JAKARTA.NIAGA.ASIA-Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus berupaya untuk melistriki seluruh rumah tangga di Indonesia. Salah satu yang dilakukan adalah dengan memanfaatkan tabung listrik (talis) untuk melistriki desa-desa yang berada di wilayah terluar, terdepan, dan tertinggal (3T). Sebanyak 52.000 talis direncanakan akan diberikan kepada rumah tangga di 306 desa yang berada pada wilayah dengan kondisi geografi yang tidak memungkinkan untuk dipasang jaringan listrik PLN.

“Cara yang baik untuk melistriki ini, adalah sebagian besar, sekitar 306 desa itu menggunakan talis. Karena demografi maupun geografinya berada di atas gunung, di bukit, ada yang berserak, sehingga mau tidak mau harus dengan talis. Kalau digunakan dengan grid tentu akan mahal dan tidak mungkin, losses sangat tinggi di sana,” jelas Direktur Pembinaan Program Ketenagalistrikan Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Jisman Hutajulu disitus esdm.go.id.

Jisman mengatakan, Kementerian ESDM telah bersepakat dengan Komisi VII DPR RI untuk mengalokasikan 25.000 talis pada anggaran Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) tahun 2021. Sementara untuk pengadaan 27.000 talis lainnya masih dilakukan koordinasi dengan Kementerian Keuangan.

“Telah diputuskan dari 52.000 kebutuhan talis di sana, sudah ada kesepakatan dengan komisi VII DPR RI pada rapat kerja kemarin (25 Juni 2020) untuk dialokasikan Ditjen EBTKE sebanyak 25.000 talis, dan dilaksanakan di tahun 2021,” terang Jisman.

Untuk penambahan daya pada talis, selain menggunakan energi matahari, juga akan disediakan Stasiun Pengisian Energi Listrik (SPEL) di beberapa tempat. Selain itu, setiap rumah tangga yang mendapatkan talis juga akan diberikan satu talis cadangan, sehingga ketika dilakukan pengisian daya, listrik di rumah tetap menyala.

“Jadi talis itu nanti sangat bermanfaat untuk daerah-daerah yang sangat sulit untuk dijangkau oleh jaringan PLN, karena sangat mudah handlingnya dan bisa di-charge menggunakan energi matahari. Selain itu, adanya namanya SPEL, nanti ditempatkan di beberapa tempat, mungkin di 30 rumah tangga ada 1 SPEL-nya. Kita juga berikan cadangan, supaya nanti polanya seperti LPG yang di rumah kita jadi nggak nunggu dia. Ini kita berharap ada cadangannya supaya masyarakat bisa menggunakan setiap hari,” tandasnya.

Jisman pun berharap pembagian talis bisa dilakukan di tahun depan, agar rasio desa berlistrik dan rasio elektrifikasi bisa mencapai 100%. “Mudah-mudahan tahun depan bisa kita realisasikan, sehingga rasio desa berlistrik dan rasio elektrifikasi bisa 100%,” ujarnya.

Sebagai informasi, per Juni 2020 rasio elektrifikasi telah mencapai 99,09% sementara rasio desa berlistrik sebesar 99,51%. Saat ini terdapat 433 desa yang belum berlistrik, 306 desa akan dilistriki menggunakan talis, 75 desa menggunakan PLTS Komunal atau PLTD Hybrid, sementara 52 desa lainnya akan dilistriki perluasan jaringan listrik (grid extension).

Smart Grid untuk Efisiensi Tenaga Listrik

Pada kesempatan yang sama, Jisman juga menerangkan terkait teknologi smart grid yang direncanakan akan dilakukan di tahun ini oleh PT PLN pada sistem Jawa-Bali. Jisman juga mengatakan smart grid telah masuk dalam Program Strategis Nasional (PSN).

“Smart grid ini banyak (jenisnya), yang penting dia jaringan cerdas, cerdasnya itu artinya bisa pembagkitnya, bisa pada komunikasi antara pelanggan dengan pengatur bebannya. Jadi bisa di hulunya dan bisa di hilirnya. Nah, untuk smart grid ini sebenarnya sudah kita masukkan di dalam PSN, dan PLN sendiri sudah merencanakan untuk segera dilaksanakan di sistem Jawa-Bali di tahun 2020 ini. Memang sudah ada beberapa percontohan yang sudah dilaksanakan,” jelas Jisman.

Penggunaan smart grid bertujuan untuk peningkatan efisiensi. Jisman mencontohkan, jika ada komunikasi dari seluruh pelanggan ke pengatur beban atau pemilik jaringan, bahwa di waktu tertentu hanya menggunakan listrik dengan jumlah tertentu, maka pengelola sudah bisa memastikan dalam waktu tersebut hanya menyediakan sejumlah yang dibutuhkan.

“Kami berharap ke depan, yang smart grid ini bisa digunakan baik untuk di kota sendiri, yang ujung-ujungnya supaya ada peningkatan efisiensi. Yang ada sekarang kadang-kadang disediakan pembangkitnya 30 MW, yang diserap hanya 15 MW, atau disediakan 20 MW, di saat tertentu ada penggunaan yang tinggi sehingga pembangkit harus bakar BBM, ini membuat tidak efisien. Jadi intinya smart grid ini sangat menguntungkan. Dan ke depan nanti untuk daerah-daerah yang 3T bisa digunakan untuk sistem yang isolated, yang ada di pulau sehingga ada efisiensi yang terjadi di sana,” tuturnya. (*/001)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *