Kegiatan trauma healing di lokasi pengungsian korban kebakaran Inhutani Nunukan (Foto : Budi Anshori/Niaga.Asia)

NUNUKAN.NIAGA.ASIA – Kejadian bencana terkadang meninggalkan luka mendalam seperti trauma, depresi, perasaan tertekan dan was-was. Apalagi pada mereka yang masih berusia anak-anak, yang belum mampu mengontrol emosi.

Musibah kebakaran yang melanda pemukiman penduduk di Pasar Inhutani Nunukan, secara tidak langsung meninggalkan duka dan kesedihan. Selain itu juga, tidak sedikit dari keluarga korban memiliki anak-anak usia 5-12 tahun.

Untuk mengatasi munculnya trauma, depresi dan perasaan tertekan pascabencana, TNI/Polri bersama Wahana Pendidikan Perbatasan (WPP), dan juga komunitas Kumpul Untuk Beramal (Kumal), mendirikan posko Trauma Healing, di lokasi pengungsian korban kebakaran.

Posko Trauma Healing berdiri tepat di pintu masuk lokasi pengungsian pasar Pujasera Nunukan. Dimana, setiap hari sejumlah relawan WPP dan Kumal berkumpul memberikan hiburan dan pelajaran, hingga bermain bersama anak-anak.

“Posko Trauma Healing dibuka dari pagi hingga jam 6 sore,” kata Ketua WPP Nunukan AKP Eka I Berlin, Rabu (13/1).

Gangguan kejiwaan pascabencana adalah hal lazim di tengah bencana dan sesudahnya. Rasa tak berdaya dan depresi menjadi problem serius. Oleh karena itu, korban kebakaran memerlukan pertolongan untuk mengurangi risiko gangguan mental, akibat trauma.

“Kesedihan anak-anak korban kebakaran, setidaknya akan berkurang dengan adanya hiburan dan bermain game. Lewat Trauma Healing pula, kami berusaha memberikan semangat kepada mereka,” ujar Eka.

“Kami siapkan permainan badut dan game floor, buku-buku bacaan, bernyanyi bersama, snack atau makanan ringan,” sebut Eka menambahkan.

Sejak dibukanya posko Trauma Healing dibuka, beberapa organisasi dan lembaga seperti Tagana Dinas Sosial Nunukan, Pramuka Saka Bhayangkara, ikut mengisi kegiatan bermain dan belajar bersama anak-anak.

Anak-anak sangat bergembira, tidak terlihat kesedihan ataupun termenung dan membatasi interaksi sosial. Menghabiskan waktu bersama dan berbicara tatap muka, adakah cara ampuh membuang peristiwa traumatis.

“Dengan cinta dan dukungan, pikiran dan perasaan stres traumatis yang mengganggu anak, dapat memudar dan secara perlahan mental anak kembali pulih,” sebut Eka.

Dalam situasi pendemi Covid-19, kegiatan Trauma Healing diatur secara ketet dengan mengedepankan protokol kesehatan. Setiap peserta yang masuk ke Posko, diharuskan memakai masker dan juga mencuci tangan. “Kami siapkan tempat cuci tangan. Diminta pula mereka memakai masker dan sebisa mungkin menjaga jarak,” pungkasnya. (002)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *