
JAKARTA.NIAGA.ASIA – Pengelolaan limbah pangan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi aspek krusial untuk mendukung keberlanjutan lingkungan sekaligus meningkatkan nilai ekonomi.
Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Kesehatan dan Gizi Masyarakat BRIN, Basuki Rachmat menyebutkan Indonesia menghadapi tantangan besar terkait limbah pangan.
“Produksi limbah pangan di Indonesia mencapai 23 hingga 48 juta ton per tahun, yang sebagian besar berasal dari rumah tangga dan berdampak pada aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial. Karena itu, pengelolaan yang tepat menjadi sangat penting,” kata Basuki dalam webinar bertema Peran Strategis Kesehatan Lingkungan dalam Mendukung Keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) secara daring, Kamis 30 April 2026.
Oleh karena itu, lanjut Basuki, pengelolaan limbah pangan MBG perlu dioptimalkan melalui pemanfaatan teknologi mutakhir dan pendekatan ekonomi sirkular, sehingga setiap sisa makanan dapat diubah menjadi sumber daya bernilai tinggi. Menurutnya, pendekatan ekonomi sirkular menjadi solusi utama dalam pengelolaan limbah pangan.
“Prinsip reduce, reuse, recycle, dan recover harus diterapkan untuk meminimalkan limbah serta memaksimalkan pemanfaatan sumber daya. Dengan cara ini, limbah tidak lagi dianggap sebagai sisa, melainkan sebagai bahan yang dapat dimanfaatkan kembali,” ujarnya.
Basuki juga memaparkan berbagai teknologi yang dapat digunakan untuk mengolah limbah makanan menjadi energi.
“Teknologi pirolisis, gasifikasi, pencernaan anaerobik, dan hidrotermal karbonisasi mampu mengubah limbah organik menjadi produk bernilai seperti biogas, biochar, serta energi listrik,” terang Basuki.
Selain teknologi modern, dia menilai metode sederhana tetap relevan, terutama untuk skala kecil.
“Pengolahan limbah organik dapat dilakukan melalui komposting, penggunaan bioaktivator, maupun pemanfaatan larva Black Soldier Fly (BSF), yang mampu mengubah limbah menjadi pakan ternak dan pupuk,” jelasnya.
Menurutnya, pemilihan metode pengolahan harus disesuaikan dengan kebutuhan dan kapasitas.
“Setiap teknologi memiliki karakteristik, biaya, dan efektivitas yang berbeda. Karena itu, pemilihan metode harus mempertimbangkan skala, jenis limbah, serta sumber daya yang tersedia,” katanya.
Masih dijelaskan Basuki, pengelolaan limbah pangan yang optimal tidak hanya mengurangi beban lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi.
“Dengan pengelolaan yang tepat, limbah pangan dapat diubah menjadi energi atau pupuk, sekaligus menekan emisi dan meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya,” demikian Basuki.
Sumber: BRIN | Editor: Saud Rosadi
Tag: BRINLimbahMakan Bergizi Gratis