
TENGGARONG.NIAGA.ASIA – Suara teriakan “Indo. Indo.” memecah sunyi dini hari sekitar pukul 02.00 WITA pada Senin (20/4/2026), di sebuah rumah sederhana di wilayah hukum Kecamatan Anggana, Kutai Kartanegara (Kukar).
Teriakan histeris penuh ketakutan itu bukan tanpa sebab, seorang remaja putri berusia 14 tahun berusaha menyelamatkan diri ketika seorang pria yang ia kenal, tetangga depan rumahnya, tiba-tiba masuk ke dalam kelambu tempat ia tidur.
Saat sebagian besar warga di kampungnya tertidur lelap, korban justru harus menghadapi situasi yang sangat mencekam, nyaris saja merenggut ‘mahkotanya’ di rumahnya sendiri.
Menurut keterangan Sekretaris Desa (Sekdes) di wilayah tersebut, Suhardi, korban langsung melawan saat terduga pelaku berusia sekitar 22-23 tahun itu mencoba merebahkannya.
Dalam kondisi panik, ia berteriak memanggil neneknya yang berada di dalam rumah yang sama, meski tidur di tempat berbeda tanpa sekat kamar.
“Korban sempat melawan dan berteriak. Itu yang menyelamatkan dia,” ungkap Suhardi saat mendampingi nenek korban melapor ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Kukar, Kamis sore (23/4/2026).
Teriakan itu membangunkan sang nenek. Tanpa pikir panjang, perempuan lanjut usia tersebut berusaha menolong cucunya. Ia bahkan sempat mengambil alu, alat untuk menumbuk padi, yang biasanya disiapkan sang nenek di dekat tempat tidur untuk berjaga-jaga ketika terjadi tindak kejahatan tak terduga.
Namun upaya itu malah berujung nahas. Saat hendak menyerang pelaku, kepala sang nenek tersangkut tali kelambu hingga ia terjatuh.
“Beliau sempat mau memukul, tapi tersangkut tali kelambu dan jatuh,” jelas Ketua TRC PPA Kaltim, Rina Zainun, yang turut mendampingi proses pelaporan.
Di tengah situasi kacau itu, terduga pelaku memanfaatkan celah untuk melarikan diri. Diduga, ia keluar melalui bagian belakang rumah yang terhubung dengan jamban tanpa pintu. Jejak kaki di tanah, di bawah jamban, memperkuat dugaan bahwa terduga pelaku kabur lewat jalur itu.
Korban dan neneknya pun mengaku sempat melihat jelas wajah pelaku. Bahkan, korban langsung menyebut nama terduga saat berteriak meminta pertolongan.
Ironisnya, informasi yang dihimpun dari pihak desa menyebut bahwa yang bersangkutan ini juga pernah terlibat kasus serupa saat masih di bawah umur.
“Dulu sempat ada kejadian juga, tapi karena masih di bawah umur, dia diberi toleransi. Harapannya tidak terulang, tapi sekarang terjadi lagi. Semoga mendapat pelajaran,” tambah Suhardi.
Pasca kejadian, kondisi korban dilaporkan masih mengalami trauma mendalam. Ia merasa ketakutan dan belum berani kembali beraktivitas normal di lokasi kejadian. Untuk sementara, korban memilih tinggal bersama keluarga lain di wilayah yang masih berada di Kecamatan Anggana.
“Secara mental masih belum stabil. Masih takut, apalagi kejadian saat dia tidur,” tuturnya.
Pemerintah desa pun mulai mengambil langkah antisipatif. Salah satunya dengan merencanakan sistem penjagaan malam guna mencegah kejadian serupa terulang.
Sementara, kasus ini telah resmi dilaporkan ke Unit PPA Polres Kukar. Pihak pendamping pun berharap agar proses hukum dapat berjalan cepat, mengingat kondisi psikologis korban yang masih terguncang.
“Kami ingin secepatnya ada tindak lanjut, agar korban mendapat kepastian hukum dan perlindungan,” tegas Rina Zainun.
Hingga kini, pihak kepolisian masih mendalami kasus tersebut. Identitas korban dan terduga pelaku belum diungkap ke publik, dengan pertimbangan perlindungan terhadap anak dan asas praduga tak bersalah.
Penulis: Lydia Apriliani | Editor: Intoniswan
Tag: Cabul