dd
Ilustrasi daur ulang. (Shirley/Pixabay).

BANGKOK.NIAGA.ASIA-World Business Council for Sustainable Development (WBSCD) memperkirakan ekonomi sirkular atau konsep ekonomi yang menggunakan sumber daya alam melalui proses daur ulang atau pengolahan produk dapat menciptakan peluang bisnis hingga US$4,5 triliun (asumsi kurs Rp14 ribu per dolar AS) pada 2030 mendatang.

Konsep ekonomi sirkular merupakan pembaruan atau alternatif dari sistem ekonomi linear yang mengambil sumber daya, mengolah produk, lalu membuangnya menjadi sampah. Berbeda dengan ekonomi sirkular yang mendaur ulang untuk bisa digunakan kembali dalam rantai pasokan.

“Konsep ekonomi sirkular adalah inovasi dan revolusi dari sistem trandsional yang yang hanya mengolah dan mengkonsumsi. Ini dapat membuat sistem ekonomi global menjadi sangat efisien dalam penggunaan sumber daya,” tutur President and CEO WBSCD Peter Bakker dalam Sustainable Development Symposium 2018 di Bangkok, Senin (9/7).

Ia mengakui, konsep ekonomi sirkular ini memang mahal di awal karena membutuhkan inovasi. Namun demikian, konsep ini diperkirakan mampu mengurangi biaya operasional perusahaan dari penggunaan sumber daya, serta meningkatkan daya saing perusahaan yang menggunakannya.

Konsep ini bahkan diperkirakan mampu menciptakan peluang bisnis yang menjanjikan. “Ekonomi sirkular diperkirakan mampu mendatangkan kesempatan bisnis secara global senilai US$4,5 triliun pada 2030,” imbuh dia. Selain mendatangkan kesempatan bisnis, ekonomi sirkular juga diyakini mampu mengurangi emisi karbon dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat di dunia.

President and CEO Siam Cement Group (SCG) Roongrote Rangsiyopash menyebut terdapat tiga strategi utama dalam konsep ekonomi sirkular.  Pertama, mengurangi penggunaan material atau menggunakan material yang memiliki daya tahan lebih lama.  “Kami mengurangi sumber daya yang digunakan dalam proses pengolahan, salah satunya dengan menggunakan karton ramah lingkungan, yang mengurangi 25 persen penggunaan materal mentah tetapi memiliki daya tahan lebih lama,” terang dia.  Penggunaan karton tersebut, membantu mengurangi biaya transportasi, pengolahan, dan penjualan plastik sekali pakai dalam 10 tahun terakhir.

Kedua, meningkatkan inovasi. Melalui peningkatan inovasi dengan menggantikan produk dan material mentah yang digunakan selama ini menjadi produk yang lebih efisien dan mudah didaur ulang.  “Sebagai contoh, polietilena (PE) yang merupakan hasil peningkatan inovasi SCG yang dapat mendaur ulang dua kali material plastik,” jelas dia.

Ketiga, menggunakan kembali dan mendaur ulang. Pemilihan daur ulang produk dalam produksi ketimbang memproses sumber daya baru, mendukung seluruh perbaikan proses bisnis.
SCG merupakan perusahaan semen asal Thailand yang memiliki bisnis di Indonesia dan sudah menerapkan konsep ekonomi sirkular dalam 10 tahun terakhir. SCG mendorong perusahaan-perusahaan global lainnya di ASEAN untuk menerapkan konsep ekonomi ini demi mencapai pembangunan yang berkelanjutan di masa depan.

Sumber: CNNIndonesia.com

Berita Terkait