Tindak Pidana Pencucian Uang Hasil Narkoba Capai Lebih Rp6 Triliun

Konferensi pers pengungkapan kasus 466,19 kg sabu di Jakarta, Rabu (17/2/2021). (Foto : HO/BNN RI)

JAKARTA.NIAGA.ASIA – Kejahatan narkotika tidak terlepas dari tindak pidana pencucian uang (TPPU). Beberapa kasus yang telah diungkap oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) RI bahkan menunjukan aliran dana yang cukup fantastis dalam pencucian uang hasil kejahatan narkotika mencapai lebih dari Rp6 Triliun.

Melihat eratnya keterkaitan itu, BNN RI sebagai leading sektor penanganan narkotika terus memperkuat kerja sama dengan stakeholder terkait, salah satunya yaitu Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK).

Kepala BNN RI Petrus Reinhard Golose saat menerima kunjungan Kepala PPATK yang baru saja dilantik pada Oktober lalu, Ivan Yustiavandana menyampaikan, BNN berkomitmen penuh memerangi pencucian uang dalam kaitannya dengan kasus tindak pidana narkotika.

“Kerja sama BNN dan PPATK memang bukan hal yang baru. Keduanya telah melakukan penandatanganan nota kesepahaman pada tahun 2020 sebagai perpanjangan dari kerja sama yang telah ditandatangani pada 2017,” kata Kepala Biro Humas dan Protokol BNN RI Sulistyo Pudjo, dikutip Niaga Asia dari keterangan tertulis, Selasa (9/11).

Kolaborasi kedua lembaga itu juga telah banyak membuahkan hasil. Sepanjang tahun 2014 sampai dengan 2018, BNN dan PPATK berhasil mengungkap Rp6,4 triliun TPPU dari tindak pidana narkotika.

Kunjungan perdana Ivan Yustiavandana Senin (8/11) ke kantor BNN, Cawang, Jakarta, diharapkan dapat memperkuat kerja sama kedua lembaga ke depan.

“Sebagai simbol kolaborasi BNN dan PPATK dalam perangi pencucian uang pada kasus narkotika, Kepala BNN memberikan jaket war on drugs saat mengakhiri pertemuan,” demikian Pudjo.

Sumber : Humas BNN RI | Editor : Saud Rosadi

Tag: