15
Yustinus Sapto Hardjanto dihadapan mahasiswa Perikanan Unmul sedang mengikuti sekolah sungai. (SeSuKaMu)

PERTENGAHAN  tahun lalu (2017), Ketua Gerakan Memungut Sehelai Sampah Sungai Karang Mumus (GMSSSKM) Samarinda, Misman memberitahukan ke saya, GMSSSKM akan membuka sekolah sungai di Muang Ilir, Lempake, Samarinda Utara.

Sebagai salah seorang pendiri dan penasihat GMSSSKM, tentu saya bertanya apa nama sekolahnya dan siapa yang akan mengelolanya. Misman menjawab, nama sekolah itu SeSuKaMu. Pertama saya berpikir, betapa mengerikan nama sekolahnya, tapi saya juga paham, selama ini perlakuan warga Samarinda terhadap sungai memang sesuka-sukanya, misalnya membuang sampah ke sungai, mendirikan bangunan di badan sungai, buang hajat ke sungai, dan lain sebagainya.

Karena belum tahu apa artinya, saya bertanya lagi ke Misman, SeSuKaMu itu kepanjangan dari apa. Misman menerangkan SeSuKaMu itu sama dengan Sekolah Sungai Karang Mumus.  Mendengarkan penjelasan Misman, saya katakan; “Kalau begitu ya tidak masalah, silakan”.

Pertanyaan kedua dari saya adalah siapa yang akan mengelola sekolah tersebut. “Ada Mas Yustinus Sapto Hardjanto. Mas Yus yang akan mengelola. Kemudian ada juga Mas Krisdiyanto,” jawab Misman. “Oke, saya percaya, silakan jalan,” jawab saya.

Saya percaya sekolah sungai itu bisa jalan karena mendengar nama Mas Yus (Yustinus Sapto Hardjanto) sebab, Mas Yus sepanjang yang saya tahu sudah belasan, bahkan bisa jadi sudah 20 tahun LEBIH berkecimpung di NGO (organisasi non goverment) atau LSM bergerak di bidang Lingkungan Hidup.

Saya sendiri baru kenal dekat dengan Mas Yus pada akhir tahun 2013. Saat itu kami berdua diminta MDC (Madrasah Development Center) Kaltim menjadi instruktur dalam kegiatan pelatihan bagi guru-guru madrasah di Kaltim menerbitkan dan mengelola majalah dinding (mading).

Saya mengajar tentang bagaimana  tentang konten dan rubrik yang pas untuk mading, bagaimana membuat perencanaan, dan memilih penanggung jawab dari masing-masing rubrik. Sedangkan Mas Yus mengajar teknik fotografi. Kami sama-sama mengajar di tiga kelas atau tiga angkatan, di Samarinda 2 kelas dan di Balikpapan 1 kelas.

Saat  bertemu Mas Yus di kelas pertama yang diadakan MDC di Hotel Bina Rahayu di Jalan Juanda, terus terang saya kaget karena, Mas Yus mau mengajar fotografi  untuk guru-guru madrasah karena setahu saya Mas Yus adalah nonmuslim, tapi karena latar belakangnya dari LSM Lingkungan, saya yakin Mas Yus sangat egaliter. Bahkan sekarang saya memanggil Mas Yus dengan sebutan Romo.

Alhamdulillah, Mas Yus yang saya sebut di GMSSSKM sebagai advisor, dibantu Misman, Krisdiyanto, Iyau, dan Ibu Keinan (istri dari Pak Hermanto, Asssiten I Sekda Kota Samarinda)  hingga 8 bulan umur  sekolah sungai berjalan lancar, bahkan diluar dugaan saya, luar biasa perkembangannya, sudah ribuan siswa dan mahasiswa/wi berhasil dirangkul untuk mau memahami arti pentingnya sungai dan memelihara, serta menjaga sungai.

05
Anggota Mapflofa sedang merawat bibit di bedeng pembesaran. (SeSuKaMu)

SeSuKaMu biar letaknya jauh di pinggiran, tidak pernah kekurangan tamu yang ingin mengenal SKM. Bahkan sekolah berkembang menjadi pusat pembibitan dan penghijaun bantaran sungai.

Tumbuh kembang

Meski jarang berkomunikasi dengan pendiri GMSSSKM yang sebagian besar adalah wartawan,  hebatnya Mas Yus paham yang kami mau.  Kini  sekolah sungai  tumbuh kembang, selain tempat belajar akan sungai, juga ada kegiatan ecobrick, ada kegiatan penyemaian benih pohon yang akan ditanam di bantaran sungai.

“Inisiator GMSSSKM  kan selalu mengatakan bahwa memungut sampah adalah edukasi terhadap warga  masyarakat Kota Samarinda tentang bagaimana memperlakukan sungai dengan benar. Intinya sampah dipungut bukan dihanyutkan,” kata Mas Yus.

Menurutnya, argumen dasar dari memungut sampah di sungai menjadi sebuah media pendidikan adalah dengan semakin banyak pemungut maka semakin banyak sedikit orang yang membuang.“Namun soal sampah di sungai, kita  berpacu dengan waktu. Sehingga perlu perluasan ekosistem gerakan. Maka pola edukasi diperluas lewat sessi-sessi khusus yang bertujuan memberi bekal pengetahuan   dan argument-argumen   dasar  mengapa sungai harus dipulihkan, dijaga dan dirawat,” kan begitu lanjutnya.

03
Dinda, mahasiswi Universitas Gajah Mada dan Stella, mahasiswi Unmul sedang menyusuri sungai untuk mengenal SKM lebih dekat dalam rangka kegiatan mengumpulkan bahan untuk skripsi. (SeSuKaMu)

Setelah sekolah sungai beroperasi di Muang,  kegiatan edukasi  yang awalnya dilakukan dengan mendatangi tempat pendidikan (sekolah atau kampus) dan wilayah  pemerintahan (RT). Kemudian  pendidikanjuga  diselenggarakan di Pendopo yang ada di PangkalanPungut Jembatan Kehewanan (Jalan Abdul Muthalib), beberapa bulan sebelum berakhirnya  tahun 2017  pindah ke Muang.

“Kalau dihitung-hitung, baru akhir 2017 akhirnya sekolah  mulai digunakan. Berbagai kelompok siswa, mahasiswa, warga dan  juga instansi/badan  pemerintah telah datang mengikuti  sessi  edukasi dan  mendalami sungai di SeSuKaMu,” kata Mas Yus.

Urusan materi ajar di sekolah sungai juga Mas Yus yang membuat, sehingga pembelajaran di  sekolah sungai menjadi lebih lengkap, karena selain pengetahuan soal sungai, restorasi sungai, peserta ajar bisa langsung mengenali berbagai macam vegetasi  spesies sungai yang dikembangkan di sana.

Selain belajar bagaimana mengembangbiakan, menyiapkan media tanam, membuat pupuk, peserta juga bisa ikut merestorasi sungai dengan menanam pohon yang telah siap tanam untuk mengembalikan riparian sungai. “Dan setelah itu peserta ajar bisa berinteraksi langsung dengan sungai, mendalami sungai dengan cara mandi-mandi, bermain atau berperahu di sungai,” ujarnya.

Menurut Mas Yus, SeSuKaMu pada dasarnya ingin dikembangkan menjadi learning and experience centre  tentang SKM. Dengan belajar  dan mendalami sungai di SeSuKaMu diharapkan mereka yang datang akan mempunyai basis pengetahuan dan argumen kenapa sungai harus dipulihkan, dirawat dan dijaga.

Keberadaan SeSuKaMu menjadikan GMSSSKM semakin dikenal secara nasional, apa lagi Balai Sungai Wilayah Kalimantan juga memberikan support  teknis dan moril, serta materiil luar biasa. Saat mengikuti Lomba Peduli Sungai Tingkat Nasional Tahun 2016 di Banjarmasin yang diadakan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, GMSSSKM menduduki urutan ke-8, maka di lomba sejenis tahun 2017 di Semarang, GMSSSKM menempati rutan ke-3 secara nasional.

