Inflasi Kaltim Tahun 2025 Masih Lebih Rendah Dibandingkan Nasional

Inflasi tertinggi setiap tahun di Kaltim, termasuk tahun 2025 masih di bulan Ramadhan atau Maret-April atau bersamaan dengan hari raya Idulfitri, utamanya disumbang kenaikan harga bahan pangan. (Niaga.Asia/Lydia Apriliani)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA – Secara umum, Indeks Harga Konsumen (IHK) Provinsi Kalimantan Timur pada tahun 2025 tercatat sebesar 109,80. Angka ini menunjukkan bahwa harga konsumen atau harga eceran dari paket komoditas yang dikonsumsi rumah tangga mengalami kenaikan sebesar 9,80 persen dibandingkan tahun dasar 2022.

Nilai IHK Kalimantan Timur ini sedikit lebih rendah dibandingkan IHK nasional yang tercatat sebesar 109,92. Jika dilihat dari tingkat inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y), Kalimantan Timur mencatat inflasi sebesar 2,68 persen, juga lebih rendah dibandingkan tingkat inflasi nasional yang mencapai 2,92 persen.

Demikian dilaporkan Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Timur (Kaltim) dalam laporan “Indeks Harga Konsumen dan Inflasi Provinsi Kalimantan Timur 2025” yang dipublikasikan 22 April 2026.

Menurut BPS Kaltim, perkembangan inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) di Provinsi Kalimantan Timur sepanjang tahun 2025 menunjukkan pola yang cukup dinamis namun tetap sejalan dengan tren nasional. Kalimantan Timur sempat mengalami deflasi y-on-y sebesar 0,30 persen pada bulan Februari, yang menjadi titik terendah sepanjang tahun. Namun, setelah periode tersebut, laju harga mulai merangkak naik secara bertahap hingga mencapai puncaknya di angka 2,68 persen pada Desember 2025.

Di sisi lain, inflasi nasional juga menunjukkan tren peningkatan dari 0,76 persen di Januari menjadi 2,92 persen di penghujung tahun. Meskipun terdapat fluktuasi, tingkat inflasi di Kalimantan Timur sepanjang tahun 2025 terjaga dalam rentang kendali, sesuai dengan target sasaran pemerintah yakni 1,5 hingga 3,5 persen.

“Jika ditelusuri lebih rinci, inflasi bulanan (month-to-month/m-to-m) di Provinsi Kalimantan Timur sepanjang tahun 2025 menunjukkan pola pergerakan yang cukup fluktuatif, meskipun secara umum berada pada tingkat yang relatif rendah. Pola ini menyerupai tren nasional, dengan 8 (delapan) bulan mengalami inflasi dan 4 (empat) bulan mengalami deflasi. Kondisi ini mencerminkan dinamika harga yang cukup aktif di tingkat konsumen,” demikian BPS Kaltim.

Tahun 2025 dibuka dengan deflasi yang cukup signifikan di Provinsi Kalimantan Timur. Pada Januari 2025, tercatat deflasi m-to-m sebesar 1,00 persen, yang sekaligus menjadi titik deflasi terdalam sepanjang tahun 2025. Angka ini jauh lebih dalam dibandingkan capaian deflasi nasional yang sebesar 0,76 persen. Penurunan indeks harga yang tajam ini merupakan dampak langsung dari efektivitas berbagai instrumen stimulus ekonomi pemerintah di awal tahun.

BPS Kaltim mengatakan, faktor utama pendorong deflasi terdalam ini adalah kebijakan subsidi tarif listrik sebesar 50 persen yang memberikan andil deflasi sangat dominan sebesar 1,60 persen.

“Selain sektor energi, penurunan harga juga terjadi pada kelompok transportasi, khususnya angkutan udara dengan andil deflasi sebesar 0,09 persen. Kondisi ini didukung oleh Program Diskon Tiket Transportasi berdasarkan SKB 4 Menteri/ Kepala Badan Tahun 2025 yang berlaku hingga 10 Januari 2026, berbarengan dengan normalisasi permintaan (low season) pasca-puncak libur akhir tahun,” papar BPS Kaltim.

Memasuki bulan Maret 2025, tren harga berbalik secara tajam. Kalimantan Timur mencatatkan laju inflasi m-to-m tertinggi sepanjang tahun 2025 sebesar 2,02 persen, melampaui inflasi nasional yang berada di angka 1,65 persen. Lonjakan ini utamanya dipicu oleh penyesuaian kembali tarif listrik ke harga normal pasca-berakhirnya periode subsidi, yang memberikan andil inflasi sebesar 1,34 persen.

Selain faktor energi, tekanan inflasi juga bersumber dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil sebesar 0,64 persen. Kenaikan ini didorong oleh peningkatan konsumsi masyarakat selama periode Ramadan dan Idulfitri, yang memicu kenaikan harga pada berbagai komoditas pangan utama seperti cabai rawit, ikan layang, udang basah, bawang merah, ikan tongkol/ikan ambu-ambu, dan jagung manis.

Menurut BPS Kaltim, setelah melewati puncak inflasi di bulan Maret, pergerakan harga di Kalimantan Timur mulai menunjukkan pola yang lebih moderat pada bulan-bulan berikutnya.            “Meskipun sempat terjadi fluktuasi kecil, laju inflasi bulanan pasca-Lebaran cenderung melandai, bahkan kembali mencatatkan deflasi pada bulan Mei sebesar 0,35 persen dan Agustus sebesar 0,40 persen. Hingga penghujung tahun, inflasi di Kalimantan Timur ditutup pada level yang stabil dengan kenaikan sebesar 0,71 persen di bulan Desember.”

Penulis: Intoniswan | Editor: Intoniswan 

Tag: