SMKN 1 Sebatik Barat Menuju Sekolah Ketahanan Pangan

Pelepasan 13.000 bibit ikan lele oleh guru dan siswa-siswi ditambak Bioflok milik SMKN 1 Sebatik Barat. (foto Budi Anshori/Niaga.Asia)

NUNUKAN.NIAGA.ASIA – Berdiri di lahan seluas 31 hektar, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Kecamatan Sebatik Barat berinovasi menuju sekolah ketahanan pangan mandiri dan agro wisata. Sekolah ini mengolah lahannya untuk tanaman buah dan perikanan.

Sekolah yang berada di tapal batas Indonesia – Malaysia ini, memiliki lahan perkebunan pisang jenis kepok seluas 4 hektare, sejak tahun 2019 dan sempat mendapat kunjungan Gubernur Kalimantan Utara (Kaltara) Irianto Lambrie di tahun 2020.

“Penanaman pisang tahap dua bulan Mei 2020 sebanyak 2.000 bibit dihadiri Gubernur Kaltara,” kata Kepala SMKN 1 Sebatik Barat, Sujud, Sabtu (18/7).

Pisang tumbuh subur diperkirakan akan memasuki panen raya bulan Januari 2021, dengan kisaran hasil panen sekitar Rp10 juta. Kami juga memiliki tanaman pisang jenis beranang merah yang kaya kandungan kalium, vitamin C, vitamin B6 dan antioksidan.

Sukses mengelola kebun pisang, SMKN 1 Sebatik Barat kembali menanam 500 bibit buah durian jenis unggulan dilahan seluas 4 hektar. Konsep ketahanan pangan semakin terlihat, dengan adanya tanaman buah manggis dan jeruk keprok.

“Sekarang kita lagi fokus tanam durian, setelah semua bibit tertanam dilanjutkan tanam manggis dan jeruk, diselingi tanaman rambutan tanpa biji masing-masing seluas 1 hektar,” ucapnya.

Untuk tanaman buah durian, sekolah sengaja meminta para guru dan murid membeli durian, biji-biji dari buah tersebut diambil untuk disemai, setelah biji tumbuh batang, siswa-siswi jurusan perkebunan melakukan stek atau pencangkokan.

Berbeda dengan manggis dan jeruk keprok, sekolah langsung membeli bibit – bibit buah, bahkan ada sebagian bibit jeruk didatangkan dari Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Ketahanan pangan perkebunan ini nantinya akan dipadukan dengan sektor agro wisata.

“Kita punya jurusan, perikanan, perkebunan dan akuntansi, masing-masing jurusan saling terkoneksi dalam mengelola usaha dan hasilnya,” sebutnya.

Inovasi untuk meningkatkan kreativitas para siswa-siswi itu, juga dilaksanakan jurusan perikanan dengan membangun industrialisasi tambak ikan lele, dalam rangka sekolah ikut mendukung program ketahanan pangan mandiri.

Teknologi budidaya ikan lele di SMKN 1 Sebatik menggunakan sistem Bioflok atau kolam bundar berbahan terpal. Cara kerja kolam ini membutuhkan modal sedikit lebih banyak dibandingkan dengan cara konvensional.

“Sistem Bioflok cocok diterapkan di lahan yang tidak luas dengan hasil panen yang lebih banyak dibandingkan dengan cara konvensional,” tuturnya.

Sujud menyebutkan, pengelolaan budidaya tambak lele mulai hari ini Sabtu (18/7), ditandai dengan memasukan bibit sebanyak 13.000 ekor ke dalam 8 buah Bioflok yang disiapkan sekolah dengan masa panen diperkirakan 3 bulan.

Untuk menerangsang minat siswa-siswi mengelola tambak lale, sekolah membuat kebijakan tanggungan biaya bersama atau shering antara pihak sekolah dengan siswa dalam pembelian pakan ikan dimulai sejak pemasukan bibit hingga panen.

“Pengadaan material dari sekolah, sedangkan kebutuhan pakan ikan sharing sekolah dengan siswa. Perkiraan satu Bioflok membutuhkan 14 karung pakan dengan harga perkarung Rp450 ribu,” kata Sujud.

Peningkatan kompetensi perkebunan, perikanan dan akutansi menggunakan dana Bantuan Operasional Sekolah (Bos) Nasional tahun 2020, dimana per siswa mendapatkan Rp1.600.000 dikali 500 orang murid.

Pengelolaan lahan SMKN 1 Sebatik Barat untuk perkebuhan dan perikanan bertujuan melatih siswa-siswi terampil dan aktif dalam bidang-bidangnya. Tujuannya, agar sekolah di tapal batas Indonesia ini menjadi sekolah ketahanan pangan.

“Saya ingin sekolah ini nantinya menjelma menjadi sekolah percontohan dan sekolah ketahanan pangan,” ungkap Sujud. (002)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *