Syaparudin
Syaparudin

SAMARINDA.NIAGA.ASIA-Serangan kabar bohong terhadap pemimpin wajib dicegah karena membahayakan kerukunan dan keberlangsungan negeri ini ke depan. Sekali kabar bohong berhasil menggulingkan pemimpin, akan merembet luas dan itu bisa menimbulkan kekacauan sosial hingga ke tingkat desa.

Hal itu dikatakan Syaparudin, calon anggota DPD (Dewan Perwakilan Daerah) Republik Indonesia, mantan Ketua GP Ansor Kaltim, dan mantan anggota DPRD Kaltim 1999-2014 pada Niaga.Asia, seusai menghadiri Diskusi Publik “Menakar Potensi Cak Imin Pada Pilpres 2019” di Samarinda, Selasa (17/4/2018).

Dalam diskusi tersebut PKB Kaltim bersama Sahabat Muda Muhaimin menghadirkan nara sumber DR. Iman Surya, Dosen Fisipol Unmul, Carolus Tuah, Direktur Pokja 30 Kaltim, dan Charles Siahaan, Pemimpin Redaksi Media Online Berita Kaltim.Co. Diskusi dipandu Ismail dari Sahabat Muda Muhaimin.

Menurutnya, penyebaran berita bohong terhadap pemimpin formal negara dan pemimpin informal, tokoh-tokoh masyarakat, apa lagi terhadap politisi sudah sangat mengkhawatirkan,  mengerikan, dan membahayakan. “Masyarakat wajib mencegah penyebaran bohong tersebut,” tegasnya.

diskusi
Diskusi Publik “Menakar Potensi Cak Imin di Pilpres 2019”

Adanya budaya meniru di masyarakat, membuat penyebaran berita bohong itu lama-lama tidak hanya terjadi dalam pilpres, tapi bisa merembet hingga ke pemilihan kepala daerah sampai pemilihan kepala desa. “Sekali penyebaran kabar bohong berhasil menggulingkan pemimpin yang dipilih secara demokratis, maka model yang sama akan menjadi virus yang membunuh demokrasi hingga ke pmilihan kepala desa,” kata Syaparudin, putra Long Iram ini.

Mantan aktivis mahasiswa dari Unmul ini mengajak mahasiswa, generasi muda terdidik memberikan pencerahan ke masyarakat agar tidak mudah termakan kabar bohong yang disebarkan pihak-pihak tertentu, karena kabar bohong bisa membuat terpecahbelah, saling memusuhi antar sesama. “Anak muda juga juga punya kewajiban menjaga dan merawat persatuan dan kesatuan, kebhinekaan, NKRI, dan keberlangsungan negara, kebersamaan dalam keberagaman,” tambahnya.

Tentang potensi Cak Imin menjadi cawapres di Pilpres 2019, Syaparudin mengatakan, Cak Imin sudah mendapat restu dari kyai NU (Nahdlatul Ulama) dan dalam tiga bulan ke depan masih ada waktu menaikkan elektabilitasnya. Publik di pedesaan maupun perkotaan, saya pikir bisa menerima Cak Imin,” ujarnya.

Cak Imin pasangan ideal bagi Presiden Joko Widodo yang akan maju kedua kalinya menjadi capres. Keduanya bisa berbagi tugas yang sama pentingnya untuk keberlangsungan bangsa dan negara, serta pembangunan berkelanjutan. “Cak Imin bisa mengurus bagaimana kerukunan dan kebersamaan di negeri ini tetap terjamin, mendinginkan gesekan-gesekan antar umat Islam itu sendiri maupun hubungan antar umat beragama,” kata Syaparudin.(001)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *