laut
Petani rumput laut di Nunukan menyerobot alur pelayaran. (budi anshori)

NUNUKAN.NIAGA.ASIA-Keberadaan tali-tali rumput laut sudah mengancam keselamatan pelayaran di Nunukan. Alur pelayaran laut  terus mengalami penyempitan akibat tidak adanya ketegasan Pemerintah Kabupaten Nunukan terhadap batasan usaha budidaya rumput laut oleh masyarakat  Nunukan dan  Sebatik.

“Banyaknya tali rumput laut membuat jalur navigasi pelayaran kapal di Nunukan melenceng hingga 4 kilometer  dari titik koordinat yang ditentukan,” kata Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Nunukan, Agus Subagio ketika berbicara dalam acara  coffe morning di Warung Kamtibmas, Selasa (10/4). Coffe morning dihadiri berbagai  instansi Kepelabuhan, Kelautan, dan perwakilan Pemkab Nunukan. Kapolsek KSKP Pelabuhan Tunon Taka Nunukan, AKP Eka Berlin bertindak sebagai moderator.

Menurut Agus,  keberadaan bentang tali-tali rumput laut jauh melintasi batasan larangan penggunaan laut. Perairan Nunukan memiliki rambu-rambu navigasi pelayaran yang fungsinya untuk penandaan kedangkalan dan kedalaman laut.

Danlanal Nunukan Keluhkan Alur Pelayaran Dipenuhi Tali Rumput Laut

Seiring berkembangnya rumput laut, keberadaan rambu mulai tertutup bentang  tali-tali rumput laut yang masuk melewati batasan larangan. “Rambu ini berkaitan keselamantan pelayanan. Jika rambu tertutup semua kapal tidak akan berani masuk Nunukan termasuk kapal pengangkut rumput laut,” kata Agus.

coffe
Masalah tali rumput laut dibahas dalam Coffe morning antar instansi Kepelabuhan dan Kelautan di Nunukan. (budi anshori)

Masuknya kegiatan budidaya rumput laut ke alur pelayaran, lanjut Agus, memaksa kapal-kapal memindahkan jalur yang mestinya mereka lintasi dan itu banyak dikeluhkan pemilik kapal karena dikuatirkan tali-tali tersangkut baling-baling kapal.

Perubahan alur pelayaran terlihat dari peta navigasi yang kini digunakan kapal, dimana terjadi perubahan jalur sekitar 2 not 3 mil atau sekitar 4 kilometer dari alur lintasan bebas yang biasa digunakan pelayaran sebelum ada rumput laut. “Perubahan jalur bisa membahayakan keselamatan pelayaran,  kapal dan speedboat kecil bisa terbalik karena  gelombang dan gusung,” beber Agus.

Dalam pertemuan sambil minum kopi itu,  Agus berharap semua instansi terkait dari pemerintah bisa menertibkan petani rumput laut sebab, jika terus dibiarkan, usaha rumput laut sewaktu-waktu akan menutup semua alur pelayaran.

Ia juga juga menerangkan bahwa pernah kejadian, beberapa bentangan rumput laut pernah putus karena dilintasi kapal dan speedboat penumpang, pemilik rumput laut komplain dan  melapor ke KSOP agar jalur speedboat diawasi atau dipindahkan lebih ke luar. “Saya malah bingung siapa salah dan siapa benar ini,” tanya Agus.

Sementara itu Kapolsek KSKP Pelabuhan Tunon Taka Nunukan, AKP Eka Berlin selaku moderator coffer morning mengatakan, persoalan rumpur laut harus dilihat dari dua sisi yaitu ekonomi rakyat dan keselamatan pelayaran. “Ekonomi rakyat harus berjalan, tapi keselamatan penumpang juga harus diperhatikan, jangan sampai merusak satu sama lain,” bebernya.

Penentuan batas navisasi  tidak akan dilanggar apabila Pemkab Nunukan  tegas menentukan batas larangan. “Yang terjadi saat ini adalah, kurangnya sosialisasi dari instansi daerah kepada petani tentang larangan batasan itu. “Saya melihat dari sisi keamanan masyarakat. Tolong semua pihak memperhatikan mana masalah laut kita,” tutupnya. (002)

 

Berita Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *