PAUD tempat hilangnya balita Yusuf (foto : Niaga Asia)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA – Penyebab kematian balita Ahmad Yusuf Ghazali, yang ditemukan meninggal tanpa kepala, masih diselidiki kepolisian. Polisi menduga PAUD Jannatul Atfhfaal lalai menjaga anak, saat berada di dalam PAUD, hingga balita Yusuf hilang selama 16 hari.

“Kita selidiki di tempat awal, di penitipan (PAUD). Apakah ada unsur kelalaian, apakah ada motif lain. Ini yang sedang kita lidik. Unsur kelalaiannya kita cari,” kata Kapolresta Samarinda Kombes Pol Arif Budiman, Selasa (10/12).

Arif mengungkap, dugaan kelalaian PAUD bukan tanpa dasar. “Kalau lalai, dengan pemeriksaan beberapa saksi, dengan demikian kita harus ungkap,” ujar Arif.

“Dari keterangan penjaga rumah (PAUD), yang bersangkutan (ibu asuh saat balita Yusuf masih di PAUD), tinggalkan anak selama 5 menit untuk buang air. Begitu selesai, balik ke tempat, anak itu (balita Yusuf) sudah tidak ada. Itu pemeriksaan dari saksi yang menjaga Yusuf,” ujar Arif.

Arif menerangkan, pihak PAUD memang sudah berupaya mencari balita Yusuf saat itu. “Ada upaya dari ibu pengasuh anak ini, untuk mencari keluar rumah karena di dalam tidak ada. Keluar untuk panggil warga sekitar, tapi tidak ketemu,” tambah Arif.

Arif juga mengungkap penyelidikan sementara tim Reskrim. “Kita sudah koordinasi, periksa saksi dan temukan fakta, dugaan sementara, korban hanyut Di depan rumah penitipan itu, ada parit, dan hujan lebat,” terang Arif.

“Kemungkinan anak ini jalan, tidak melihat air genangan, tidak melihat, sehingga masuk ke parit. Jarak penitipan ke lokasi penemuan jenazah korban 4,5 km. Dua pekan lebih, tentu badannya sudah lembek. Mungkin, di sepanjang jalan menuju ditemukan anak ini, ada beberapa bagian tubuh tidak utuh,” ungkap Arif.

Kepolisian untuk mengungkap kasus kematian balita Yusuf, lanjut Arif, tidak ingin gegabah setelah beredar kabar balita Yusuf korban mutilasi. “Kemungkinan bukan mutilasi. Kita tidak mau berasumsi. Meski memang kenyataannya, ada beberapa bagian tubuh hilang. Kita dalami akibat motif lain. Sekali lagi meski kenyataannya badan tidak utuh,” terang Arif. (006)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *