aa

PAUD tempat hilangnya balita Yusuf (foto : Niaga Asia)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA-Penyidik Polresta Samarinda resmi menetap pengasuh PAUD Jannatul Athfaal, Marlina (26) dan Tri Suprana Yanti (52) sebagai tersangka dalam  almarhum Ahmad Yusuf, balita berumur 4 tahun yang hilang  16 hari dan ditemukan mengenaskan dalam kondisi tanpa kepala hingga di Kelurahan Air Putih, Minggu (8/12/2019) lalu.

Polisi menjeratnya kedua tersangka yang hari ini, Rabu (22/1/2020)  mulai ditahan dengan sangkaan melanggar pasal 359 KUHP. “Sesuai SOP di PAUD, kedua tersangka sedang jadwal jaga. Ini terkait kelalaiannya,” kata Kasat Reskrim Polresta Samarinda Kompol Damus Asa.

baca juga:

Dua Pengasuh PAUD Tersangka Kasus Balita Yusuf yang Ditemukan Tanpa Kepala

Dua Tersangka Kasus Balita yang Ditemukan Tanpa Kepala Ditahan!

Pasal 359 KUHP berbunyi: “Barang siapa karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan orang lain mati, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau pidana kurungan paling lama satu tahun.”

aa
Dua tersangka pengasuh PAUD Jannatul Athfaal saat masuk ke Mapolsek Samarinda Ulu, Jalan Ir H Juanda, Selasa (21/1) malam ini dan hari ini resmi ditahan. (Foto : Niaga Asia)

Ahli hukum R. Soesilo dalam bukunya yang berjudul “Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Serta Komentar-Komentarnya Lengkap Pasal Demi Pasal”,  menjelaskan  Pasal 359 KUHP bahwa “karena salahnya” sama dengan kurang hati-hati, lalai lupa, amat kurang perhatian.

Dalam hukum pidana, kelalaian, kesalahan, kurang hati-hati, atau kealpaan disebut dengan culpa. Prof. Dr. Wirjono Prodjodikoro, S.H., dalam bukunya yang berjudul Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia (hal. 72) mengatakan bahwa arti culpa adalah “kesalahan pada umumnya”, tetapi dalam ilmu pengetahuan hukum mempunyai arti teknis, yaitu suatu macam kesalahan si pelaku tindak pidana yang tidak seberat seperti kesengajaan, yaitu kurang berhati-hati sehingga akibat yang tidak disengaja terjadi.

Sedangkan, Jan Remmelink dalam bukunya yang berjudul Hukum Pidana (hal. 177) mengatakan bahwa pada intinya, culpa mencakup kurang (cermat) berpikir, kurang pengetahuan, atau bertindak kurang terarah.

Menurut Jan Remmelink, ihwal culpa di sini jelas merujuk pada kemampuan psikis seseorang dan karena itu dapat dikatakan bahwa culpa berarti tidak atau kurang menduga secara nyata (terlebih dahulu kemungkinan munculnya) akibat fatal dari tindakan orang tersebut – padahal itu mudah dilakukan dan karena itu seharusnya dilakukan.

Sumber: hukumonline.com

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *