aa
Pencarian korban gempa dan tsunami di Komplek Perumnas Balaroa Kota Palu. (Foto Basarnas Kaltim-Kaltara)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA-Tim SAR (Search and Resque) Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Kaltim-Kaltara, hari ini, Rabu (10/10) masih fokus melakukan pencarian orang korban gempa dan tsunami di Palu, (28/9) di Komplek Perumnas Balaroa, Kecamatan Palu Barat, Kota Palu yang paling parah terdampak likuifaksi atau tanah amblas. Dua hari di Perumnas Balaroa, Tim SAR Kaltim-Kaltara sudah mengevakuasi 20 korban dalm kondisi meninggal dunia.

Operasi pencarian korban yang dikomandani Iwan Setiawan Abbas mulai berjalan lancar karena sudah dibantu sebanyak 5 unit alat berat berupa excavator. “Pencarian korban dan pengangkatan puing-puing bangunan sudah lebih lancar karena ada alat berat,” kata Iwan melalui pesan di Grup WhatsApp Basarnas Kaltim-Kaltara, hari ini.

Menurut Iwan, dari pencarian yang dilakukan hari ini, tim belum menemukan lagi korban meninggal dunia. Sedangkan dari pencarian sehari sebelumnya, Selasa (9/10) tim berhasil mengevakuasi korban sebanyak 14 orang dalam kondisi meninggal dunia dan sudah sulit dikenali. Korban yang 14 orang itu, lanjut Iwan hanya bisa diidentifikasi, 5 orang dewas, 2 anak-anak, dan 7 tak dikenali.

Kemudian Tim SAR Kaltim-Kaltara yang berada di kelompok Tim 5, pada hari Senin (8/10), masih di Perumnas Balaroa, menemukan 6 korban, juga dalam kondisi sudah meninggal dunia. “Korban tersebut dari satu keluarga, yakni 1 laki-laki, 1 perempuan, 1 anak diperkirakan berumur 3 tahun bernama Abdullah Rafi, dan 3 lainnya tidak teridentifikasi,” ungkap Iwan. “Total korban berhasil dievakuasi selama 2 hari di Perumnas 20 orang,” katanya.

Tentang kendala yang dihadapi di lapangan, Iwan mengatakan, meski sudah dibantu alat berat, tapi tetap tidak mudah karena lokasi sudah berubah menjadi tanah berlumpur, kemudian permukiman juga luas, sedangkan bangunan rumah sudah berada dalam lumpur. “Bangunan rumah umumnya dari beton dan bagian-bagian rumah perlu digeser perlahan-lahan,” ujarnya.

Sementara itu BNPB mengungkapkan hingga Selasa malam (9/10) jumlah korban tewas terdampak gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah (Sulteng)  seperti dicemaskan terus bertambah, kini tercatat 2.010 orang, dan dalam pencarian terakhir ditemukan 46 jenazah

Juru Bicara BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, sejauh ini, korban tewas paling banyak ditemukan di Palu yang mencapai 1.601 orang. Sementara di Donggala 171 orang dan Sigi 222 orang. Sedangkan korban hilang hingga kini mencapai 671 orang. “Untuk sementara sebuah desa terkucil di Donggala sudah mendapat bantuan untuk pertama kalinya, melalui helikopter,” katanya.

Ia juga menegaskan, lembaga-lembaga asing yang hendak turut memberikan bantuan kemanusiaan, jika tidak melalui mitra Indonesia, akan diusir, sebagaimana terjadi pada sejumlah relawan Prancis yang baru dipulangkan.

aa
Evakausi korban gempa dan tsunami yang ditemukan Tim SAR Kaltim-Kaltara di Perumnas Balaroa Kota Palu. (Foto Basarnas Kaltim-Kaltara)

 

Berita Terkait