Salah satu usaha amplang di Samarinda (foto : HO/Dinas Perindustrian Kota Samarinda)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA – Pandemi Covid-19 di kota Samarinda sejak Februari 2020 lalu, berdampak signifikan di berbagai bidang usaha, tidak terkecuali industri makanan. Pada awalnya, diyakini usaha makanan ini tidak begitu berdampak, marena merupakan kebutuhan primer. Apalagi bagi mereka yang sudah menerapkan strategi pemasaran secara daring, atau online.

“Awalnya, kami prediksi tidak terlalu signifikan penurunan yang terjadi di sektor makanan dan minuman. Tapi ternyata ada beberapa industi makanan yang terdampak luar biasa. Salah satunya adalah usaha amplang,” kata Kepala Dinas Perindustrian Kota Samarinda Muhammad Faisal, melalui keterangan tertulis, Kamis (24/9).

Faisal menerangkan, dampak industri makanan, juga imbas dari terpuruknya sektor pariwisata. Terutama kegiatan MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition), di kota Samarinda, dan Provinsi Kalimantan Timur umumnya.

“Pastinya ini imbas dari menurunnya kunjungan ke kota Samarinda, dan terpuruknya sektor pariwisata, di semua daerah. Sehingga kebutuhan akan oleh-oleh makanan berkurang signifikan,” ujar Faisal.

Hal ini terungkap gamblang dari hasil kunjungan pembinaan Dinas Perindustrian, di 5 tempat usaha dalam sepekan terakhir ini, di usaha amplang. Salah satunya, adalah amplang Panglima, dengan tempat produksi di Perum Graha Indah, yang sangat merasakan dampaknya dengan terhentinya pengiriman rutin setiap minggunya ke luar kota seperti di Jawa dan Bali.

“Saat pandemi Covid ini, kami tidak bisa lagi melakukan pengiriman rutin setiap minggunya keluar daerah. Biasa, rata-rata kami dapat melakukan pengiriman dengan total produksi sebanyak 1 ton lebih Amplang ke Jawa dan Bali. Bahkan ada juga ke Batam,” ungkap Maskien, kepala produksi amplang Panglima.

Lain lagi dengan amplang berlabel Kampung Amplang, yang berproduksi di Jalan Rumbi. Dimana, menurut Kepala Produksi yang biasa di panggil bang Inong ini, biasa dalam kondisi normal berproduksi rata-rata 15 kali dalam sebulan dengan rata-rata total sekali produksi sebanyak 300 kg Amplang, untuk kebutuhan di 4 outlet mereka, 2 outlet di Samarinda dan 2 outlet di Balikpapan.

“Sekarang hanya bisa berproduksi 2 kali saja sebulan atau maksimal 3 kali saja. Berat situasi ini, karena stok masih menumpuk di outlet,” sebut bang Inong.

Walau hanya berproduksi untuk kebutuhan lokal seperti saat ini, emua sepakat bahwa ada peningkatan permintaan lokal sejak dua-tiga bulan terakhir ini, akibat berlakunya masa relaksasi di kota Samarinda dan sekitarnya.

“Ada peningkatan sedikit untuk permintaan lokal dua bulan terakhir ini. Tapi untuk luar kota belum ada permintaan sama sekali, menguntip dari keterangan para kepala produksi tadi,” demikian Faisal. (006)

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *