Memungut Ingatan Memori Wajah Kota Tepian Melalui Pameran Samarinda Graphic

Salah seorang pengunjung melihat seksama gambar grafis yang dipamerkan dalam pameran Samarinda Graphic, Kamis 17 April 2026. (niaga.asia/Nur Asih Damayanti)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA — Deretan ilustrasi angkot, patung pesut di kawasan Tepian, hingga bayang-bayang Bandara Temindung Samarinda hadir menghiasi setiap sudut gedung Samarinda Design Hub (SDH).

Sekitar 200 karya dari 20 kreator lokal digandeng untuk mengajak masyarakat Samarinda dari berbagai generasi melintasi lorong waktu, menengok kembali wajah kota Samarinda tempo dulu.

Pameran ini bermarkas di Studio Jinantara, yang letaknya berdampingan dengan Toko Griya Karpet Salma Shofa, Sempaja, di Komplek Perumahan TVRI, Jalan Wahid Hasyim II, Samarinda.

Di ruang pameran itu, wajah kota Samarinda tidak ditampilkan melalui potret kamera yang kaku, melainkan lewat sentuhan desain ilustrasi digital yang kaya akan memori.

​Gelaran ini merupakan pameran ketujuh yang digagas oleh Ramadhan S. Pernyata, setelah sebelumnya sukses dengan berbagai tema yang berbeda. Kali ini, tajuk yang diangkat adalah Graphic Memoir Exhibition (Pameran Memoar Grafis) 2026.

Pameran ini menjadi pengingat berharga bagi generasi milenial, Gen Z, hingga Generasi Alpha yang sebagian besar mungkin belum sempat merasakan suasana atau kebiasaan lama warga Samarinda yang kini mulai sirna.

Founder Samarinda Design Hub, Ramadhan S. Pernyata. (niaga.asia/Nur Asih Damayanti)

Ramadhan S. Pernyata, yang juga Founder SDH, sekaligus seorang akademisi, praktisi desain, dan juga ilustrator, menjelaskan, karya yang ditampilkan sangat beragam. Mulai dari relasi keluarga, kuliner khas, masa kecil, hingga dinamika perubahan ruang kota yang drastis.

Gambaran Samarinda hadir dalam bentuk ilustrasi naratif, komik, hingga cerita bergambar. Berlangsung sejak 11 April hingga 19 April 2026, pameran ini sendiri tidak gratisan. Pengunjung mesti membayar tiket terlebih dahulu sebesar Rp25 ribu yang bisa dibayar melalui tunai, maupun transfer.

​”Samarinda bisa dikenal melalui makanannya, bukitnya, jalannya, hingga Sungai Mahakam. Salah satu tujuannya adalah mengenang Samarinda dan memberi pemahaman bahwa kota ini bukan cuma soal modernitas,” kata Ramadhan, saat ditemui di lokasi pameran, Kamis 16 April 2026.

Pameran ini menjadi spesial karena sebelumnya SDH sukses menembus angka 800 pengunjung. Melalui karya-karya ini, publik diingatkan kembali pada moda transportasi zaman dulu seperti Angkutan kota (Angkot), dan taksi jamban yang mulai tergerus zaman.

Di dalamnya juga terekam potret warung-warung kecil yang kini mulai terhimpit minimarket modern. Selain itu, pengunjung bisa melihat rekam jejak bangunan yang telah beralih fungsi.

Seperti Bandara Temindung yang kini menjadi Temindung Creative Hub, hingga taman Tepian Mahakam dengan patung pesut ikoniknya, berada di depan Kantor Gubernur Kaltim yang kini telah berganti rupa menjadi Teras Samarinda.

Pameran ini menampilkan 200 karya dari 20 kreator lokal yang menggambarkan suasana dan sudut kota Samarinda lintas generasi. (niaga.asia/Nur Asih Damayanti)

Tak hanya bangunan besar, detail kehidupan sehari-hari pun terekam, seperti keunikan Jalan Raudah yang menggambarkan harmoni antara masjid dan tempat peristirahatan terakhir (pemakaman).

Ada pula visualisasi Kampung Ketupat, Kampung Tenun, hingga Masjid Tua. Memori tentang Sungai Karang Mumus masa lampau tempat warga mencuci baju dan mandi, serta gambaran atraksi Tong Edan di pasar malam, yang menjadi hiburan masyarakat sebelum adanya mal dan pusat perbelanjaan modern lainnya pun tak luput dari goresan para kreator.

“Dulu hiburan masyarakat pergi ke pasar malam, melihat tong edan melakukan atraksi motor, hingga komedi putar. Sekarang hiburan rakyat ini perlahan mulai terkikis karena adanya mal,” ungkap Ramadhan.

Dari 300 karya yang mendaftar, kurator memilih 200 karya terbaik yang sesuai dengan tema. Partisipannya pun lintas usia, dengan peserta termuda berumur 17 tahun dan tertua 40 tahun. Setiap tahunnya, SDH konsisten membawa tema berbeda dengan total pengunjung menembus 800 orang setiap pameran yang berlangsung.

“Kami setiap tahun mengadakan tema berbeda. Sebelumnya ada komunikasi visual, grafis, dan desain produk interior. Sekarang fokus ke desain komunikasi visual dengan output-nya ilustrasi,” jelasnya.

Sejak berdiri tahun 2020, SDH telah menjadi wadah kreatif yang diperhitungkan. Bahkan pada 2024, pameran mereka masuk dalam pameran sub nasional, yang diikuti oleh peserta dari 7 provinsi dan 14 kota, sehingga menjadikannya pameran ilustrasi terbesar di Kalimantan Timur.

Ke depan, pameran kota Samarinda ini akan terus berlanjut dengan menampilkan tema yang berbeda-beda yang dilaksanakan setiap tahun, menyambut hari jadi Samarinda dan HUT RI 17 Agustus.

Pameran ini berlangsung sejak 11 April 2026 dan berakhir 19 April 2026 nanti. (niaga.asia/Nur Asih Damayanti)

“Selanjutnya di 2027, kami berencana membuat tema menggambar 59 kelurahan di Samarinda agar ada ceritanya. Kami ingin menjaring aspirasi warga terhadap kotanya,” paparnya.

Ramadhan, pria tinggi tegap dan berkacamata itu telah mengasah kemampuannya di bidang desain dan seni menggambar sejak 20 tahun silam. Kecintaan masa kecil dalam menggambar itulah yang kemudian melahirkan deretan tulisan visual seperti Jurnal Tepi Mahakam, Risalah Tepi Mahakam, hingga Memoar Tepi Mahakam.

Dosen muda Politeknik Negeri Samarinda itu memprakarsai komunitas ini, karena punya keresahan besar soal desain di kota tercintanya, sehingga SDH hadir menciptakan industri desain di Samarinda dengan konsen menghadirkan karya-karya desain yang ciamik.

“Harapannya anak muda Kaltim lainnya juga dapat bisa melestarikan karya seni daerah dan tidak hanya menjadi penonton, melainkan pelaku utama yang menjaga identitas visual Samarinda,” demikian Ramadhan S. Pernyata di akhir penjelasannya.

Penulis: Nur Asih Damayanti | Editor: Saud Rosadi

Tag: