Speedboat Terbalik Tewaskan 5 Orang, Warga Nunukan Bikin Surat Terbuka ke Pemprov Kaltara

Korban speedboat SB Rian yang terbalik di perairan Sembakung, Senin (7/6). (Foto : istimewa)

NUNUKAN.NIAGA.ASIA – Insiden speedboat SB Rian terbalik terjadi Senin (7/6) siang, di Sungai Sembakung, Nunukan. Dari 31 penumpang, 25 orang selamat, 5 orang meninggal dan satu orang lagi dalam pencarian SAR gabungan sampai sore ini.

Asnawi A Thalib (45), tergugah untuk mengunggah surat terbuka yang ditujukan kepada Pemprov Kalimantan Utara, dan juga Pemkab Nunukan.

Asnawi adalah pria kelahiran Sembakung, yang kini berkiprah di Tanjung Selor, Bulungan. Surat terbuka itu, dia unggah sekitar pukul 09.00 WITA pagi ini tadi. Dia menyoroti risiko besar transportasi sungai di perairan Sembakung, dan Kaltara secara umum.

Sinergi SAR gabungan dalam operasi SAR pencarian korban atas nama Jahra, Selasa (8/6). (Foto : Basarnas Tarakan)

Niaga Asia mendapatkan izin untuk memuat surat terbuka dia, yang dia sampaikan melalui media sosial Facebook. Berikut isinya :

Surat Terbuka untuk Gubernur Kaltara dan Bupati Nunukan

SEMBAKUNG BERDUKA, DUKA untuk KALTARA

TANPA terasa air mata menetes mendengar kabar terbaliknya SB Rian, speedboat yang dari Tarakan menuju ke Sembakung, yang memakan korban 5 korban jiwa, 3 diantara adalah anak-anak kecil. Smentara 1 orang lagi dalam proses pencarian. Transportasi Kaltara kembali diselimuti awan kelabu.

Tanpa bermaksud mencari siapa yang salah, karena kita sadar kehidupan, kematian, jodoh dan rezeki itu pasti merupakan kehendak dari yang Maha Kuasa tak mungkin manusia menolaknya. Namun alangkah bijak bila dengan kejadian ini menjadi ibroh dan evaluasi kita semua. Baik dari pemerintah daerah, pihak pengusaha transportasi, dan masyarakat.

Beberapa hal yang kami kemukakan ini menyangkut ikhtiar bersama mencari jalan baik untuk perbaikan dunia transportasi laut kita di Kaltara. Khususnya di jalur Sembakung – Tarakan.

1. Transportasi laut – sungai di Kaltara masih sangat dominan menjadi jalur transportasi orang dan barang, karena memang secara geografis Kaltara didominasi oleh laut dan sungai-sungai. Ada 4 (empat) sungai besar yaitu Sungai Sembakung, Sungai Sesayap, Sungai Kayan dan Sungai Sebuku. Karena itu jalur transpotasi ini sama pentingnya dengan transportasi darat dan udara. Perlu perhatian kita bersama karena jalur rawan terjadi kecelakaan dan memakan korban jiwa.

2. Dari segi regulasi keselamatan dan kenyamanan transportasi laut dan sungai sudah sangat memadai. Undang-undang bahkan Peraturan Daerah (Perda)-nya. Namun kita harus jujur bahwa pengawasan dan konsistensi belum maksimal. Kelayakan speed boat dan pengawasan di pelabuhan terhadap pelaksanaan aturan kelayakan dan kenyamanan serta keselamatan pelayaran.

3. Adapun khusus jalur Sembakung -Tarakan, Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara dan Pemerintah Kabupaten Nunukan, harus memberikan pemecahan masalah secara komprehensif yaitu dengan memotong jalur atau mempersingkat jarak tempuh speedboat dengan memindahkan titik berangkat Sembakung yang sekarang berada di Desa Atap ke Desa Tepian.

Bila ini bisa dilakukan maka jarak tempuh yang biasa kurang lebih 4 jam, akan menjadi 1,5 jam. Selain mempersingkat jarak tempuh, pemindahan titik berangkat ini akan memotong jalur sungai Sembakung yang berkelok kelok dan sering banjir.

Dapat dipastikan pula adanya pemindahan titik berangkat ke Desa Tepian ini akan ramai karena dimanfaatkan oleh masyarakat Kaltara yang berada di 4 kecamatan, yaitu : Sembakung, Sebuku, Sembakung Atulai dan Tulin Onsoy.

Untuk itu harus dibuat jalan darat yang menghubungkan Desa Atap ke Desa Tepian sepanjang kurang lebih 30 km. Badan jalan sudah tersedia karena merupakan jalur darat yang sudah dibuat oleh beberapa perusahaan Sawit yang beroperasi di wilayah Sembakung.

Sungguh kami menyadari sepenuhnya bahwa pembangunan dan kebijakan-kebijakan pemerintah daerah punya prioritas tapi memastikan rakyatnya selamat adalah salah satu fungsi dan tujuan dari berdirinya negara ini, melindungi segenap bangsa Indonesia. Kami mungkin tak punya kuasa memaksa tapi biarlah foto-foto korban kecelakaan ini yang mengetuk hati nurani kita semua.

Wallahu’alam Bishhowab

Berita terkait :

Ini Kesaksian Warga Melihat Speedboat Terbalik Tewaskan 5 Orang di Nunukan

Asnawi menerangkan, dia punya argumen sederhana hingga mengunggah itu di media sosial Facebook.

“Itu kan Sungai Sembakung berkelok-kelok. Kalau dari google maps, seperti cacing. Jadi, perjalanan menggunakan transportasi air sangat riskan dan rawan,” kata Asnawi, kepada Niaga Asia, Selasa (8/6).

Salah satu poin rawan adalah saat kondisi banjir, dan sungai meluap. “Kalau lagi banjir, banyak batang pohon larut. Kemarau, orang yang tidak punya keterampilan di sungai Sembakung, akan ketemu gusung. Itu sangat berbahaya,” ujar Asnawi.

Dengan kondisi sungai yang berkelok dan berliku itu, lanjut Asnawi, dari Desa Tepian ke Desa Atap sebenarnya hanya sepanjang 31 kilometer dan bisa tembus 30-40 menit.

“Dengan catatan kalau kondisi jalannya bagus. Tapi lewat jalur sungai, makan waktu sekitar 2 jam. Yang perlu diketahui bahwa, sungai Sembakung itu urat nadi masyarakat. Utamanya yang menggunakan perahu atau ketinting. Sudah berapa kejadian perahu kecil karam, dan itu berbahaya. Jadi, melewati sungai berkelok itu sekarang sudah tidak nyaman,” demikian Asnawi.

Penulis : Saud Rosadi | Editor : Saud Rosadi

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *