Bappebti Perkuat Kolaborasi dengan Pemerintah Daerah Sulawesi Selatan

Kepala Bappebti, Tirta Karma Senjaya. (Foto Bappebti/Niaga.Asia)

MAKASSAR.NIAGA.ASIA – Kepala Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Tirta Karma Senjaya mengatakan, peluang pemanfaatan SRG (Sistem Resi Gudang) di Sulawesi Selatan sangat besar seiring dengan makin terbukanya pangsa pasar ekspor komoditas Indonesia.

“Sulawesi Selatan memiliki potensi komoditas yang besar. Belajar dari keberhasilan ekspor rumput laut melalui Gudang SRG Makassar beberapa waktu lalu, ke depan, implementasi SRG di Sulawesi Selatan masih memiliki potensi besar untuk dikembangkan,” ujar Tirta dalam  Rapat Koordinasi Teknis (Rakortek) Percepatan Implementasi SRG di Kantor Kawasan Industri Makassar (KIMA), Makassar, Sulawesi Selatan, pada Jumat (24/4).

Pada Januari sampai dengan 17 April 2026, transaksi SRG di Indonesia mencapai Rp32,72 miliar dengan nilai pembiayaan Rp12,77 miliar. Terdapat 147 gudang SRG aktif yang dibangun oleh Bappebti maupun gudang swasta yang tersebar di 25 provinsi Indonesia (74 kabupaten/kota).

Dikatakan, saat ini, terdapat 12 gudang SRG yang dibangun oleh pemerintah dan 15 gudang SRG milik swasta di wilayah Sulawesi Selatan. Beberapa komoditas yang telah disimpan di gudang SRG antara lain rumput laut, karagenan, ikan, dan beras/gabah.

“Terdapat potensi pengembangan ekonomi daerah melalui implementasi SRG untuk 27 komoditas yang dapat disimpan di gudang SRG berdasarkan Permendag 3 Tahun 2020. Selain itu, melalui SRG, Pengelola Gudang SRG memiliki peluang untuk meningkatkan kompetensi dan komunikasi untuk memperluas akses pasar komoditas bagi produk yang mereka kelola,” lanjut Tirta.

Berbagai upaya terus dilakukan Bappebti untuk menjawab tantangan dalam implementasi SRG.

“Penguatan kompetensi Pengelola Gudang SRG, revitalisasi gudang SRG, pengembangan jenis komoditas yang disimpan di gudang SRG, peningkatan literasi kepada petani, serta koordinasi pemerintah pusat dan daerah bersama para pemangku kepentingan merupakan beberapa strategi yang diambil dalam mengoptimalkan SRG. Oleh karena itu, forum ini menjadi salah satu momentum penting yang akan kita optimalkan,” tegas Tirta.

Terdapat 27 komoditas di SRG, antara lain beras, gabah, jagung, kopi, kakao, lada, karet, rumput laut, rotan, garam, gambir, teh, kopra, timah, bawang merah, ikan, pala, ayam karkas beku, gula kristal putih, kedelai, tembakau, kayu manis, agar, karagenan, mocaf, pinang, dan tapioka. (Foto Kemendag/Niaga.Asia)

Kementerian Perdagangan melalui Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) bersama PT Kliring Berjangka Indonesia (PT KBI) mendorong semua pemangku kepentingan SRG di Sulawesi Selatan untuk terus memperkuat kolaborasi.

Rakortek ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan dalam rangka percepatan implementasi SRG, peningkatan sinergisitas, kolaborasi serta penguatan ekosistem SRG di wilayah Sulawesi Selatan.

Sehari sebelumnya, telah dilaksanakan sosialisasi dan bimbingan teknis yang dihadiri KOSPERMINDO, Dinas Perdagangan Provinsi Sulawesi Selatan, perbankan, lembaga keuangan, serta pelaku usaha rumput laut di wilayah Sulawesi Selatan.

Rakortek diikuti 38 peserta, yaitu Kepala Daerah Kabupaten Tanah Toraja, Sinjai, dan Toraja Utara, serta para Kepala Dinas dan perwakilan dinas yang membidangi perdagangan dari Kabupaten Bone, Luwu, Sidrap, Takalar, Bantaeng, Luwu Timur, Luwu Utara, Pinrang, dan Kota Palopo.

Turut hadir Direktur Utama PT KIMA beserta jajarannya; serta Ketua Koperasi Serikat Pekerja Merdeka Indonesia (KOSPERMINDO) sebagai Pengelola Gudang SRG. Selain Sekretaris Bappebti Ivan Fithriyanto, forum menghadirkan narasumber lainnya, yakni Kepala Biro Pembinaan dan Pengembangan SRG dan Pasar Lelang Komoditas (PLK), Diah Sandita Arisanti; Direktur Sumber Daya Manusia dan Hukum PT Danareksa (Persero) Andi Seto Gadhista Asapa; serta Direktur Operasional dan Pengembangan Bisnis PT KBI, Saidu Solihin.

Sekretaris Bappebti Ivan Fithriyanto mengingatkan peran penting SRG dalam ketahanan pangan Indonesia.

“SRG sebagai instrumen tunda jual dan alternatif pembiayaan berbasis komoditas dapat mendukung ketahanan pangan dan peningkatan ekspor. Peran strategis SRG menjadi bagian dalam program prioritas Kemendag dalam klaster Desa Bisa Ekspor,” ungkap Ivan.

Ivan menambahkan, perlunya dukungan pemerintah daerah dalam mendorong percepatan implementasi SRG terkait pembuatan kebijakan daerah, pengembangan komoditas unggulan, penguatan peran pelaku usaha, pengembangan Pasar Lelang Komoditas serta inventarisasi sarana dan prasarana Gudang SRG menjadi hal yang penting.

Sementara itu, Kepala Biro Pembinaan dan Pengembangan SRG dan PLK Diah Sandita Arisanti menegaskan bahwa upaya mempercepat SRG di Sulsel harus diawali dengan persiapan matang. “Langkah penyiapan pelaksanaan SRG yang harus dikawal oleh Pemda, antara lain penyiapan daerah, kelembagaan, kelompok tani dan pelaku usaha, serta pengajuan perizinan,” jelas Diah.

Direktur Operasional dan Pengembangan Bisnis PT KBI Saidu Solihin menjelaskan tentang peran Pusat Registrasi yang melakukan penatausahaan Resi Gudang serta manfaat tunda jual yang dapat diperoleh melalui mekanisme SRG. “SRG bermanfaat ketika pemilik barang membutuhkan likuiditas, namun belum ingin melepas seluruh stok pada saat harga belum optimal, ujar Saidu.

Sementara itu, Direktur Sumber Daya Manusia dan Hukum PT Danareksa (Persero), Andi Seto Gadhista Asapa juga mengapresiasi diselenggarakannya forum tersebut. Ia menyoroti pentingnya SRG dalam mendukung ketahanan pangan nasional.

“SRG dapat membantu petani dan nelayan dalam menjaga stabilitas harga, khususnya saat masa panen, sehingga mereka bisa mendapatkan harga jual yang lebih optimal. Oleh karena itu, diperlukan sosialisasi, komunikasi, dan edukasi yang lebih intensif kepada para pemangku kepentingan di daerah agar program SRG semakin dikenal dan dimanfaatkan secara efektif. Kerja sama antara Bappebti dan KBI akan terus diperkuat agar memberikan manfaat nyata bagi peningkatan perekonomian nasional,” ujar Andi.

Sumber: Siaran Pers Kemendag | Editor: Intoniswan

Tag: