
JOHANNESBURG.NIAGA.ASIA – Penelitian kecil yang dilakukan terhadap 7 kasus COVID-19 di Afrika Selatan menunjukkan varian Omicron mampu menembus efektivitas vaksin meski sudah menerima booster atau penyuntikkan dosis ketiga. Demikian salah satu ilmuwan yang terlibat mengatakannya pada hari Kamis (16/12).
Sekelompok orang terdiri tujuh pengunjung dari Jerman ke Cape Town, berusia antara 25 dan 39, terinfeksi pada akhir November atau awal Desember yang dikonfirmasi dari varian Omicron.
Salinan penelitian yang dilihat oleh REUTERS, mereka semua hanya menderita gejala ringan hingga sedang dan tidak ada yang memerlukan rawat inap.
Dari kelompok tersebut, enam telah divaksinasi penuh dengan vaksin Pfizer-BioNTech (PFE.N), di antaranya lima juga telah mendapatkan suntikan booster Pfizer. Sementara yang keenam telah menerima dosis booster vaksin Moderna (MRNA.O).
Ketujuhnya telah menerima dosis awal vaksin AstraZeneca (AZN.L), diikuti oleh dosis kedua dan ketiga Pfizer. Setelah itu tidak ada yang melaporkan mereka terinfeksi COVID-19. Infeksi baru terjadi antara satu dan dua bulan setelah mereka menerima suntikan booster.
Wolfgang Preiser, seorang ahli virologi di Universitas Stellenbosch dan salah satu rekan penulis penelitian itu mengatakan kepada REUTERS bahwa penelitian tersebut saat ini sedang ditinjau oleh rekan sejawat.
Dia mengatakan penelitian menunjukkan infeksi masih mungkin terjadi dan menyebabkan penyakit simtomatik bahkan setelah imunisasi ditingkatkan.
Sebuah studi jauh lebih besar dari 581 orang di Inggris menunjukkan vaksin booster secara signifikan memulihkan perlindungan terhadap penyakit ringan yang disebabkan oleh varian Omicron. Namun demikian sebagian lagi menunjukkan penurunan efektivitas vaksin. Demikian Badan Keamanan Kesehatan Inggris dalam pernyataannya pekan lalu.
Para ilmuwan menduga bahwa Omicron lebih mudah menular, mengingat penyebarannya yang cepat. Meski demikian, masih terlalu dini untuk menyimpulkan secara pasti tentang tingkat keparahan penyakit yang disebabkannya Omicron.
Para profesional medis mengatakan vaksinasi masih merupakan cara penting dalam perang melawan pandemi.
“Itu masih melindungi terhadap penyakit parah dan kematian. Kami cukup yakin tentang itu,” kata Preiser.
“Gambaran yang muncul adalah bahwa virus ini sangat mampu merusak respons kekebalan. (Jadi) jelas bahwa kita akan membutuhkan vaksin yang diperbarui,” demikian Preiser.
Sumber : REUTERS | Editor : Saud Rosadi
Tag: Covid-19InternasionalKesehatan