aa
DAS Karang Mumus di Muang. (Foto Sekolah Sungai Karang Mumus)

KETIKA melihat foto sungai seperti di atas apa yang muncul di benak kita?

Dan jalan keluar apa yang kiranya bisa kita ambil?

Pasti ada yang menyebut sungainya jadi seperti parit?

Ya disebut parit karena aliran airnya sudah menyempit. Tapi ingat yang disebut sungai selalu mulai dari aliran aliran yang sempit di hulu. Tidak ada sungai yang langsung besar seperti Mahakam tanpa didahului oleh aliran aliran sungai kecil yang kemudian bertemu membentuk sungai sedang, lalu bertemu lagi dan membentuk sungai besar.

Besar kecilnya sungai dipengaruhi oleh pasokan air, oleh sumber airnya. Dan yang ada dalam foto ini adalah Sungai Karang Mumus (SKM) di area Muang Ilir RT 27 Lempake, Samarinda Utara. Kondisi ini menunjukkan bahwa SKM akan jadi ‘sungai’ ketika ada hujan. Dan ketika hujan tidak turun berminggu-minggu airnya segera menyusut. Dan akan lebih menyusut lagi karena akan banyak petani memasang mesin pompa untuk menyedot airnya.

Jadi sebenarnya tidak ada masalah dengan alur sungainya, yang menjadi masalah adalah pasokan airnya. Sungai apalagi sungai alami mempunyai mekanisme untuk menahan air lewat bentuk yang berkelak kelok (meander), kedalaman yang tidak sama (ada Kedung) dan lebar sempit yang juga tidak sama.

Tapi SKM sebagian bukan alami lagi karena telah direkayasa seperti dikeruk, diluruskan dan lain sebagainya. Tujuannya agar aliran cepat sampai ke muara agar kalau musim hujan tak menyebabkan banjir.  Dan hasilnya terlihat, begitu musim kemarau air cepat menyusut karena tidak tertahan.

Ajaibnya ada yang bilang pada kondisi seperti ini merupakan kesempatan untuk melebarkan sungai?

Untuk apa dilebarkan?

Katanya untuk menampung air.

Menjadi lebih aneh bin ajaib, sungai mengalami masalah pasokan air tetapi usulan penyelesaiannya menambah ruang sungai untuk menampung air. Begitu memang otak para ahli sungai jadi jadian. Selalu berorientasi proyek pada sungai jika sungai mengalami masalah keairan. Masalah keairan di sungai terkadang disederhanakan, akibatnya langkah menjadi tidak tepat sasaran, tak menyelesaikan persoalan dan akhirnya kerap bermakna pemborosan.

Masalah keairan selalu erat kaitannya dengan siklus dan neraca air. Jika hanya bertumpu di sungai dengan mengotak atik sungai, membuat sungai jadi over rekayasa sehingga tak nampak lagi sungai sebagai ciptaan Tuhan maka akan dibutuhkan biaya terus menerus untuk mempertahankan fungsi dan manfaat sungai.Misalnya biar ada ikannya maka akan terus ada re stocking ikan dengan cara melepas ikan ke sungai. Itu hanya salah satu contoh.

Kita tahu bahwa SKM adalah sungai periodik. Sungai yang tergantung pada hujan. Maka bagaimana agar sungai ini tidak cepat defisit airnya pada musim kemarau yang perlu dipikirkan justru tampungan air sementara kala musim hujan yang kemudian bisa menjadi sumber air bagi SKM pada musim kemarau.

Jadi mestinya bukan bicara soal rekayasa sungai melainkan buat rencana dan aksi untuk mengkonservasi tanah dan air di DAS SKM. Soal rekayasa sungai, orang bijak mengatakan ‘ hanya perlu satu orang dan sedikit waktu untuk merusak sungai, namun untuk memulihkan dibutuhkan banyak orang, biaya yang besar serta waktu yang lama”.

Saatnya kita belajar tentang neraca air, ekohidrologi, persaudaraan antara kebanjiran dan kekeringan. Ini saat yang tepat dengan cara datang ke Muang Ilir, RT 27 Kelurahan Lempake Samarinda Utara. Di Sekolah Sungai Karang Mumus (SeSuKaMu) dalam keteduhannya kita akan berupaya melepaskan diri dari panas politik elektoral untuk melihat dampak panas musim kemarau pada ketahanan air kita.

Kenapa ketahanan air?

Sebab kita selalu hanya mengeluh saat kebanjiran dan ingin air di yang secepat mungkin. Padahal air genangan banjir adalah peringatan tentang jumlah air yang kita sia siakan. Banyaknya genangan air pada musim banjir adalah pertanda jumlah air yang seharusnya kita simpan.

Lupa menyimpan air pada saat musim hujan, hasilnya akan kita lihat di Sungai Karang Mumus seperti pada foto di atas. Jadi marilah kita mulai belajar memanen dan menanam air hujan, bukan membuangnya cepat cepat lewat saluran drainase dan sungai menuju ke laut.

 Penulis: Yustinus Sapto Hardjanto adalah Advisor si Sekolah Sungai Karang Mumus, Samarinda

1 komentar “Sungaidroid

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *