AA
H Syaharie Jaang. (Foto Intoniswan/NIAGA.ASIA)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA-Walikota Samarinda, H Syaharie Jaang, pagi ini, Selasa (20/8) meresmikan  sekaligus tiga unit layanan informasi terintegrasi berbasis teknologi informasi (internet) milik Pemerintah Kota Samarinda yang dikelola oleh Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo)  Kota Samarinda. Tiga unit layanan yang diresmikan dan berada di Kantor  Diskominfo di  Balai Kota Samarinda itu  adalah Commando Center, Media Center, dan Data Center.

“Menggunakan teknologi informasi sudah menjadi keharusan. Teknologi informasi bisa mempercepat layanan, mengefisienkan waktu dan tenaga, pengambilan keputusan. Rapat-rapat bisa dilakukan setiap waktu dimana peserta tidak perlu hadir secara fisik dalam satu ruangan,” kata Syaharie Jaang saat memberikan sambutan sebelum pengguntingan pita persemian ketiga unit layanan berbasis internet tersebut.

“Saya pernah diundang Pak Kapolresta Samarinda (Kombes Pol Vendra Riviyanto) ke Mapolresta mengikuti rapat koordinasi Polres se-Kaltim menggunakan teknologi informasi. Dalam rakoor itu peserta tidak harus dikumpulkan di satu tempat, tapi di Mapolres masing-masing melalui video conferensi. Sangat efektif dan efisien. Model rapat mengunakan teknologi informasi itu bisa dicontoh,” kata Jaang, panggilan sehari-hari  walikota.

aa
Camera pengintai Pemerintah Kota Samarinda yang terhubung ke Commando Center di Diskominfo Kota Samarinda. (Foto Istimewa)

Walikota menegaskan, pelayanan ke masyarakat yang sifatnya selama ini masih manual harus beralih ke sistem digital dan online. Pengambilan nomor antrian di kantor-kantor pemerintah sudah waktunya bisa melalui online dan dibalas oleh instansi pemberi layanan sekaligus dengan memberitahukan jam dilayani.

“Lurah, Camat, kepala OPD (Organisasi Perangkat Daerah) harus ngerti memanfaatkan teknologi informasi. Sekarang sudah era revolusi 4.0, dimana dilakukan digitalisasi layanan publik. Kita di Pemkot Samarinda sudah ada E-Kelurahan, tapi masih harus ditingkatkan,” ujar Jaang setelaha menyerahkan hadiah kepada tiga kelurahan yang telah menggunakan aplikasi E-Kelurahan.

Menurut walikota, dirinya mengukur pemanfaatan teknologi informasi oleh OPD dari melihat halaman parkirnya. Kalau suatu OPD halaman parkirnya penuh oleh kendaraan, itu tandanya layanan masih menggunakan manual, belum maksimal menggunakan teknologi, sehingga masyarakat harus datang dan menunggu layanan berjam-jam.

“Salah satu yang membuat layanan lambat adalah menunggu tanda tangan pejabat. Saya mau dibuat tanda tangan digital bagi dokumen-dokumen yang tidak memerlukan tanda tangan basah (asli menggunakan pulpen). Tanda tangan digital bisa membuat masyarakat tidak harus menunggu lama,” kata Jaang.

Terintegrasi

                Kepala Diskominfo Kota Samarinda, Aji Syarif Hidayatullah dalam laporannya mengatakan, data Center berisikan data Pemerintah Kota Samarinda  yang sudah terintegrasi antar OPD, sehingga hanya ada satu data. “Misalnya data kawasan untuk pertanian, dengan adanya Data Center, tidak ada lagi perbedaan angka antara di kelurahan, kecamatan, Dinas Pertanian, atau BPS,” ujarnya. “Jadi kami di Kominfo mengintegrasikan data  yang sudah ada berbagai OPD,” ujarnya.

AA
Aji Syarif Hidayatullah. (Foto Intoniswan/NIAGA.ASIA)

Kemudian tentang Commando Center, Hidayat menerangkan, adalah pusat komando dan sekaligus pengendali pemberian pertolongan kepada masyarakat saat kebencanaan, ganguan kamtibmas, maupun darurat kesehatan (home care).

“Misalnya saat terjadi bencana kebakaran, dengan memproyeksi terlebih dahulu, bisa dikerahkan pemadam kebakaran dalam jumlah yang sepadan. Tidak seperti sekarang, saat kebakaran skalanya kecil, semua kendaraan pemadam keluar dari segala penjuru kota, tapi sebetelunya tidak perlu,” terang Hidayat.

Kemudian Media Center adalah tempat mempertemukan awak media (wartawan) dengan pejabat pemerintah ketika ada isu-isu yang tidak jelas asal-usulnya, atau menjelaskan program kerja  dan apa-apa yang sudah dikerjakan masing-masing OPD. “Output-nya informasi yang komprehensif ke masyarakat, tidak sepotong-sepotong dan menjadikan masyarakat bingung,” katanya. (001)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *