
NUNUKAN.NIAGA.ASIA – Perkembangan harga berbagai komoditas di Kabupaten Nunukan, secara umum menunjukkan adanya kenaikan sebesar 4,22 persen atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 106,3 pada Februari 2025 menjadi 110,5 di Februari 2026
Kenaikan harga barang tersebut disebabkan terjadi inflasi secara m-to-m sebesar 0,24 persen dan inflasi y-to-d sebesar 1,06 persen di bulan Februari 2026,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Nunukan, Iskandar Ahmaddien, Rabu (04/03/2026).
Terjadinya Inflasi year-on-year (YoY) dikarenakan adanya kenaikan harga kelompok pengeluaran, perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 20,44 persen dan diikuti kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 11,77 persen.
Kenaikan juga tercatat pada kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 1,55 persen, pendidikan sebesar 1 persen, transportasi sebesar 0,83 persen, kesehatan sebesar 0,76 persen, sedangkan kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,4 persen.
“Kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan justru mengalami penurunan indeks atau deflasi sebesar 0,93 persen,” sebutnya.
Komoditas yang dominan memberikan andil terhadap inflasi secara month-to-month (m-to-m) Februari 2026 berasal dari cabai rawit sebesar 0,22 persen, diikuti emas perhiasan sebesar 0,14 persen, beras sebesar 0,06 persen, ikan bandeng/ikan bolu sebesar 0,04 persen, ikan cakalang sebesar 0,02 persen
Meski demikian, sejumlah komoditas turut menahan laju inflasi. Harga bayam, kangkung, dan wortel tercatat menurun, begitu pula sabun mandi dan bawang merah yang menyumbang deflasi secara bulanan.
“Fluktuasi harga komoditas segar seperti sayuran memang cepat berubah dan sangat mempengaruhi inflasi jangka pendek,” tuturnya.
Iskandar menerangkan, inflasi di Kabupaten Nunukan masih rendah jika dibandingkan tingkat nasional maupun tingkat Provinsi Kaltara, yang inflasi tahunannya tercatat sebesar 4,75 persen dan inflasi bulanan 0,47 persen.
Begitu pula inflasi tahunan di kota Tarakan dan Tanjung Selor yang mencatat inflasi sebesar 5 persen. data yang tersaji ini hendaknya menjadi rujukan bagi Pemerintah Nunukan dalam merumuskan kebijakan pengendalian inflasi, terutama pada komoditas strategis yang berpengaruh langsung terhadap daya beli masyarakat.
“BPS akan terus memantau perkembangan harga dan berkoordinasi dengan pihak terkait agar stabilitas harga tetap terjaga,” tutupnya.
Penulis: Budi Anshori | Editor: Intoniswan
Tag: Inflasi