aa
Ketua DPRD Kabupaten Mahulu, Novita Bulan (Antaranews Kaltim/M. Ghofar)

UJOH BILANG-NIAGA.ASIA-Sebagian surat suara di Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), Provinsi Kalimantan Timur, kemungkinan bakal bermalam di dua kecamatan perbatasan negara setelah dilakukan pencoblosan dan penghitungan, karena sangat membahayakan jika harus dibawa di hari yang sama.

“Meski harus bermalam karena letak geografis dan kondisi alam yang tidak memungkinkan, namun saya percaya dengan KPU Mahulu bahwa surat suara beserta kotak suaranya tetap aman dan dijaga ketat,” ujar Ketua DPRD Kabupaten Mahulu, Novita Bulan di Ujoh Bilang pada LKBN ANTARA, Minggu (10/3/2019).

Dia menuturkan bahwa surat suara yang harus diinapkan satu malam setelah dilakukan perhitungan itu sudah terjadi sejak puluhan tahun silam, yakni ketika belum adanya pemekaran daerah atau ketika Mahulu masih masuk Kabupaten Kutai Barat, bahkan ketika masih bergabung dengan wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara.

Termasuk saat Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) pertama Mahulu tahun 2015 setelah Mahulu resmi memisahkan diri dari Kutai Barat tahun 2013, sehingga bagi KPU dan masyarakat Mahulu tidak aneh tentang surat suara yang harus bermalam di kawasan hulu Mahakam itu.

Meski demikian, dia tetap mengingatkan kepada KPU setempat agar surat suara tersebut diinapkan di tempat yang benar-benar aman, netral, dan dijaga ketat agar semua pihak yakin bahwa hasil perhitungan suara tersebut tetap seperti semula.

Besar kemungkinannya surat suara yang harus menginap di kawasan perbatasan itu karena rata-rata perhitungan suara baru selesai sekitar pukul 17.00 waktu setempat, sementara satu-satunya akses yang harus dilalui adalah terdapat beberapa riam berbahaya, terutama Riam Udang dan Riam Panjang yang sudah banyak memakan korban. Terlebih bagi tiga kampung yang paling jauh, yakni Kampung Long Apari, Naha Silat, dan Kampung Naha Tivab yang harus melalui satu riam lagi yakni Riam 611 yang juga pernah memakan korban jiwa.

Di sisi lain, untuk melewati riam di hulu Mahakam itu tidak mungkin dilakukan pada malam hari dan tidak ada motoris speedboat yang berani, mengingat di siang hari saja perlu kewaspadaan tinggi ketika melintas di riam berarus deras dengan bebatuan cadas, apalagi di malam hari, tentu hal ini tidak mungkin dilakukan. “Memang inilah kondisi kita yang belum bisa dilalui jalan darat, sehingga satu-satunya akses adalah menerjang riam di Mahakam, jadi wajar saja kalau surat suara baru bisa dibawa ke Kantor KPU Mahulu keesokan harinya,” ucap Novita.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *