Upayakan Restorative Justice, Polsek Nunukan Mediasi Keluarga yang Anaknya Saling Adu Jotos

Kanit Reskrim Polsek Nunukan Iptu Rianto (istimewa)

NUNUKAN.NIAGA.ASIA – Penyidik Reskrim Polsek Kota Nunukan kembali menjadwalkan pertemuan mediasi kepada pihak keluarga pelapor maupun keluarga korban dalam kasus perkelahian dua remaja putri di Kecamatan Nunukan.

“Hari ini kita buat undangan tertulis mediasi ditujukan kepada masing-masing pihak keluarga,” kata Kanit Reskrim Polsek Nunukan Iptu Rianto kepada Niaga Asia, Selasa (12/10).

Upaya penyelesaian perkara telah dilakukan sebelumnya dengan panggilan lisan pertama. Namun demikian undangan mediasi berakhir gagal, dikarenakan salah satu pihak keluarga berperkara tidak bersedia menghadiri pertemuan tersebut.

Begitu pula pada undangan lisan kedua, salah satu pihak kembali tidak menghadiri pertemuan. Sehingga, kepolisian mengambil keputusan harus membuat surat undangan tertulis dengan jadwal pertemuan ulang tanggal 13 Oktober 2021.

“Undangan mediasi lisan pertama dan kedua gagal menghasilkan keputusan karena satu pihak tidak bersedia hadir,” ujar Rianto.

Untuk rencana mediasi besok hari, Polsek Nunukan akan melibatkan pendampingan dari Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Nunukan.

Keterlibatan DP3AP2KB dalam mediasi dan penyelesaian perkara menunjukkan bahwa polisi mengedepankan Restorative Justice, di mana pihak-pihak duduk bersama memecahkan masalah dan memikirkan bagaimana mengatasi terhadap pihak korban dan pelaku hukum.

“Kita coba dudukkan mereka dalam musyawarah mencari kebaikan, agar anak-anak yang terlibat perkelahian di bawah umur ini tidak terdampak pidana hukum,” terang Rianto.

Pertimbangan-pertimbangan dampak hukum inilah yang harus dipikirkan pihak keluarga. Sebab sangat tidak baik bila anak-anak memiliki catatan hukum hanya karena keributan yang seharusnya bisa diselesaikan secara damai.

Rianto menambahkan, penerapan restorative justice bukan artinya polisi memihak ke salah satu keluarga. Ditegaskan tidak ada yang dilindungi dalam perkara itu. Masing-masing pelapor ataupun korban sama di mata hukum.

“Jangan sampai karena masalah ini anak-anak memiliki catatan di kepolisian yang nantinya merugikan dikemudian hari,” ujarnya lagi.

Meski tetap mengedepankan mediasi, penyidik Polsek Nunukan tetap melakukan penyelidikan perkara. Hanya saja belum menyimpulkan siapa korban dan siapa pelaku ataupun menetapkan tersangka.

Diterangkan Rianto, perkelahian dua remaja putri pada Rabu 22 September 2021 sekitar pukul 21.00 WITA, di Jalan Lingkar Nunukan, berakhir dengan saling lapor dan mengaku sebagai korban pemukulan.

Kedua pihak yang terlibat perkelahian baik E (18) ataupun T (18) dalam laporannya menyatakan tidak terima atas penghinaan yang berawal dari saling mengunggah story di media sosial menyinggung perasaan.

“Perkelahian ini antara E dan T, menang pada saat kejadian banyak anak-anak, tapi bukan artinya semua melakukan pemukulan,” demikian Rianto.

Penulis : Budi Anshori | Editor : Rachmat Rolau

 

Tag: