kontingen
Kontingen olahraga dari Klub Pagun Taka Nunukan tiba di Pelabuhan Tunon Taka.

NUNUKAN.NIAGA.ASIA-Kontingen olahraga dari klub Pagun Taka Nunukan sebanyak 28 orang dan sempat ditahan pihak Imigrasi Malaysia di Sabah sejak tanggal 15 Maret lalu karena masuk ke Malaysia tanpa paspor, hari Selasa (27/3) sore tiba kembali di Nunukan. Rombongan tiba di Pelabuhan Tunon Taka sekira pukul 17.00 Wita.

Sebelum pulang ke rumah masing-masing, seluruh anggota rombongan dikumpulkan di aula pelabuhan untuk mendengarkan pengarahan dari pejabat dari berbagai isntansi terkait. Pengarahan menyangkut ketentuan keimigrasian apabila bepergian ke luar negeri.

Kepala Konsulat RI di Tawau, Sabah Malaysia, Sulistijo Djati Ismojo  dalam rilisnya, Selasa (27/3) mengatakan, pemulangan kontingen  melalui proses deportasi sesuai amaran Mahkamah Tawau setelah dalam pengadilan dinyatakan  terbukti  bersalah memasuki wilayah Tawau tanpa memiliki dokumen perjalanan dan melalui jalur tidak resmi.

Perbuatan tersebut, lanjut Sulistijo, melanggar peraturan keimigrasian setempat, sehingga pemerintah Malaysia menahan WNI salaam hampir 2 minggu. Peraturan serupa berlaku pula negara di Indonesia dan negara lainnya.  “Mereka masuk menghadiri undangan pertandingan klub sepakbola di Felka Kalabakan, tapi tanpa dokumen paspor,” tuturnya. Setelah kejadian ini,  Konsulat RI Tawau menekankan agar para WNI yang ingin masuk ke Malaysia, selalu menggunakan dokumen resmi berupa paspor atau pas lintas batas dan tidak masuk melalui jalur tidak resmi.

Kontingen Sepakbola dan Voli dari Nunukan Tetap Diadili di Sabah

Mahkamah Tawau Deportasi Kontingen Olahraga dari Nunukan

Kejadian yang sudah-sudah  diharapkan dapat menjadi pembelajaran kepada semua WNI yang berkunjung ke Malaysia, meskipun tinggal di daerah perbatasan dan memiliki hubungan serumput sedarah. Peraturan tetaplah aturan yang harus ditegakkan. “Berkunjunglah ke luar negeri sesuai aturan. Lengkapi dokumen sebelum memustakn perjalan kita,” bebernya. Pemulangan kontingen ke Nunukan dari pelabuhan Terminal Ferry Tawau dikawal  tim Satgas PWNI/BHI Konsulat RI Tawau.

Kedatangan deportan disambut perwakilan delegasi negosiator dari Kabupaten Nunukan, Petrus Kanisius dan Muhammad Nasir diruang terminal pelabuhan Tunon Taka. Sebelum meninggalkan tempat. Nasir meminta sesuatu yang terjadi pasti ada hikmahnya. “J

adikan penahanan 28 pemain bola oleh Malaysia ini sebagai pelajaran buat warga Indonesia. Khususnya warga perbatasan Nunukan untuk selalu menyiapkan dokumen dan ingat ikutlah perjalanan jalur resmi yang sudah disiapkan,” kata Nasir.  Pendeportasian begitu cepat, kata Nasir, tidak lepas dari partisipasi semua pihak, Konsulat RI, LO RI dan tokoh masyarakat Malaysia sangat membantu keringanan hukuman. (002)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *