Triwulan I-2021, Pendapatan Pajak Ekspor Impor di KPPBC Nunukan Capai Rp 16 Miliar

Kepala Seksi Penindakan dan Penyidikan (P2) KPPBC Nunukan Sigit Trihatmoko (Foto: Budi Anshori/Niaga Asia)

NUNUKAN.NIAGA.ASIA – Pendapatan negara berasal dari pajak biaya masuk (BM) dan biaya keluar (BK), di Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Nunukan, Triwulan I-2021 (Januari hingga Maret) tahun 2021 mencapai Rp 16.362.121.000.

“Realisasinya 128 persen dari target Rp12,2 miliar,” kata Kepala Seksi Penindakan dan Penyidikan (P2) KPPBC Nunukan Sigit Trihatmoko, kepada Niaga Asia, Rabu (07/04/2021).

Menurut Sigit, secara matrikulasi, penerimaan pajak KPPBC Nunukan tumbuh positif. Namun secara nasional, pendapatan ini sejalan di semua kantor Bea Cukai.

“Perhitungan pendapatan pajak negara bersumber dari ekspor (BK), disesuaikan dengan Peraturan Menteri Keuangan (PMK),” ujarnya.

Ada 5 jenis komoditi yang dikenai biaya keluar, yakni, Crude Palm Oil (CPO), mineral barang tambang, biji coklat, kayu dan bahan baku sepatu.

“Khusus untuk Kabupaten Nunukan, pendapatan pajak ekspor BK dihasilkan dari penjualan CPO perusahaan sawit, yang nilainya mencapai Rp 10 miliar lebih dalam 3 bulan terakhir,” ungkap Sigit.

Tingginya pendapatan dari CPO, dikarenakan harga jual di luar negeri naik. “Perhitungan pajak ekspor CPO dibagi lagi sesuai jenis. Mulai jenis tandan buah segar utuh, CPO olahan pertama, sampai produk turunannya,” sebutnya.

Pembeli CPO oleh pabrikan produsen sebenarnya masih dalam ukuran standar. Namun karena permintaan luar negeri sangat tinggi, sedangkan kemampuan suplai rendah.
“Saat ini terjadi rebutan pembelian CPO yang sangat tinggi, menyebabkan harga tinggi,” katanya.

Bagi produsen CPO, tidak masalah dipungut bea keluar miliaran, karena harga jual CPO juga tinggi.

Terlepas dari BK, Bea Cukai tahun 2021 menerima pula pendapatan dari BM atau dari barang impor barang yang masuk ke Nunukan, tercatat Rp 5 miliar lebih. Terbesar dibayar PT Pipit Mutiara Jaya (PMJ).

“Pajak impor atau BM PT PMJ diambil dari masuknya barang-barang material, untuk pembangunan pabrik kelapa sawit,” ujarnya lagi.

Penghasilan negara dari BM dan BK diprediksi akan terus naik di tahun 2021, imbas mulai normalnya aktivitas pabrikan dan produsen di luar negeri.

Sigit mengatakan, indikasi bangkitnya ekonomi dunia, dapat dilihat dari tingginya permintaan bahan baku dari perusahaan-perusahaan kosmetik, minyak makan dan lainnya di luar negeri.

“Saya melihat ekonomi mulai bangkit, tinggal bagaimana pemerintah mendukung industri ini,” pungkasnya.

 

Penulis : Budi Anshori | Editor : Rachmat Rolau

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *