Sekretaris Satpol PP Kota Samarinda Syahrir saat diwawancarai di Balai Kota, Selasa (13/8). (Foto : Niaga Asia)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA – Satpol PP Kota Samarinda angkat bicara soal 8 pemuda memar dan terluka diduga dianiaya petugas Satpol PP, saat razia KTP di arena biliar dan warung kopi di Jalan KH Wahid Hasyim, Jumat (9/8) malam lalu. Aparat penegak Perda itu tidak masalah kasus itu berujung ke polisi.

“Anggota yang bertugas itu bela diri saja. Waktu itu, mau periksa (identitas), ada keberatan, ada cekcok,” kata Sekretaris Satpol PP Kota Samarinda Syahrir, ditemui Niaga Asia di Balai Kota, Selasa (13/8).

Syahrir pun menanggapi pelaporan korban ke Polresta Samarinda. Satpol PP menurut Syahrir, akan kooperatif memenuhi permintaan kepolisian untuk kepentingan penyidikan. “Kita dari Satpol, serahkan ke jalur hukum saja. Tidak ada masalah,” ujar Syahrir.

“Kalau memang tidak ada jalan keluar (mediasi temui jalan buntu), kita tetap kooperatif. Kita tetap bela anak buah kita. Artinya mereka jalankan tugas dengan baik,” kilah Syahrir.

Syahrir menerangkan, kegiatan razia THM dan identitas saat itu, untuk mengamankan Perda dan surat edaran Wali Kota dalam rangka mengamankan lebaran Iduladha. “Tidak ada aturan memukuli. Karena mungkin terpancing juga. Sudah ditegaskan, di lapangan tidak boleh memukul,” sebut Syahrir.

Ditanya lebih jauh dengan kejadian itu apakah petugas Satpol PP melanggar aturan? Setelah sempat terhenti bicara, Syahrir akhirnya menjawab pertanyaan itu. “Iya, tergantung dari awalnya gimana, permulaannya gimana? Ya mungkin terpancing juga. Anggota kan juga manusia biasa,” bela Syahrir.

Demo kelompok mahasiswa tuntut Kasatpol PP Samarinda M Darham dicopot (foto : Niaga Asia)

Syahrir pun menjawab dugaan pengerusakan warung kopi saat kejadian, yang juga jadi materi laporan ke kepolisian. “Warung itu warung kecil saja, warung biasa saja. Rombong ada, ada meja. Ya nggak jadi masalah, kita taat hukum saja (dilaporkan ke polisi),” terang Syahrir.

Kembali ditanya respons dia terkait kemungkinan pemeriksaan anggota Satpol PP sebagai saksi berujung jadi tersangka, Syahrir kembali melontarkan jawabannya.

“Kita tidak harapkan sampai ke situ. Kita masih tempuh mediasi. Korban tidak mau terima. Termasuk kuasa hukum. Kita hargai proses hukum saja,” demikian Syahrir.

Pagi hingga siang ini, kelompok mahasiswa mendemo Wali Kota Syaharie Jaang, di Balai Kota. Sebab, dari 8 korban itu sebagian merupakan mahasiswa. Mereka menuntut Kasatpol PP Samarinda Darham dipecat dari jabatannya, lantaran arogansi anak buahnya. (006)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *