WHO Tunjuk Indonesia sebagai Tech Recipient Pengembangan Vaksin mRNA

Menlu RI, Retno LP Marsudi dalam pertemuan dengan Badan Kesehatan Dunia (WHO)  yang juga dihadiri GAVI dan COVAX Facility menunjuk Indonesia sebagai Tech Recipient dalam Program Pengembangan Vaksin mRNA di  Jenewa, Rabu (23/2/2022). (Foto Kemlu RI)

JENEWA.NIAGA.ASIA-Badan Kesehatan Dunia (WHO) dalam pertemuan di Jenewa, Rabu (23/2/2022) yang juga dihadiri GAVI dan COVAX Facility menunjuk Indonesia sebagai Tech Recipient dalam Program Pengembangan Vaksin mRNA.

Demikian disampaikan  Menteri Luar Negeri RI, Retno LP Marsudi yang hadir dalam pertemuan tersebut, dalam rilisnya hari ini, Kamis (24/2/2022).

“Dalam pertemuan tersebut, dibahas terkait alih teknologi mRNA. Dan selain dalam kapasitas nasional, pertemuan-pertemuan ini juga saya lakukan dalam konteks peran saya sebagai salah satu co-chairs dari COVAX AMC Engagement Group,” kata Retno.

Menurut Menlu, inti dari pertemuan adalah melakukan tukar pandangan mengenai kolaborasi untuk mendukung prioritas Presidensi G20 Indonesia terutama terkait prioritas di bidang kesehatan, melakukan tukar pikiran mengenai situasi pandemi saat ini, membahas tantangan ke depan.

Selain itu juga dibahas bagaimana mempersempit kesenjangan vaksin yang masih terjadi sampai saat ini, memberikan  update  mengenai pengembangan  vaksin di Indonesia.

“Dalam pertemuan dengan Dirjen WHO, saya menekankan bahwa Indonesia terus berkomitmen untuk terus memperjuangkan dan menyuarakan kesetaraan vaksin,” kata Menlu.

Menlu juga menyampaikan, terpilihnya Indonesia menjadi salah satu penerima transfer teknologi mRNA merupakan bukti kepercayaan dunia terhadap kapasitas Indonesia, khususnya Bio Farma sebagai penerima alih teknologi.

“Teknologi mRNA ini adalah teknologi paling mutakhir untuk mengembangkan vaksin dalam waktu paling singkat dan teknologi ini tidak mudah untuk dikuasai,” katanya.

Sebagai penerima alih teknologi, Indonesia akan mendapatkan pelatihan teknis pada skala industri, tata cara pengembangan vaksin skala laboratorium/klinis dan teknik quality control serta lisensi yang terkait.

Alih teknologi merupakan salah satu jalan untuk memastikan, sekali lagi, kesetaraan akses vaksin dan obat-obatan bagi semua negara, terutama negara berpenghasilan rendah dan menengah. Dan sangat penting dalam pandemi COVID-19 dan juga bahkan beyond COVID19.

Dikatakan Menlu, melalui alih teknologi, kapasitas kawasan dan lokal akan meningkat sehingga dapat menjadi solusi dalam memastikan kesetaraan akses, dan mendorong ketersediaan pasokan vaksin global.

“Tentunya kita berharap transfer teknologi ini dapat berkontribusi bagi upaya membangun ketahanan kesehatan nasional untuk jangka panjang. Dan transfer teknologi ini merupakan langkah awal dari berbagai langkah lain yang akan terus dilakukan pemerintah untuk membangun sistem ketahanan kesehatan yang lebih kuat,” terangnya.

Sumber: Kementerian Luar Negeri | Editor : Intoniswan

Tag: