Kaltim Genjot Swasembada Pangan Lewat Sistem LEISA dan Smart Farming di Kukar

Kick off peningkatan produktivitas pangan strategis di Anggana, Kutai Kartanegara. (niaga.asia/Nur Asih Damayanti)

ANGGANA.NIAGA.ASIA — Pemprov Kalimantan Timur bersama Bank Indonesia (BI) resmi meluncurkan Demonstration Plot (Demplot) sistem Low External Input Sustainable Agriculture (LEISA), atau pertanian berkelanjutan di Kecamatan Anggana, Kutai Kartanegara (Kukar).

Upaya ini diambil untuk memacu target  swasembada pangan di Kaltim sekaligus menekan laju inflasi pada komoditas beras dan cabai, yang selama ini menjadi momok ekonomi daerah.

Kepala Dinas Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) Provinsi Kaltim Fahmi Himawan menerangkan, Kaltim saat ini tengah berproses untuk melepas ketergantungan pangan dari luar daerah, terutama beras dan cabai, yang sering didatangkan dari Sulawesi dan Jawa.

“Selama ini kita dikenal sebagai lumbung energi, tapi perlahan kita ikuti program pusat untuk menjadi lumbung pangan. Demplot ini penting untuk memenuhi target swasembada, baik padi maupun cabai,” kata Fahmi di Kantor Desa Sidomulyo, Anggana, belum lama ini.

Selain mendukung terciptanya ketahanan pangan, Kaltim juga berupaya untuk mengendalikan inflasi di daerah. Dengan adanya produksi lokal yang stabil, fluktuasi harga komoditas strategis dapat diredam melalui sistem pertanian berkelanjutan (LEISA) dan pertanian digital (digital farming)

“Maka kita perlu pastikan demplot-demplot (penyuluhan pertanian) yang ada ini memenuhi aspek ekonomi, sosial dan lingkungan, sehingga petani kita di beberapa daerah tertarik untuk me-replikasikan-nya,” jelas Fahmi.

Melalui sistem pertanian berkelanjutan dan digital farming ini, ditargetkan angka produktivitas padi dan cabai dapat meningkat di atas rata-rata.

Menurut Fahmi, saat ini hasil panen cabai di Kaltim rata-rata mencapai 4,1 ton per hektar, sementara di Kukar sedikit lebih tinggi di angka 4,2 ton per hektar. Untuk mencukupi kebutuhan warga yang mencapai 1.300 ton, pemerintah pun masih mengandalkan gabungan pasokan dari petani lokal dan kiriman dari luar daerah.

“Untuk padi sendiri, dengan penerapan demplot ini mencapai 6 ton per hektar, hasil panennya meningkat dibandingkan rata-rata. Kemudian juga masa panen bisa meningkat 3 kali panen dalam setahun,” terang Fahmi.

Sementara, Ketua Tim Kebijakan Ekonomi dan Keuangan Daerah (KEKDA) BI Kaltim, Abraham Wahyu Nugroho menjelaskan, cabai merupakan salah satu komoditas utama penyumbang inflasi di Kaltim.

Untuk itu diperlukan sistem pertanian berkelanjutan dan penerapan teknologi pertanian digital, sehingga produktivitas meningkat dan inflasi terkendali.

“Jadi kita hadir untuk meningkatkan produktivitas cabai dan padi agar meningkatkan produktivitas padi dan cabai, supaya stoknya mencukupi dan harganya tidak naik. Sehingga masyarakat Kaltim bisa membeli dengan harga yang wajar,” kata Abraham.

Dijelaskan, sejak tahun 2025, BI Kaltim bersama pemerintah hadir memberikan bantuan alat digital pertanian seperti drone spray untuk membantu semprot sawah dalam waktu singkat.

“Dengan menggunakan alat drone ini, berhasil membantu gabungan kelompok tani (Gapoktan) menghemat waktu dalam penyemprotan pestisida dan pupuk cair 50 kali lipat, yang biasanya waktu penyemprotan memakan waktu 5-6 jam per hektar, menjadi 8-10 menit saja per hektarnya,” demikian Abraham Wahyu Nugroho

Penulis: Nur Asih Damayanti | Editor: Saud Rosadi

Tag: