aa

Dadang Sunendar

SAMARINDA.NIAGA.ASIA-Bahasa daerah yang sudah diidentifikasi oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Budaya sudah mencapai 90%. Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Budaya Dadang Sunendar mengatakan, hingga Oktober tahun lalu, terdapat 668 bahasa dari 2.468 daerah pengamatan yang baru terindentifikasi.

“Jumlah daerah pengamatan bahasa daerah akan bertambah pada akhir tahun karena akan mempercepat pemetaan bahasa daerah di bagian timur Indonesia,” kata Dadang di Jakarta, Kamis (21/2).

Jumlah daerah pengamatan dalam pemetaan berikutnya ialah wilayah Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat yang belum sepenuhnya teridentifikasi.

Ia mengatakan suku bangsa yang berada di Indonesia lebih dari 1.300 suku dan teritorial Indonesia kepulauan membuat pemetaan bahasa daerah sedikit sulit.

Adapun syarat untuk bisa disebut bahasa jika lebih dari 80% tidak terjadi perbedaan bahasa di suatu daerah maka dapat disebut dengan bahasa, namun jika tidak mencapai ketentuan, hanya disebut dengan logat.

Hingga saat ini, daerah yang memiliki bahasa terbanyak ialah Papua. Dari 668 bahasa yang sudah terindentifikasi, 395 bahasa terdapat di Papua dengan pembagian 300 bahasa terdapat di Papua dan 95 bahasa terdapat di Papua barat.

Peran pemerintah dalam melestarikan bahasa daerah dengan melakukan pemetaan, menjaga pelestarian bahasa daerah dalam mata pelajaran sekolah dan kegiatan sosial lainnya. “Peran pemerintah dengan melakukan kegiatan tersebut dinilai cukup efektif dan perlu ditingkatkan kembali selain itu peran dari suku, kepala suku/daerah, dan lingkungan sangat berperan dalam menjaga kelestarian bahasa daerah,” ujar Dadang.

“Kata kunci menjaga bahasa daerah adalah pewarisan, pewarisan bahasa daerah yang berasal orang tua kepada anaknya, jangan sampai anak-anak belajar bahasa daerah ketika di sekolah. Itu termasuk sudah terlambat,” imbuhnya.

Melestarikan bahasa daerah selalu menghadapi masalah di zaman modernisasi dan globalisasi seperti saat ini. Terdapat beberapa faktor yang harus dihadapi dalam melestarikan bahasa daerah.  Sastrawan Saut Poltak Tambunan mengatakan banyak faktor yang menghambat pelestarian bahasa daerah diantaranya urbanisasi, pernikahan antar etnis, akulturasi, teknologi yang serba bahasa asing.

Sumber: Media Indonesia

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *