
NUNUKAN.NIAGA.ASIA– Menguatnya nilai tukar dolar AS mengerek harga jual rumput laut kering asal Nunukan ke Rp 17.000/kilogram, atau naik Rp5000 dibandingkan harga Desember 2025.
Petani sekaligus pengusaha rumput laut Nunukan, Kamaruddin mengatakan, kenaikan harga rumput laut mulai sejak bulan Maret 2026. Harga rumput laut kering ditingkat petani kampung Mamolo Nunukan Selatan sekitar Rp 15.000 sampai Rp 17.000/kilogram,” kata Kamaruddin, pada Niaga.Asia, Kamis (16/042026).
Selain dipengaruhi nilai dolar, kenaikan harga rumput turut disebabkan oleh cuaca panas di sepanjang bulan Maret hingga April, sehingga kadar kekeringan rumput laut dapat memenuhi standar .
Menurut Kamaruddin, cuaca panas terik sangat menguntungkan bagi petani dalam mempersingkat proses penjemuran dan memenuhi standar mutu. Imbas dari keadaan ini secara tidak langsung mempercepat pula petani dalam penebaran bibit maupun penjualan.
“Dolar naik jadi berkah buat kami, begitu pula cuaca panas sangat mendukung bagi petani, pemasaran rumput laut juga jadi lebih cepat,” sebutnya.
Ditambahkannya, bersamaan naiknya harga rumput laut, upah pekerja mabentang atau pengikat bibit rumput laut ikut naik dari Rp 9.000 jadi Rp10.000, begitu pekerja gesek tali dari Rp 2.000 per bentang naik jadi Rp 2,500.
Saat ini produksi rumput laut Nunukan masih dikisaran 4.000 sampai 5.000 ton per bulan, krena ditopang masih tingginya permintaan rumput laut dari Sulawesi maupun Surabaya.
“Pembeli rumput laut tambah banyak, tinggal kemampuan dari petani dan pengusaha Nunukan menyiapkan rumput laut,” ujar Kamaruddin.
Membaiknya harga jual memicu semangat masyarakat Nunukan untuk kembali menekuni usahanya, tidak sedikit petani yang sebelumnya gantung tali akibat anjloknya harga mulai lagi menebar bibit rumput.
Kabupaten Nunukan menjadi salah satu penghasil rumput laut terbesar di Indonesia.
“Kelebihan kita di Nunukan panennya berkesinambungan tiap bulan, berbeda daerah lain yang panennya musim-musiman,” terangnya.
Kamaruddin mengajak petani menjaga kualitas mutu kekeringan rumput laut karena meski memiliki produksi sangat besar, namun secara standar kualitas Nunukan kalah bersaing dengan rumput laut daerah lain.
Kenaikan harga juga perlu diimbangi dengan kesadaran petani dalam menjaga kebersihan laut dengan tidak membuang sampah-sampah botol plastik bekas pelampung rumput laut dengan bebas di sepanjang laut.
“Soal sampah botol bekas pelampung ini jadi persoalan bersama, petani harus punya kesadaran diri menjaga lingkungan, jangan sampai sampah kita merugikan orang banyak,” tutupnya.
Penulis : Budi Anshori | Editor : Intoniswan
Tag: Rumput Laut