ilustrasi: usaha mikro, kecil, dan menengah. (Foto Istimewa)

JAKARTA.NIAGA.ASIA-Direktur Mikro Bank Rakyat Indonesia (BRI) Supari menyebut saat ini sudah masuk pada bulan ketujuh masa pandemi atau tepatnya September ini. UMKM berjuang untuk terus bertahan dengan berbagai cara.

“Para pelaku UMKM ini tabungannya sudah habis pada bulan kedua pandemi (April). Sekarang mereka untuk makan butuh pertolongan pihak ketiga. Pihak ketiga itu siapa? Ini pemerintah punya peran,” ungkap Supari saat menjadi  narasumber dalam talkshow bertajuk “Mendorong Usaha Mikro Bertahan di Masa Pandemi,” Selasa (22/9) yang disiarkan Channel FMB9.

Menurut Supari, Bantuan Sosial (Bansos) dari Kementerian Koperasi dan UMKM dan Bantuan Presiden (Banpres) Produktif dari Presiden Joko Widodo adalah salah satu cara menyelamatkan UMKM. BRI katanya memiliki jaringan data UMKM yang dibutuhkan pemerintah. Ia menjabarkan saat ini dalam ekosistem UMKM terbagi ke dalam 4 segmen.

Pertama Pelaku UMKM yang sangat rentan sekali dan perlu dibantu bansos atau Banpres produktif. Kedua, yang hanya bisa bertahan hidup dan jika memiliki pinjaman harus direkstrukturisasi.

“Jika situasinya pulih (dari pandemi), mereka butuh modal kerja, kalau tidak mereka hanya stuck di situ saja. Dan begitu persaingan usaha sudah berjalan, mereka akan kalah,” Supari menjelaskan. Makanya untuk segmen ini pemerintah telah menyiapkan bantuan lunak berupa Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Segmen yang ketiga, pelaku UMKM yang memiliki dana simpanan yang cukup tetapi belum mengembangkan usaha meski sudah menemukan potensi usaha baru. “Mungkin yang dulu hanya berjualan pakaian jadi, dan ketika melihat pertumbuhan penjualan pakaian seperti daster, maka dia akan ikut menjual itu,” lanjut Supari.

Ketika itu terjadi, para pelaku UMKM seperti itu membutuhkan tambahan modal usaha. Karena cashflow-nya menjadi terganggu dan restrukturisasi menjadi sangat penting. Di sini, menurut Supari pemerintah harus segera memberikan dukungan penuh pada para pelaku usaha baik yang menjual produk ataupun jasa dan atraktif pertumbuhannya perlu di-support modal kerja.

Lalu segmen keempat, pelaku UMKM yang memiliki dana simpanan banyak dan memiliki pinjaman kecil atau tidak sama sekali dan bisa bertahan selama 12 bulan ke depan. Para pelaku usaha ini tumbuh dan bisa saja sudah menemukan model usaha baru.

Ia mencontohkan pelaku usaha pandai besi berupa tukang las, membuat pagar besi dan sejenisnya, saat ini mungkin sudah tidak menerima pesanan lagi. Tetapi ia bisa mengalihkan dana simpanannya dan beralih usaha menjadi berjualan wastafel atau alat-alat cuci tangan yang saat ini memiliki kebutuhan tinggi.

“Dan seluruh segmen ini, pemerintah sudah ambil peran lewat berbagai program lewat skema stimulus. Dan semua sudah menjangkau UMKM. Tinggal nanti bagaimana mengendalikan masalah kesehatan menjadi lebih baik lagi,” ujarnya.

Supari optimis jika hal ini berjalan dengan baik, maka pertumbuhan ekonomi di tahun 2020 ini akan membaik seperti sediakala. Karenanya,  para pelaku UMKM harus terus dibantu melalui bansos dan banpres produktif selama pandemi berlangsung.

Sampai saat ini saja Supari menyebut penerima bantuan yang disalurkan BRI sudah mendekati 2 juta UMKM dan BRI saat ini sedang memvalidasi data sekitar 3 juta UMKM lagi yang akan menerima bantuan hingga akhir September.

Dalam kesempatan yang sama, salah satu penerima Banpres Produktif ialah penjual jamu gendong, Narsih yang menggeluti usaha ya selama 25 tahun. Ia menggunakan Banpres itu untuk modal dalam menggerakkan usahanya.

Ia mengaku proses menerima bantuan tidak ada kendala dan selaku nasabah BRI hanya mengisi formulir penerima bantuan. “Saya ditelepon BRI Cipulir, dipanggil disuruh ke (kantor) BRI, enggak tahunya dapat Banpres dua juta empat ratus rupiah. Saya buat usaha beli alat-alat jamu, sama rombong (gerobak) jamu dan sepeda, buat sehari-hari jualan,” ungkapnya. (*/001)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *