Tarif Layanan PCR di RSUD Nunukan Sesuai Permenkes Rp525 Ribu

Direktur RSUD Nunukan dr. Dulman. (foto Budi Anshori/Niaga.Asia)

NUNUKAN.NIAGA.ASIA– Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Nunukan dr. Dulman memastikan tarif pemeriksaan Polymerase Chain Transcription (PCR) Covid-19 yang berlaku di RSUD Nunukan mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) tahun 2021, yakni Rp525 ribu.

“Tarif PCR untuk masyarakat umum berlaku sesuai Permenkes RI sekitar Rp 525 ribu,” kata Dulman pada Niaga.Asia, Senin (11/10).

Jadwal pemeriksaan PCR di RSUD Nunukan, dibuka dari Senin hingga Sabtu dengan waktu pengambilan sampel pukul 08:00 Wita sampai 10:00 Wita dengan lama waktu running hasil  dihitung mulai pukul 11.00 Wita. Hasilnya keluar sekitar 3 jam kemudian.

Layanan Pemeriksaan sampel PCR masyarakat umum dikenakan biaya penggunaan Reagen sebab, tidak memakai Reagen bantuan periodik yang disiapkan pemerintah baik dari Provinsi Kalimantan Utara maupun pemerintah pusat.

“Secara aturan Reagen bantuan pemerintah tidak boleh digunakan untuk masyarakat pelaku perjalanan, makanya kami beli Reagen menggunakan dana BLUD RSUD,” terang Dulman.

Berbeda dengan pemeriksaan PCR  bagi Pekerja Migran Indonesia (PMI) atau pasien RSUD Nunukan, segala kebutuhan ditanggung pemerintah, termasuk bagi masyarakat yang masuk dalam tracing penularan Covid-19.

Dua unit mesin PCR ditambah 1 mesin PCR mobile di RSUD Nunukan, merupakan bantuan pemerintah pusat dalam rangka mengatasi penularan pandemi Covid-19 di wilayah perbatasan Indonesia.

Penularan Covid-19 di Nunukan,  lanjut Dulman, sempat meningkat di bulan Juli dan Agustus 2021 bersamaan masuknya varian Delta. Jumlah pasien positif Covid-19 setiap harinya bertambah ratusan orang.

“Percuma kita setiap hari tracing penularan tapi sampel PCR-nya dikirim dan baru diketahui 1 minggu dari Surabaya,” terangnya.

Dibukanya pelayanan PCR di Nunukan sangat membantu kemudahan bagi pelaku perjalanan. Pelaku perjalanan  tidak perlu lagi pergi ke Tarakan mendapatkan PCR dan takut ketinggalan jadwal penerbangan.

Selama ini, masyarakat yang hendak berangkat dari Nunukan ke luar daerah, harus menyiapkan waktu 1 hari bermalam di Tarakan sekedar mendapatkan PCR, belum lagi harus menyesuaikan waktu penerbangan dengan masa berlaku PCR.

“Kadang waktu penerbangan dan PCR keluar berbeda jam, makanya banyak warga Nunukan bermalam di Tarakan sebelum berangkat,” sebutnya.

Keberadaan PCR secara tidak langsung dapat mengurangi penularan Covid-19. Sebab, tanpa hasil PCR, tim penanganan Covid tidak bisa menentukan seseorang apakah terpapar Covid-19 atau tidak.

Seseorang yang memiliki gejala mengarah pada Covid belum bisa dikatakan positif karena gejala penderita Covid hampir sama dengan gejala-gejala lainnya di dunia, karena itu, jangan terlalu berlebihan jika melihat seseorang memiliki penyakit.

“Memiliki gejala belum tentu positif Covid-19, namun kadang ada orang bisa-biasa saja tapi ternyata positif,” imbuhnya.

Penulis : Budi Anshori | Editor : Rachmat Rolau

Tag: