
SEBATIK.NIAGA.ASIA – Masyarakat di perbatasan RI – Malaysia, pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara mulai merasakan dampak krisis Bahan Bakar Minyak (BBM) pasca PT Pertamina mengurangi kuota BBM subsidi jenis Pertalite.
Direktur PT Sebatik Indah, H. Abdullah yang mengelola sebuah SPBU mengatakan, kelangkaan BBM mulai terlihat sejak BBM Malaysia yang biasanya didatangkan masyarakat untuk tambahan kebutuhan di perbatasan Sebatik tidak lagi menjadi solusi terbaik.
“Dulu kalau BBM Indonesia kosong, warga membeli BBM Malaysia yang harganya lebih murah Rp 9.000 per liter,” kata Abdullah pada Niaga.Asia, Rabu (01/04/2026).
BBM Malaysia kini jauh lebih mahal dibandingkan BBM subsidi Indonesia, kenaikan harga ini dipengaruhi oleh melonjaknya nilai tukar Ringgit Malaysia (RM) terhadap rupiah di angka Rp 4.300 per 1 RM.
Abdullah menerangkan, keputusan Pertamina mengurangi kuota BBM SPBU Sebatik Indah terhitung sejak tahun 2022, dengan alasan kuota yang diberikan 200 ton selama 1 bulan untuk Pertalite tidak habis terjual.
“Kuota BBM kita habis terjual karena masyarakat banyak membeli BBM Malaysia yang lebih murah, sehingga sejak 2022 kuota SPBU Sebatik Indah dikurangi jadi 125 ton,” sebutnya.
Terhadap krisis BBM, Abdullah mengaku telah berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Nunukan dan meminta dukungan usulan penambahan BBM subsidi ke Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas)
Usulan penambahan BBM dilengkapi data kebutuhanBBM untuk kendaraan bermotor dan alat angkut laut di Sebatik, namun hingga kini belum ada respon dari pemerintah pusat.
“Saya sudah meminta dukungan ke bagian Ekonomi Pemkab Nunukan dan mereka sudah pula bersurat dan menyampaikan ke BP Migas,” ujar Abdullah.

Saat ini BBM Pertalite kuota SPBU Sebatik Indah, masih di angka 75 ton per bulan dan ditambah 60 ton bio solar, serta 10 ton pertamax. Kuota ini tentunya sangat tidak sesuai dengan kebutuhan, karena jumlah penduduk dan kendaraan bermotor bertambah.
BBM Malaysia
Harga BBM Malaysia yang dulu Rp 9.000/liter atau botol mengalami kenaikan sekitar 22.000/liter bersamaan naiknya harga Ringgit Malaysia, kondisi ini yang membuat masyarakat beralih fokus menggunakan BBM Indonesia.
“Sekarang masyarakat beralih BBM Indonesia, sedangkan stoknya pertalite di SPBU sangat terbatas, mau beli BBM Malaysia sudah tidak mungkin terlalu mahal,” sebutnya.
Terpisah, anggota DPRD Nunukan asal Sebatik, Andre Pratama meminta pelaku usaha SPBU di pulau Sebatik tetap mengupayakan penambahan kuota BBM subsidi baik pertalite maupun solar serta menyediakan lebih banyak lagi BBM pertamax.
“Saya sudah konfirmasi juga ke Pemkab Nunukan, mereka lagi berusaha minta BP Migas menambah jatah BBM perbatasan Sebatik,” bebernya.
Andre tidak membantah bahwa sebagian kebutuhan BBM di Sebatik dipenuhi oleh BBM Malaysia, karena dulu harga lebih murah dan mendapatkan BBM Malaysia tidak terlalu sulit karena dekat secara geografis.
Namun, penggunaan BBM Malaysia secara terus menerus dalam jumlah banyak pasti akan berpengaruh terhadap SPBU di Sebatik sebab, secara tidak langsung kesulitan menghabiskan kuota dalam batas waktu tertentu.
“Kita tidak melarang menggunakan BBM Malaysia, tapi jangan sampai mengganggu bisnis BBM lokal, kalau jatah BBM dikurangi Pertamina yang rugi kita semua,” ungkapnya.
Penulis : Budi Anshori | Editor : Intoniswan
Tag: BBM