
SAMARINDA.NIAGA.ASIA – Tumbuh kembang dan kesehatan balita dipengaruhi oleh asupan gizi dan kekebalan tubuhnya. Imunitas dan gizi balita yang baik dan diperhatikan sejak dalam kandungan berperan dalam mengurangi angka kematian bayi dan balita.
Beberapa upaya pemerintah untuk meningkatkan imunitas dan gizi balita yakni dengan program ASI Eksklusif, program imunisasi dasar gratis, dan program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) pada Ibu Hamil dan Balita.
ASI merupakan gizi terbaik untuk bayi karena kaya akan antibodi dan mengandung protein untuk daya tahan tubuh dan pembunuh kuman dalam jumlah tinggi sehingga pemberian ASI dapat mengurangi risiko kematian pada bayi.
Pada kelompok anak usia 0–23 bulan (baduta) di Kalimantan Timur (Kaltim), ada sebanyak 96,71 persen baduta pernah diberikan ASI pada tahun 2024. Angka ini kemudian menurun menjadi 95,71 persen pada tahun 2025.
Demikian dilaporkan Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim dalam Publikasi Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Kalimantan Timur 2025, yang dirilis 24 April 2026.
Menurut BPS Kaltim, penurunan ini relatif kecil dan masih berada pada tingkat yang tinggi, serta dapat dipengaruhi oleh dinamika karakteristik rumah tangga, seperti aktivitas ibu, kondisi sosial ekonomi, dan variasi sampel survei.
“Selain ASI, pemberian imunisasi juga penting dalam meningkatkan imunitas balita. Secara umum, pada tahun 2025 balita yang sudah menerima imunisasi Hepatitis B sebesar 93,29 persen, BCG sebesar 92,77 persen, Polio sebesar 93,18 persen, DPT-HB-HiB sebesar 90,21 persen, IPV sebesar 70,74 persen, dan Campak-Rubella (MR) sebesar 71,76,” ungkapnya.
BPS Kaltim memberi saran, Pemerintah perlu melakukan sosialisasi dan peningkatan program vaksinasi dasar secara lebih masif. Peningkatan perlu dilakukan mengingat masih ditemukannya beberapa kasus anak yang mengalami efek samping setelah imunisasi. Selain itu sosialisasi secara masif perlu dilakukan mengingat adanya fenomena anti vaksin, yaitu penduduk yang menolak pemberian vaksin pada keluarga.
“Gizi yang buruk pada anak erat kaitannya dengan kasus stunting dan wasting. Stunting (pendek/sangat pendek) adalah kondisi kurang gizi kronis yang diukur berdasarkan indeks tinggi badan menurut umur (TB/U) dibandingkan dengan menggunakan standar WHO tahun 2005,” ungkapnya.

Sedangkan wasting merupakan kondisi di mana berat badan anak menurun, sangat kurang, atau bahkan berada di bawah rentang normal. Stunting pada anak-anak dapat memiliki dampak serius pada perkembangan fisik, mental, dan emosional anak- anak. Ditambah lagi, balita yang menderita wasting (kurus/sangat kurus) sangat rawan terhadap penyakit infeksi dan memiliki risiko kematian lebih besar.
Stunting dan wasting menjadi suatu permasalahan karena selain dapat menghambat tumbuh kembang anak dan rentan terhadap penyakit, tetapi juga dapat mempengaruhi perkembangan otak yang membuat kecerdasan anak tidak maksimal. Hal ini nantinya akan berisiko mengurangi produktivitas seseorang pada saat dewasa.
Dalam 8 tahun terakhir, prevalensi stunting di Indonesia terus menurun secara konsisten. Namun, penurunan ini masih belum mencapai target RPJMN yang telah ditetapkan oleh Pemerintah.
Percepatan penurunan stunting pada Balita adalah program prioritas Pemerintah sebagaimana yang termasuk dalam RPJMN 2020-2024. Target nasional pada stunting pada tahun 2024 adalah prevalensi stunting Indonesia pada tahun 2024 menjadi 14 persen.
Selain menjadi target WHO dan RPJMN, penurunan angka stunting atau postur tubuh pendek juga menjadi salah satu output bidang kesehatan dari Sustainable Development Goals (SDGs), yang merupakan program kelanjutan dari Millennium Development Goals (MDGs) (Kemenkes RI, 2015). Pembahasan terkait stunting merupakan bagian dari tujuan nomor 2 SDGs yaitu Tanpa Kelaparan (Zero Hunger).

BPS Kaltim mengungkapkan, angka prevalensi stunting Provinsi Kalimantan Timur mengalami penurunan pada tahun 2024, dari 22,9 persen pada tahun 2023 (SKI) menjadi 22,2 persen pada tahun 2024 (SSGI). Angka ini lebih tinggi dari angka prevalensi stunting rata-rata nasional yang sebesar 19,8 persen.
“Penurunan prevalensi stunting ini disebabkan terjadinya penurunan prevalensi stunting pada beberapa kabupaten/kota di Kalimantan Timur. Sejalan dengan dengan prevalensi stunting, angka prevalensi wasting pada periode yang sama juga mengalami penurunan, dari 10,1 persen menjadi 8,0 persen,” katanya.
Pemerintah harus memastikan bahwa setiap warga negara memiliki kesempatan dan akses yang sama dalam memperoleh makanan yang berkualitas dengan berbagai upaya seperti menggandakan produktivitas pertanian, menjamin pertanian pangan yang berkelanjutan, meningkatkan kapasitas produksi pertanian, dan sebagainya.
“Upaya tersebut diharapkan agar masyarakat dapat memperoleh ketahanan pangan dan gizi yang baik dan berkelanjutan, serta meningkatkan taraf hidup masyarakat baik di bidang perekonomian, kesehatan, pendidikan, dan lain sebagainya,” sara BPS Kaltim.
Penulis: Intoniswan | Editor: Intoniswan
Tag: Kesehatan