aa
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan dan Pertanian (DKP3) Bontang, Aji Erlina Wati, Ketua DPRD Bontang, Nursalam, Wakil Walikota Bontang Basri Rase saat memanen Garam Rakyat dengan Sistem Tunnel di Balai Benih Ikan Pantai (BBI) Tanjung Laut, Bontang Selatan. (Foto Ismail)

BONTANG.NIAGA.ASIA-Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan dan Pertanian (DKP3) Kota Bontang setelah berhasil dengan uji cobanya akan mengembangkan secara mandiri budidaya garam  dengan menggunakan sistem tertutup (tunnel) untuk keperluan bagi nelayan mengasinkan ikan tangkapannya.

Kepala DKP3 Bontang, Aji Erlynawati saat ditemui dikantornya mengatakan bahwa garam dengan sistem tunnel ini merupakan inovasi dari para staf DKP3  setelah mengikuti pelatihan di Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan (BPPP) Tegal.  “Untuk sementara ini, garam yang dihasilkan hanya untuk ikan,” katanya, Kamis (11/4/2019) siang.

Kedepan, Ia berharap akan diadakan pelatihan kepada para nelayan binaan DPK3 untuk melakukan pelatihan budidaya garam dengan sistem tunnel, mengingat garam dengan sistem tunnel tidak mengenal waktu atau musim sehingga dapat melakukan budidaya secara maksimal.

“Saya selalu memberikan motivasi kepada teman-teman di DKP3 untuk tidak sekedar seremoni saja untuk semua kegiatan, tapi dapat di implementasikan secara luas. Dan saat ini kami sedang mencari lahan untuk budidaya garam jni, dan mudah-mudahan tahun depan bisa dilakukan pelatihan kepada kelompok-kelompok nelayan,” imbuhnya.

Dijelaskan Kadis DKP3, kebutuhan garam setiap tahun meningkat, baik untuk konsumsi maupun industri. Sementara, standar kadar Natrium klorida (NaCl) pada bahan baku garam konsumsi minimal 94,7 persen dan pada bahan baku garam industri minimal 97,5 persen.

Produksi garam rakyat dipengaruhi oleh musim, karena mengandalkan panas matahari. Pada saat musim hujan, banyak lahan garam yang tidak produksi, karena tidak ada panas matahari sehigga produksi garam bisa berlangsung sepanjang tahun, walaupun musim hujan. Meski tertutup, dalam ruang yang tertutup tetap ada panas sehingga proses kristalisasi tetap dapat terjadi.

“Kegiatan tersebut bertujuan menggugah minat masyarakat dalam mengembangkan usaha pembuatan garam. Selain itu, untuk memberikan alternatif mata pencaharian bagi masyarakat pesisir yang sebagian besar bekerja sebagai nelayan, pembudi daya, dan petani,” tukasnya. (adv)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *