Warga Desa Binusan Tak Kunjung Merasakan Nikmatnya Listrik

Penduduk di Desa Binusan Dalam Nunukan rata-rata punya motor tapi rumahnya tak berlistrik, untuk mengisi baterai hape harus ke luar desa terlebih dulu. (foto Istimewa/Niaga.Asia)

NUNUKAN.NIAGA.ASIA-Memiliki luas wilayah sekitar 60,94 Kilometer dengan jumlah penduduk 476 Kepala Keluarga (KK), Desa Binusan Dalam yang merupakan pemekaran dari Desa Binusan di Kecamatan Nunukan, hingga kini warganya tak kunjung merasakan nikmatnya listrik.

“Desa kami memiliki 7 Rukun Tetangga (RK) dengan jumlah penduduk 1.834 jiwa,” kata Ketua RT 11 Desa Binusan Dalam Sappe pada Niaga.Asia, Senin (07/06/2021).

Sejak menjadi desa otonom tahun 2019, warga Desa Binusan Dalam, hingga kini tak mengenal apa itu listrik, pulsa token, dan apa listrik prabayar.

“Usia saya 35 tahun, sampai sekarang belum menikmati listrik, bagaimana sih rasa nya beli token listrik itu, penasaran saya,” kata Sappe.

Kalaupun ada penerangan listrik di Binusan Dalam, hanya rumah rumah milik warga di RT 6 dan RT 10, karena mendapatkan bantuan listrik tenaga surya dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara. Itupun tidak bertahan lama.

Sappe adalah warga Binusan Dalam yang lahir dan besar disana. Sebagai seorang ketua RT tentu banyak menerima keluhan dan keresahan masyarakat tidak hanya soal listrik,  tapi juga soal kebutuhan sembako karena sulitnya transportasi dari kota Nunukan ke desanya.

Tidak hanya persoalan itu, Sappe menuturkan, warganya juga kesulitan mendapatkan air bersih. Biasanya warga mengandalkan sumur gali dan itupun kadang kering karena musim kemarau. Berbagai macam kesulitan ini telah disampaikan ke desa induk dan kecamatan.

“Kami harus membiasakan dengan cahaya terbatas pada malam hari, kesulitan air dan sulitnya membeli sembako,” bebernya.

Harusnya,  kata Sappe, Desa Binusan Dalam berkembang selayaknya desa lainya, apalagi berada satu daratan dengan Pulau Nunukan. Terasa aneh sekali jika melihat wilayah di ibu kota kabupaten yang jaraknya tidak jauh terang benderang.

Tidak adanya jaringan listrik menyebabkan masyarakat mengisi baterai handphone berjalan jauh menuju desa induk, sementara anak-anak menunggu handphone untuk keperluan belajar online.

“Orang tua terpaksa beli HP untuk anak belajar daring, padahal kami rata-rata petani, ada 2 orang pegawai honorer penjaga kubur, jangan heran banyak buta aksara,” terangnya.

“Kadang warga menuju rumah ibadah berjalan di atas tanggul sambil meraba-raba dan saat hujan terendam banjir,” tambahnya.

Tanggapan PLN

Sementara itu, Kepala Unit Pelanggan Listrik (UPL) PLN Nunukan, Kalimantan Utara, Bambang Heryanto mengatakan, pemasangan jaringan listrik Desa Binusan Dalam sempat menjadi pembahasan dalam pertemuan bersama Bupati dan Sekda Nunukan.

“Waktu ketemu ibu bupati dan pak Sekda pernah bahas ini, saya bersama maajer  sudah sampaikan persoalan listrik di sana,” ucapnya.

Bambang menerangkan, pemasangan jaringan listrik baru harus dilihat berapa besar anggaran yang dikeluarkan. PLN dalam berinvestasi akan menghitung berapa banyak potensi pelanggan disatu tempat.

Jika jumlah penduduk disana cukup dan secara perhitungan masuk, warga desa bisa membuat surat ditandatangani seluruh warga untuk dikirimkan ke ULP Nunukan, surat permohonan nantinya disampaikan ke ULP Bulungan.

“Begini saja, buatlah surat ditandatangani semua warga, atas dasar permohonan itulah, nantinya PLN menindaklanjuti layak tidaknya investasi disana,” bebernya.

Penulis : Budi Anshori | Editor : Rachmat Rolau

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *