Tangani Perusahan Sawit Pelanggar HGU, Andi Akmal Minta Pemerintah Tak Masuk Angin

Anggota Komisi IV DPR RI Andi Akmal Pasluddin. Foto: Arief/nvl

JAKARTA.NIAGA.ASIA-Anggota Komisi IV DPR RI Andi Akmal Pasluddin menyampaikan, di tengah hasil devisa ekspor sawit mampu mencapai  Rp300 triliun per tahun, serta mampu menyerap tenaga kerja dan petani hingga 16 juta orang, namun masih ada beberapa persoalan di dalamnya, termasuk adanya perusahaan yang melanggar Hak Guna Usaha (HGU).

Menurut Akmal, kelapa sawit merupakan salah satu komoditas ekonomi kerakyatan. Dengan adanya kelapa sawit, infrastruktur, perekonomian, bahkan tingkat edukasi di daerah terpencil menjadi meningkat.

“Sangat disayangkan, di kawasan Papua dan Papua Barat, masih terjadi konflik lahan kelapa sawit terkait HGU. Saya minta pemerintah tidak masuk angin, atau terpengaruh dengan tindakan apapun terkait adanya pelanggaran perusahaan yang tidak bayar pajak hingga menanam di luar izin,” tutur Akmal dalam siaran persnya, Selasa (2/11/2021).

Saat ini, tambah politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tersebut, moratorium sawit masih berlangsung dibawah regulasi Inpres Nomor 8 Tahun 2018.  Persolan perkebunan kelapa sawit ini bukan hanya di Papua, di Jambi pun kerap di temui konflik orang rimba kerap terjadi. Pemicu utama konflik dimana orang rimba terpaksa hidup menumpang di tengah perkebunan kelapa sawit jambi terus berlangsung.

Dikatakannya, contoh kasus terbaru yang sudah mulai ramai adalah konflik anggota kelompok Orang Rimba  yang berujung aksi anarkis. Konflik yang menuai kerugian dari berbagai pihak ini mesti dapat di cegah di masa yang akan datang.

Untuk itu, Akmal meminta pemerintah agar setiap perusahaan yang berdiri mengeksploitasi tanah Indonesia, mesti membina orang-orang rimba yang secara turun temurun ada sejak sebelum perusahaan kelapa sawit berdiri.

“Selain konflik di tengah perkebunan kelapa sawit antara orang rimba dan perusahaan, petani sawit mandiri mesti dapat perlindungan terhadap persoalan harga.  Di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau, sawit dihargai Rp1800. Alasannya klasik persoalan biaya transportasi jemput dan kualitas. Padahal Petani ini kan sudah pakai bibit yang unggul dan merawat sawitnya dengan sebaik-baiknya,” ucap Akmal.

Selain itu, lanjut legislator dapil Sulawesi Selatan II tersebut, keberlangsungan petani sawit saat ini terancam dengan tingginya harga pupuk. Kenaikan harga pupuk rerata 60 persen sampai 120 persen dalam 8 bulan terakhir telah melewati batas kewajaran karena lebih tinggi daripada harga TBS sawit.

“Saya khawatir,  program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) dapat mengalami kendala besar karena persoalan pupuk ini. Pemerintah mesti memberi perhatian terkait persoalan pupuk untuk sawit ini, mengingat devisa dari sawit untuk negara ini per tahun mencapai ratusan triliun. Jangan sampai kondisi ini, di masa yang akan datang mempengaruhi terhadap penerimaan negara,” tutup Akmal.

Sumber : Humas DPR RI | Editor : Intoniswan

Tag: