
TENGGARONG.NIAGA.ASIA – Ketua DPC PDI Perjuangan Kukar, Rendi Solihin, menegaskan bahwa PDI Perjuangan merupakan partai pemenang Pileg dan Pilkada Kukar 2025-2030. Kemenangan tersebut bukan sesuatu yang datang begitu saja, melainkan hasil kerja keras kader militan di lapangan bersama partai koalisi.
“Yang mengantarkan kami menjadi kepala daerah adalah kerja-kerja dari para kader PDI Perjuangan bersama partai koalisi, bukan partai lain yang hari ini merasa memiliki kepala daerah setelah Pilkada selesai,” ujarnya di hadapan peserta Musyawarah Anak Cabang PDIP se-Kabupaten Kutai Kartanegara di Gedung Putri Karang Melenu, Sabtu (25/4/2026).
Wakil Bupati (Wabup) Kukar dua periode ini bahkan mempersilakan publik untuk dapat memeriksa data resmi di KPU sebagai bukti legitimasi pencalonan.
“Silakan dicek di KPU Kukar, PDI Perjuangan yang mendaftarkan pasangan kepala daerah hingga menjadi pemenang,” jelasnya.
Politisi muda itu juga mengapresiasi militansi kader yang disebutnya menjadi faktor utama kemenangan, bahkan hingga tahapan Pemungutan Suara Ulang (PSU).
“Kemenangan ini bukan hadiah. Ini hasil perjuangan saudara-saudara yang tidak mengenal waktu, tenaga, bahkan harus meninggalkan keluarga demi kemenangan bersama,” terangnya.
Pernyataan Rendi kemudian diperkuat juga oleh Wakil Ketua Bidang Ekonomi Kreatif dan Ekonomi Digital DPD PDI Perjuangan Kaltim, Muhammad Samsun, yang melontarkan kritik lebih tajam terhadap partai lain.
Ia menyebut PDI Perjuangan sebagai partai yang sangat ‘gentle’ karena siap berada di luar pemerintahan ketika kalah, berbeda dengan partai lain yang dinilai selalu ingin dekat dengan kekuasaan.
“PDI Perjuangan ini partai yang gentle. Kalau kalah, kita siap di luar pemerintahan sebagai penyeimbang. Tapi partai lain belum tentu siap,” tegasnya.
Samsun bahkan menggunakan istilah ‘partai bebek’ untuk menggambarkan pihak yang dinilainya tidak bisa lepas dari kekuasaan.
“Kalau bisa masuk kabinet ya masuk, walaupun kalah. Kalau bisa ambil kekuasaan ya diambil. Itu yang membedakan prinsip kita dengan mereka,” sindirnya.
Meskipun melontarkan kritik keras, Samsun menegaskan bahwa PDI Perjuangan tidak menjalankan politik balas dendam. Legislator Karang Paci itu menyebut partainya tetap berkomitmen menjadi penyeimbang ketika berada di luar kekuasaan.
Namun, Samsun mengingatkan bahwa PDI Perjuangan akan berada di garis depan jika kekuasaan dinilai menyimpang dari kepentingan rakyat.
“Kalau penguasa keluar dari rel dan tidak mensejahterakan rakyat, PDI Perjuangan akan menjadi yang terdepan untuk mengoreksi,” tuturnya.
Pria kelahiran Jember ini juga menekankan pentingnya kader untuk terus hadir di tengah masyarakat, termasuk merespons langsung aspirasi maupun aksi protes warga.
“Didemo, temui. Itu rakyat kita. Tidak boleh jauh dari rakyat,” pesannya.
Muscab PDI Perjuangan Kukar kali ini tak hanya menjadi forum konsolidasi internal, tetapi juga memunculkan sinyal politik yang kuat terkait dinamika pasca-Pilkada. Di akhir acara, Rendi mengajak seluruh kader untuk tetap solid dan meningkatkan militansi partai.
“Kita buktikan bahwa Banteng Kukar tidak melemah. Justru semakin solid dan semakin kuat,” serunya, disambut yel-yel “Merdeka!” dari para kader.
Penulis: Lydia Apriliani | Editor: Intoniswan
Tag: PDIP