SeSuKaMu juga memberikan layanan berupa panduan dan fasilitas kepada mahasiswa yang ingin melakukan penelitian untuk skiripsi. Saat ini Dinda, Mahasiswi UGM dan Stella, Mahasiswi Unmul sedang menyusuri sungai untuk mengenal SKM lebih dekat. Dinda sedang mengerjakan skripsi yang mengangkat tema tentang GMSSSKM, sementara Stella sedang mempersiapkan pengajuan tema  skripsi yang akan meneliti potensi lumpur SKM untuk digunakan sebagai media tanam.

Misman, Mas Yus, dan Kris juga rajin berkeliling kampung dan sekolah-sekolah mengedukasi masyarakat dan pelajar agar berhenti membuang sampah sembarangan, karena semua sampah bermuara ke sungai, setelah dibawa air parit. Kemudian bagimana mengeloa sampah plastik menjadi bahan berguna di dalam rumah.

Zona riparian

                Mas Yus memberikan perhatian lebih akan zona riparian Sungai Karang Mumus. Zone riparian merupakan zona yang menghubungkan ekosistem daratan dan ekosistem perairan yang mana dipengaruhi oleh pergerakan material dan air.

Riparian mempunyai komponen khusus dalam daratan. Zona yang berada pada tepian sungai atau badan air ini mempunyai kekhususan kharakteristik yang mampu menghubungkan kedua ekosistem tersebut. Kharakteristik khusus tersebut salah satu contohnya adalah posisi topografi dan struktur. Posisi topografi yang berada di tepian sungai yang notabene adalah sumber air atau makanan bagi tumbuhan dan struktur yang ada merupakan tempat habitat berbagai macam flora dan fauna.

Jumlah dari habitat riparian untuk fauna daratan telah diteliti di berbagai benua dan hasilnya zona riparian dengan berbagai tumbuhan mempunyai habitat yang lebih beraneka ragam dan kaya daripada zona riparian kosong. Zona riparian juga penting untuk konservasi sumber daya air dan pelestarian habibat ikan. Kualitas air dan habitat ikan bergantung dari kelestarian ekologi zone riparian yang ada. Oleh karena itu perlindungan terhadap zona riparian sangat diperlukan.

19
Kegiatan menanam pohon penghijau di bantaran SKM. (SeSuKaMu)

Untuk melindungi dan memelihara fungsi ekologi dari zona riparian terkadang diberlakukan larangan untuk memanen atau menebang pohon yang ada di riparian. Sistem yang diberlakukan salah satu contohnya di Oregon adalah dengan sistem tebang pilih, dimana jika ada bagian suatu tepi yang ditebang maka harus ada sisa dan penanaman kembali di kawasan tersebut.

Hal ini dilakukan untuk menjaga kualitas dan kuantitas dari air sungai, habitat dan vegetasi yang ada pada zona tersebut (riparian dan sungai) Vegetasi riparian terhindar dari hitungan dan deskripsi secara umum karena variasi densitas, keberagaman spesies, kedewasan dan kecepatan tumbuh.

Vegetasi riparian dalam morphologi sungai mempunyai pengaruh yang sangat besar dan kompleks. Pengaruh ini tidak terbatas pada variasi vegetasi namun juga berpengaruh pada polutan yang masuk ke badan air, pendangkalan, dan komposisi material. Sungai dengan zona riparian yang ditumbuhi tanaman mampu berpengaruh lebih luas dalam artian efek dari adanya sungai tersebut mempunyai zona yang lebih luas daripada zona riparian tanpa tanaman.

Hutan riparian mengandung lebih banyak nutrien di permukaan kedua tepinya daripada riparian tanpa tanaman atau riparian yang ditumbuhi tanaman liar (ex: rumput, ilalang dsb). Dalam hal ini riparian mampu menjaga stabilitas nutrien tanah sehingga kualitas tanah di sekitar riparian dapat terjaga. (intoniswan)

Berita Terkait