Kabut asap terlihat di kawasan Samarinda Ilir. Tampak 2 hotel Ibis dan Mercure di Jalan Mulawarman. (Foto : Niaga Asia)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA – Kota Samarinda lebih sepekan ini mulai dikepung kabut asap kiriman kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), di kabupaten dan kota lain di Kalimantan Timur. Namun sayangnya, ibu kota provinsi ini, tidak punya alat ukur kualitas udara.

Kawasan yang terlihat kabut asap yang mulai menebal seperti di kawasan Palaran, Samarinda Seberang, serta di kawasan Samarinda Utara, dan Sungai Kunjang.

Sejumlah warga yang ditemui Niaga Asia siang dan sore ini tadi, menyayangkan Samarinda yang kelak akan jadi salah satu kota penyangga ibu kota negara (IKN), tidak memiliki alat pengukur kualitas udara.

“Saya dulu, pernah lihat alat ukur itu di simpang Lembuswana. Tapi, sekarang alat itu sudah lama tidak ada. Rusak, tidak diperbaiki, akhirnya dilepas,” kata Ali Yanoor (41), warga Jalan Ir H Juanda, ditemui di kawasan Jalan Basuki Rahmad, sore ini tadi.

Sementara Rusman (43), warga lainnya juga menyatakan, sudah seharusnya ibu kota provinsi memiliki alat ukur kualitas udara, yang terpasang di kawasan padat lalu lintas.

“Karena dari situ, bisa diketahui tingkat polusi udara. Kan sama-sama tahu, Samarinda ini semakin banyak motor dan mobil. Belum lagi lalu lalang truk, berasap hitam,” ujar Rusman.

“Iya, harus sudah ada itu alat ukur udara. Nggak ada jaminan udara Samarinda sehat terus. Selain sudah banyak kendaraan sekarang ini, belum lagi polusi debu,” tambah warga lainnya, Pratiwi. (006)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *