aa
Hasiran Bin Sidik (58). (Foto Istimewa)

NUNUKAN.NIAGA.ASIA-Mengeluhkan sakit pada bagian dada, seorang tenaga kerja Indonesia (TKI)  yang dideportasi dari Malaysia ke Nunukan, meninggal dunia pada, Sabtu (28/9/2019) pukul 07:00 Wita, setelah sempat menjalani perawatan medis selama 2 hari di Rumah Sakit Umum Daerah(RSUD) Sei Fatimah Nunukan.

Almarhum Hasiran Bin Sidik (58) terdaftar dalam rombongan 128 orang TKI bermasalah yang dikirimkan oleh Imigrasi Malaysia kepada Konsulat RI Tawau, Malaysia untuk dilakukan deportasi pada tanggal 26 September 2019 ke Kabupaten Nunukan.

“Hasiran adalah TKI  yang bekerja di ladang sawit Lahaddatu, Sabah, Malaysia,” kata Kepala Balai Pelayanan Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Nunukan, AKBP Hotma Victor Sihombing, Senin (30/9/2019).

Sebelum dideportasi ke wilayah Nunukan, almarhum menjalani hukuman tanahan di Pusat Tahanan Sementara (PTS) Tawau selama 2 bulan karena masuk dan beraktifitas dilaur Malaysia tanpa dilengkapi dokumen keimigrasian (Paspor).

aa
Kepala BP3TKI Nunukan AKBP. Hotma Victor Sihombing. (Foto Budi Anshori/Niaga.Asia)

Keluhan sakit yang dialami almarhum diketahui saat rombongan deportasi tiba di pelabuhan Nunukan. Saat hendak dilakukan pendataan dan pemeriksaan, Hasiran mengeluhkan sakit dibagian dada, petugas BP3TKI meminta PMI Nunukan untuk memeriksa kesehatannya.

“PMI melakukan rujukan ke RSUD Nunukan, setelah 2 hari menjalani rawat inap, dokter RSUD mengabarkan pasen bernama Hasiran meninggal dunia,” kata Hotma.

Paska meninggalnya PMI, BP3TKI kesulitan melacak alamat tempat tinggalnya, almarhum tidak membawa dokumen pengenal baik sebagai warga yang lahir di wilayah Indonesia ataupun TKI yang telah bertahun-tahun  tinggal di Malaysia.

Penelusuran data pribadi Hasiran diperoleh BP3TKI setelah membongkar tas bawaanya, ditemukan kertas kecil bertulisan tiga nomor telepon Malaysia yang salah satunya aktif dan terhubung atas nama Norhayani anak kandung dari Hasiran.

“Kami sempat kesulitan menghubungi keluarga almarhum, syukurlah ada cacatan kecil nomor telp dan ternyata itu nomor telp anaknya yang berdomisili di Malaysia.” bebernya.

Kabar meninggalnya Hasiran disampaikan pula kepada sanak kelaurga laainnya, lewat komunikasi telp, BP3TKI Nunukan mengirimkan foto almarhum saat menjalani perawatan di RSUD Nunukan untuk memastikan apakah benar keluarga mereka.

Hasiran bersama istri dan anak-anaknya telah puluhan tahun bermukim di Malaysia, karena lamanya bekerja disana, istri almarhum hampir melupakan bahasa Indonesia, begitu pula anak-anaknya tidak fasih berbahasa Indonesia.

“Anak-anaknya lahri dan besar di Malaysia dan sepertinya belum pernah pulang ke Indonesia,” ungkap Hotma.

Terhadap jenazah Hasiran, BP3TKI mendapat kabar keluarga almarhum akan datang ke Nunukan untuk mengikuti prosesi pemakaman jenazah, pihak keluarga merelakan jika orang tuanya disemayamkan di Nunukan. “Jika tidak ada halangan, hari ini jenazah dikebumikan di Nunukan dengan disaksikan pihak kelurga,” tutupnya. (002)

 

.

 

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *