Pelabuhan Nunukan sebelum renovasi bernama Tunon Taka Nunukan dan setelah renovasi bernama pelabuhan Nunukan (foto Budi Anshori/Niaga.Asia)

NUNUKAN.NIAGA.ASIA-Penghilangan kata “Tunon Taka” di terminal Pelabuhan Nunukan yang baru dibangun di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara menuai protes warga pribumi suku Tidung karena dianggap menghilangkan ciri khas bahasa Tidung yaitu “Tunon Taka”.

Pelabuhan yang sebelumnya bernama Tunon Taka Nunukan itu berganti nama dengan Pelabuhan Nunukan. Pergantian nama pada fasilitas publik ini bersamaan dengan rampungnya pekerjaan fisik pelabuhan yang dikelola pihak Pelindo IV Cabang Nunukan.

Jika menilik sejarah, nama pelabuhan “Tunon Taka” telah ada sejak dulu dan ini menjadi satu bentuk penghargaan kepada warga pribumi yang berusaha keras melestarian bahasa daerah dan tokoh-tokoh warga suku tidung.

Sehingga, tidaklah berlebihan jika warga pribumi meminta pemerintah daerah ataupun BUMN pengelola fasilitas publik memberikan sebuah bangunan ataupun jalan umum menggunakan bahasa daerah tempatan.

Salah seorang Tokoh Pemuda Tidung Nunukan, Pangiran Eddy mengatakan, PT Pelindo Nunukan tanpa sadar telah menghilangkan sejarah daerah dengan hanya memasang nama Pelabuhan Nunukan tanpa lagi menyertakan Tunon Taka.

“Warga daerah mulai gerah, mereka menanyakan kenapa nama pelabuhan Tunon Taka diganti pelabuhan Nunukan tanpa menyertakan Tunon Taka,” bebernya.

Pelabuhan Nunukan sebelum renovasi bernama Tunon Taka Nunukan. (foto Budi Anshori/Niaga.Asia)

Kegelisahan pergantian nama pelabuhan tanpa koordinasi dengan warga daerah, karena itulah, para pemuda pribudi berencana datang ke Pelindo Nunukan meminta klarifikasi dan menjelasan alasan hilangnya kata Tunon Taka.

Nama Pelabuhan Tunon Taka adalah sebagai bentuk penghargaan yang diberikan kepada suku Tidung. Selain itu, ini sebagai bentuk penghargaan kepada suatu tempat, etnis, tokoh ataupun budaya pada suatu daerah adalah dengan mengangkat atau menjunjung tinggi kekhasan.

“Itu namanya pelabuhan sangat gede dipasang, biar dari Sebatik mungkin kelihatan. Kami warga Tidung dan group pusaka sangat keberatan dengan pergantian tersebut,” kata Eddy.

Eddy menilai, hilangnya nama pelabuhan Tunon Taka menjadi indikator bahwa keberadaan suku Tidung di Nunukan tidak dihargai. Keadaan ini dapat memancing sikap emosional, memancing rasa pembelaan terhadap adat dan budaya yang seakan dianggap tidak ada artinya.

Selain nama pelabuhan Tunon Taka, warga pribumi pernah mengusulkan stadion sepakbola di Nunukan diberi nama stadiun Datu Gani. Datu Gani adalah tokoh olah raga di Kabupaten Nunukan, begitu pula Bandara Udara Nunukan diberi nama Datu Duran Sulaiman.

“Usalan nama belum direspon, malah nama Tunon Taka di pelabuhan dihilangkan, ini suatu bentuk pelecehan terhadap penduduk asli pulau Nunukan,” ungkap Eddy.

Menanggapi persoalan ini, anggota DPRD Nunukan Andre Pratama menyatakan dukungan atas keinginan warga pribumi yang meminta fasilitas publik ataupun jalan di Kabupaten Nunukan diberikan nama berbahasa Tidung ataupun tokoh-tokoh warga tempatan.

“Nama Tunon Taka itu bersejarah sejak pelabuhan berdiri, Saya berharap PT Pelindo jangan mengganti tanpa konfirmasi tanpa ada pemberi kesepakatan nama Tunon Taka itu,” ucapnya.

PT Pelindo harusnya memahami dan menghargai sebuah sejarah orang-orang tua di Nunukan dalam memberikan nama pelabuhan dengan Tunon Taka, pasti ada sejarah dan cerita dibalik pemilihan nama tersebut.

Andre mencontohkan, pelabuhan laut di Medan bernama pelabuhan Belawan, masyarakat disana tidak harus memberikan nama pelabuhan Medan, begitu pula bandara udara Balikpapan diberi nama Bandar Udara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman.

“Sultan Aji Muhamad Sulaiman adalah tokoh sejarah di Kaltim, bentuk seperti inilah yang diharapkan warga pribudi dalam menghargai daerah mereka,” bebernya. (002)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *