aa
Kasubdit Pengamanan Lingkungan BNPT, Kolonel Czi Rahmat Sujendro (ketiga dari kiri) bersama Pengurus FKPT Kaltim dan narasumber dikegiatan Literasi Terorisme di Samarinda, Senin (8/10).(NIAGA.ASIA)

SAMARINDANIAGA.ASIA-Meski tidak harus mencurigai berlebihan terhadap pendatang yang pola bergaulnya agak tertutup, masyarakat Kalimantan Timur (Kaltim) harus tetap mewaspadai masuknya terduga teroris ke Kaltim sebab, berdasarkan pantauan BNPT (Badan Nasional Penanggulangan Teroris) Kaltim dinilai terduga teroris tempat paling aman untuk bersembunyi

Hal itu diungkapkan Kolonel Czi Rahmat Sujendro, Kasubdit Pengamanan Lingkungan BNPT Pusat ketika membuka kegiatan “Saring sebelum Sharing” Literasi Digital Sebagai Upaya Pencegahan Radikalisme dan Terorisme di Masyarakat yang diselenggaraka FKPT  (Forum Koordinasi Penanggulangan Teroris) Kaltim bekerjasama dengan BNPT Pusat di Samarinda, Senin (8/10). Hadir dalam kegiatan itu Ketua FKPT Kaltim, Dr H Hasyim Mi’radje, M.Si, Sekretaris, H Ahmad Jubaidi, S.Sos, M.Si, ketua-ketua bidang seperti, Endro S Effendi, , Abraham Ingan, Ahmad Bukhari, dan Hj Siti Rahmah.

Peserta kegiatan terdiri dari “Duta Damai Dunia Maya” FKPT Kaltim, mahasiswa dan mahasiswi dari perguruan tinggi negeri dan swasta di Samarinda dan Balikpapan. Sedangkan pemateri antara lain anggota Dewan Pers Jimmy Silalahi, Pemimpin Redaksi Surat Kabar Harian “Kaltim Post”. Peserta juga dilatih membuat konten positif di dunia maya.

AA
Peserta Workshop Konten Positif di Dunia Maya yang diselenggarakan FKPT Kaltim dan BNPT. (NIAGA.ASIA)

Menurut Rahmat, radikalisme dan terosrisme adalah ancaman nyata terhadap kemanusian dan negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sejak Januari-September 2018, BNPT mencatat Densus 88 telah menangkap terduga teroris sebanyak 353 orang, 170 orang diantaranya sudah ditetapkan sebagai tersangka, dan 25 orang diantaranya terpaksa ditembak karena mengancam keselamatan petugas dan umum.  Perkembangan terbaru adalah teroris memakai anak-anak balita, anaknya sendiri sebagai tameng melakukan aksi seperti di Surabaya.

“Sepanjang tahun 2018 aksi teror masih terjadi beberapa bulan terakhir sepertinya tidak ada aksi teror, tapi itu tidak berarti teroris sudah benar-benar hilang sebab, biasa saja mereka hanya “tiarap” dan bangun ketika situasi dan kondisi menguntungkan mereka, dari itu masyarakat tidak boleh lengah. Yang jelas kewaspadaan pihak keamanan tidak pernah menurun,” ungkapnya.

Rahmat mengatakan, teroris selalu aktif, bahkan jaringan semakin luas dengan menggunakan aneka macam sarana untuk saling berkomunikasi. Puluhan konten dan pembicaraan teroris berhasil diintersep di dunia maya sehingga gagal menyebarluaskan paham radikal.

Untuk mencegah Kaltim sebagai tempat persembunyian teroris, lanjut Rahmat, ke depan perlu penguatan aparatur desa, meliputi kepala desa dan pengurus desa, Babinsa dari TNI-AD, dan Babinkamtibmas dari Polri, segingga mampu mendeteksi dan mencegah masuknya paham radikal dan teroris di tenagh-tengah masyarakat. “Kita semua harus waspada, termasuk bisa membaca pergerakan teroris di dunia maya,” jelas Rahmat. (001)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *