Anggota DPRD Nunukan Dapil Krayan Wilson (foto Budi Anshori/Niaga.Asia)

NUNUKAN.NIAGA.ASIAPembangunan Puskesmas baru senilai Rp6.855.000.000 di wilayah Kecamatan Sebatik Utara, menimbulkan kecemburuan masyarakat di  kecamatan lainnya yang sampai hari ini belum memiliki fasilitas pelayanan Puskesmas.

Anggota DPRD Nunukan Dapil III (Kecamatan Krayan)  Wilson menyebutkan, Pemerintah Nunukan hingga saat ini belum sepenuhnya menerapkan nilai keadilan dalam menyusun program pembangunan infrasturktur.

“Kecamatan Sebatik Utara sudah punya Puskesmas Lapri, tiba-tba muncul lagi pembangunan Puskesmas baru di kecamatan yang sama,” katanya, Kamis (18/06).

Sebagai warga perbatasan Indonesia di Kecamatan Krayan,  ujar Wilson, dia dan masyarakat merasa sangat tersisih dan kurang mendapat perhatian baik dari pemerintah daerah dan pusat, karena sampai hari ini belum mampu menyiapkan Puskesmas di semua Kecamatan Krayan.

Perbatasan Indonesia di Krayan memiliki lima kecamatan yaitu, Krayan Induk, Krayan Selatan, Krayan Timur, Krayan Utara dan Krayan Barat. Di lima kecamatan itu, baru 2 kecamatan memiliki pelayanan Puskesmas.

“Puskesmas adanya di kecamaan Krayan Induk dan Krayan Selatan, sedangkan 3 Kecamatan lainnya hanya dilayani Puskesmas Pembantu (Pustu),” ungkapnya.

Pada tahun 2014, pemerintah membangun Rumah Sakit (RS) Pratama Krayan, proyek fisik yang menghabiskan anggaran Rp19.539.968.000 tidak difungsikan, maka,  wajar jika masyarakat menyebutnya dengan bangunan rumah hantu.

Akibat terbatasnya pelayanan kesehatan, banyak warga disana menolak dilakukan pengambilan Swab. Salah satu yang bikin mereka takut adalah ketika harus dikirim ke Nunukan untuk menindaklanjuti penularan itu.

“Bayangkan jika wabah pandemi ini menyebar di Krayan, apa tidak mati semua disana, syukurlah hasil swab disana negatif,” terang Wilson.

Karena itulah, lanjutnya, rakyat mendesak pemerintah segera mengaktifkan RS Pratama, selain mempermudah pelayanan kesehatan, keberadaan rumah sakit setidaknya memperpendek waktu dengan tidak perlu lagi melakukan rujukan ke Nunukan.

Warga -warga pedalaman di Krayan sebatas mengandalkan keberadaan Pustu yang pelayanannya tidak aktif setiap hari, terkadang tutup berhari-hari dikarenakan keterbatasan tenaga medis, belum lagi kondisi Pustu yang hampir roboh.

“Coba lihat pustu-pustu di Krayan hampir roboh, apalagi datang kerbau menggosok badannya disana, tidak lama roboh bangunan,” bebernya.

Wilson menuturkan, lima kecamatan di Krayan masih bagian dari Indonesia yang memiliki hak sama dengan kecamatan lainnya, pemerintah jangan hanya berpikir membangun di Kecamaan Nunukan dan Sebatik.

“Katanya tiap kecamatan harus ada Puskesmas, lalu kenapa usulan Musrembang kami setiap tahun minta Puskesmas tidak pernah dihiraukan,” ungkapnya. (adv)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *