang yang frustrasi telah mengadakan protes jalanan selama berbulan-bulan dan sering bentrok di antara mereka sendiri dan dengan polisi saat antre distasiun pengisian bahan bakar.

Wickremesinghe mengatakan Bank Sentral memperkirakan kontraksi ekonomi 4% hingga 5% tahun ini. IMF memperkirakan ekonomi Sri Lanka akan menyusut 6% menjadi 7%.

Ekonomi Sri Lanka telah dihancurkan oleh pandemi, yang memperparah masalah salah urus ekonomi yang sudah berlangsung lama. PDB Sri Lanka turun menjadi USD 76,2 miliar pada 2021, turun dari USD 94,4 miliar pada 2018 dan tidak akan pulih ke level pada 2018 hingga 2026, kata Wickremesinghe.

Dia juga mengatakan salah satu target pemerintah adalah mencapai pertumbuhan minus 1% pada akhir tahun depan.

Sumber : The Associated Press | Editor : Saud Rosadi

 

Tag: