Kadis Perdagangan Nunukan H. Dian Kusumanto (foto Budianshori/Niaga.Asia)

NUNUKAN.NIAGA.ASIA-Virus Novel Corona di China tidak hanya membuat pemerintah seluruh dunia waspada terhadap penyebarannya, dampak dari virus mematikan ini ikut mempengaruhi ekonomi masyarakat, salah satunya terhadap harga jual rumput laut di Kabupaten Nunukan.

Terhitung sejak Januari hingga Februari 2020, permintaan rumput laut dari importir di China tidak ada, akibatnya harga jual rumput luat Nunukan mengalami penurunan cukup signifikan dari Rp 17.000/kilogram kering di tahun 2019, turun menjadi Rp 11.000 hingga Rp 10.000/kilogram kering

“Pengaruh imlek tahun baru China ditambah virus Corona yang saat ini melanda China,” kata Kepala Dinas Perdagangan Nunukan, H. Dian Kusumanto,” Kamis (6/2/2020).

Harga rumput laut secara nasional mengalami disaat perayaan imlek, hal ini selalu tejadi setiap tahunnya, para importir asal Indonesia akan menahan untuk membeli barang dengan alasan, Purchase Order (PO) perusahaan pembeli di China belum membuka pasar bisnis.

Menurut Dian, ekspor rumput laut ke China semakin tidak jelas paska isu virus corona. Perusahaan eksportir  Indonesia sampai hari ini belum menerima permintaan perdagangan ataupun pengiriman barang ke luar negeri.

“Isu virus corona sangat mempengaruhi perdagangan rumput laut, semua perusahaan China belum membuka impor rumput laut, termasuk sarang burung,” ucapnya.

Petani rumput laut di Jalan Tanjung Nunukan sedang menjemur hasil penen (foto : Niaga Asia)

Penutupan jalur transportasi di China hingga kekuatiran masuknya penduduk China ke wilayah untuk melakukan bisnis perdagangan membuat pelaku importir menahan diri untuk membeli rumput laut milik petani.

Dilain sisi, keterbatasan dana dan kebutuhan hidup sehari-hari memaksa para petani menjual rumput laut mereka, meski merasa merugi, petani terpaksa menjaul dengan harga dibawah pasaran,

“Alangkah baiknya rumput lautnya disimpan dulu menunggu harga stabil, tapi kemampuan keuangan petani terbatas, mereka terpaksa melepas dangan harga murah,” beber Dian.

Dian mengatakan, terhentinya perdagangan rumput laut ke China diharapkan menjadi pelajaran untuk pelaku importir ager kedepannya mencari negara-negara tujuan lainnya, perdagangan ruput laut bisa diarahkan ke Korea dan Jepang.

Korea dan Jepang termasuk dalam negara pembeli rumput laut dan sarang burung walet asal Indonesia, masyarakat kedua negara ini cukup menggemari makanan olahan rumput laut dan sarang burung.

“Ini pengalaman dan pelajaran buat kita semua, kedepan pelaku importir harus mencari negara lainnya, kalau china tertutup, bisa mengarahkana ke negara Korea dan Jepang,” bebernya.

Sementara itu, Ketua koperasi rumput laut Mamolo Sejahtera Kamaruddin menuturkan, hampir 75 persen rumput laut di Indonesia dipasarkan ke negara China, jika negara tersebut menutup pedangan, maka secara otomatis harga jual turun ditingkat petani.

“Kalau kondisinya seperti ini terus, saya yakin harga rumput laut bisa menyentuh Rp 7.000 atau bahkan dibawah lagi,” ungkapnya.

Selain persoalan virus corona, Kamarududin mempersoalkan masih rendahnya mutu rumput laut petani Nunukan, kadar kekeringan masih berada dikisaran 40-45, sedangkan standar kekeringan rumput laut impor dikisaran 35.

“Kalau mutu kita rendah, lama-lama pembeli bisa meninggalkan kita, apalagi sekarang sedang virus corona yang sudah pasti jumlah pesanan rendah,” tuturnya. (002)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *