Ruang Tulip di RSUD AW Syachranie yang digunakan sebagai ruang isolasi penyakit infeksi menular. (Foto : Niaga Asia)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA – Amukan pasien dalam pengawasan (PDP), N (52), di RSUD AW Syachranie Samarinda, Jumat (10/4) lalu, yang berujung pemulangan pasien hasil tracing klaster Gowa di hari yang sama, menyisakan masalah. Meski, yang bersangkutan kembali masuk isolasi di RSUD IA Moeis per Sabtu.(11/4) kemarin.

Beredar kabar, amukan N lantaran tidak mendapatkan layanan perawatan yang baik oleh petugas medis. Namun manajemen RSUD AW Syachranie memastikan kabar itu tidak benar.

Niaga Asia mendapatkan rekaman suara berdurasi 2 menit 23 detik. Dari isinya, merupakan suara wanita yang menuding perawat di rumah sakit tidak merawat pasien N dengan baik.

Belum diketahui dengan jelas, identitas pemilik suara itu. Bahkan, rekaman suara itu beredar melalui Whats App Messenger hari ini. Diduga, itu rekaman percakapan pada telepon selular.

Beredarnya rekaman itu, membuat manajemen rumah sakit milik Pemprov Kaltim itu angkat bicara, dan membuat penjelasan tertulis kepada wartawan.

“Sehubungan dengan beredarnya rekaman suara yang menyebutkan kenapa pasien N yang sudah dirawat di RSUD AWS, akhirnya dipulangkan karena tidak dilayani dengan baik atau merasa diacuhkan oleh petugas adalah tidak benar,” kata Humas RSUD AW Syachranie Samarinda dr Arysia Andhina, mengawali penjelasan dia, Minggu (12/4).

Dia menerangkan, sejak pasien pulang dari kegiatan di Sulawesi Selatan, sudah dipantau oleh Dinkes Samarinda, bersama dengan beberapa orang yang ikut kegiatan yang sama, dengan status orang dalam pemantauan (ODP).

“Selama dalam pemantauan (masa inkubasi), di rumah yang bersangkutan ternyata timbul beberapa keluhan pasien. Dari rapid test, yang dilakukan DKK Samarinda menunjukkan hasil reaktif/positif, sehingga status pasien dinaikkan menjadi PDP. Selanjutnya DKK Samarinda berkoordinasi dengan RSUD AWS, untuk pasien bisa dirujuk ke AWS bersama 2 orang pasien lainnya yang sama-sama menghadiri kegiatan tersebut sebelumnya dengan status yang juga dinaikkan menjadi PDP, dari hasil rapid test,” ujar Arysia.

Arysia menerangkan, masih dari rekaman itu, terkait larangan salat dan lainnya, juga tidak benar. Sebab, semua pasien bisa dengan bebas melakukan ibadah sesuai dengan keyakinan masing-masing.

“Perlu diketahui bahwa penanganan pasien di ruang isolasi Covid berbeda dengan penanganan pasien di ruang perawatan lainnya. Dimana ruang isolasi adalah zona merah di rumah sakit, dan petugas menggunakan APD level 3,” ungkap Arysia.

“Pasien hanya bisa kontak dengan petugas yaitu dokter, perawat, analis yang mengambil sampel untuk swab, dan petugas radiografer untuk tindakan foto rontgen,” tambah Arysia.

Masih dijelaskam Arysia, kesepakatan untuk memulangkan pasien diambil oleh DPJP, manajemen RS, Dinkes Samarinda. “Karena pasien bertindak secara fisik yg membahayakan diri sendiri, petugas dan pasien yang lainnya,” demikian Arysia.

Tidak hanya itu, melalui Arysia, Plt Direktur RSUD AW Syachranie Samarinda dr David Hariadi Masjhoer SpOT, juga mengirimkan surat terbuka terkait rekaman suara itu, kepada wartawan.

Berikut isi surat terbuka itu :

Surat terbuka plt. Direktur RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda

Kepada Yth
Ibu yang memiliki suara di rekaman ini.

Kami mohon kepada ibu untuk bisa menyampaikan klarifikasi tertulis kepada kami terkait ucapan ibu tentang pelayanan di RSUD AWS tentang pasien dengan status PDP yang kami rawat di ruang isolasi covid19.

Kami tunggu klarifikasinya sampai hari senin 13 april 2020, jam 15.00 WITA

Bila tidak ada klarifikasi sampai batas waktu tertentu, akan kami laporkan ke pihak yang berwajib karena telah menyebarkan berita yang tidak benar.

NB: saat ini kami telah melakukan pelacakan bekerja sama dengan diskominfo

Wassalam,
Samarinda, 12 April 2020

 

Plt. Direktur RSUD AWS.

 

“Iya benar, itu surat terbuka dari Pak Direktur,” tegas Arysia memastikan saat dikonfirmasi kembali Niaga Asia. (006)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *